TERPERANGKAP KAH AKU?
Siang itu aku hadir di ruang kecil, panas, dan tak ada lubang angin besar.Hanya sesekali aku lihat sinar stitik. Penat dan aku benar-benar ingin ke luar. Kali ini bukan seperti dua hari yang lalu aku bisa pergi ke mall atau nonton di bioskop. Sesekali ku pandang ke luar langit mulai mendung, apakah akan turun hujan?
Ketukan pintu di depan membuatku semakin pusing,hari ini aku berjanji pada Ela, kalau aku mau bantu dia mencarikan data-data di perpustakaan pusat, tetang penelitiannya. Judulnya itu yang aku nggak nguatin “Pentingnya Mengosongkan Jiwa”, jiwa ku aja begini apa lagi dikosongkan. Belum saja selesai omelan hatiku, kemudian ku buka pintu, sesaat aku terdiam bisu menatap tamu yang datang, buka Ela, itu yang kubingungkan
Ada Intan nya? Tanya sang tamu
Aku tersadar seperti terbius lokal
Oh ada silakan masuk
Si tamu segera duduk dan aku bergerak ke belakang memanggil Intan
Aku masih terdiam di kamar, apakah Ela membatalkan ajakkannya, belum saja pertanyaan ku usai, HP ku berbunyi
Sef, aku nggak jadi ke pepustakaan ya
Kenapa non? tanyaku heran
Biasa, tiba-tiba Mas Gusti minta ditemenin ke bioskop
Dasr lu, ga bisa nolak sama pacar lu, padahal tugas itu kan penting, tapi terserah lu penting ga nya kan di kamu, jelasku panajang lebar
Ya mau gimana lagi, oce c u Sef
Dasar wanita apa itu saja masalahnya kalau sudah diajak ke tempat tertentu akan mau, kemudian menomor seratuskan yang lain, sudah ah toh itu urusan Ela. Maklum Ela baru jadian ama pacarnya. Aku segera beranjak ke rak buku di bagian depan ruang tamu, belum saja aku tuntas mencari, aku memandang seorang pria duduk terdiam, pikirku bukan kah ini tamu adik nya Intan, mengapa belum pulang, masih di sini?
Intannya belum nemuin kamu?
Sudah kok mbak, tapi Intan lagi cari bukunya di dalam
Oh, silakan diminum airnya, aku sedikit canggung
Pria itu masih terdiam di depan sebuah buku, aku masih mencari buku yang kuperlukan, dari sisi kiri, kanan, atas, dan bawah tidak ku temukan
Cari buku ini mbak?
Aku melirik ke pria itu
Ya bener
Oh ini mbak, buku itu dijulurkan padaku
Mbak suka baca buku ini?
Ya, kalau kamu?
Aku Rinto, pria itu mengenalkan diri
Ya saya, Sefina
Ya begitu lah saya sambil ngajar meneliti juga
Oh gitu mbak
Kamu teman kerja Intan?
Nggak mbak, sepupu saya teman dekat Intan
Oh, gitu
Aku masuk ke dalam ya, pamitku
Ya mbak
Lama sudah perkenalanku dengan Rinto, suatu ketika aku berjalan di koridor kampus aku berpapasan dengan Rinto, kami mulai berbincang dan akrab tidak seperti sebelumnya. Rupanya sepupu Rinto pacar Intan adikku. Rinto rupanya seorang dokter yang lagi meneliti juga. Sehingga beberapa kali dia ke kampus untuk sekedar melihat perkembangan dunia kampus, serta mengumpulkan data.
Sering kali aku abaikan tugas ku yang lain, sambil aku mengajar di kampus, aku membantu temanku untuk mengajar di SD. Aku banyak belajar dari dunia anak,meski aku hanya dua hari di SD, namun aku temukan dunia kepolosan, yang jujur, dan menyapaku apa adanya. Pernah suatu ketika Geo anak kelas 4 A tidak mengaerjakan PR, kuberi tugas tambahan, kemudian dia tidak mengerjakan, sampai berkali-kali tugas kuberi namun diabaikannya, lalu aku berkata, dari ke hati. Aku lebih takjub Geo mau mencoba mengerjakannya satu per satu, betapa seorang Geo, ku kira dia benar-benar mengabaikannya. Aku belajar bersabar dan bersabar, bayangkan biasanya aku mengahadapi mahasiswa yang sudah besar dan harus tanggung jawab dengan nilainya,s ekarang harus aku yang benar-benar turun tangan.
Bahkan suatu ketika ada seorang anak marah padaku dikira aku membela temannya, dia benar-benar kesal padaku, aku juga sedikit cuek, karena buatku birakan saja dia demikian. Keesokan harinya dia normal dan kembali tertawa. Anak-anak tetap anak-anak dia mau melupakan apa yang telah berlalu. Bahkan ketika mereka bertengkar dan saling menangis satu hari saja namun hari kemudian aku menatap tawa mereka bahkan gandengan tangan dengan teman- teman mereka.
Aku menyukai duniaku saat ini, namun sering kali juga aku hampir bosan berkutat pada itu-itu saja, sesekali menonton bioskop meski sendiri aku jalanai walau kata Ria temanku terkesan garing dan tidak enak.
Pernah dua tahun yang lalu aku masuk pada dunia kerja berbeda dengan dunia pendidikan, sehari saja aku masuk kemudian aku ke luar. Aku pikir bisa seperti Intan adikku, jurusan komunikasi bisa masuk kerja ekspor-impor, padahal jauh sekali, namun tidak bisa disamakan seperti aku.
Suatu ketika aku masih di gerbang sekolah tempat ku mengajar, baru saja aku mau ke luar aku berjumpa dengan Rinto
Loh mbak ngajar di sini juga?
Ya dan kamu?
Ponakan ku sekolah di sini
Oh begitu
Namun belum ke luar nih, gimana kalau kita minum di kantin?
Oh boleh
Lama kami berbincang-bincang, semua tugas Rinto dan apa tugasku. Bahkan sebutan mbak buatku mulai dihapusnya, nama ku sudah berani disebut. Ya kami mulai akrab. Sama seperti teman-teman yang lain.
Suatu hari ada rangkaian bunga di depan rumahku, ku baca untuk ku
Dari Rinto
Selamat ulang tahun ya, suskes
Aku terkejut, karena hanya Rinto yang mengucapkan kata itu, oraang-orang rumah saja belum ngucapin. Aku masih bergerak ke kampus, di kampus pun tak ada suasana meriah dan gembira mengucapkan selamat ultah, berbeda dengan Beti teman ku ultah semua ruangan dihiasi dengan ucapan selamat. Namun aku senyap, namun aku cuek dan melakukan aktivitas ku Ucapan dari Rinto pun hanya lewat bunga. Ya sudah ku pikir.
Aku pulang sedikit malam, aku tidak menemukan siapa pun, menurut pesan mama, Intan, dan papa lewat sms tadi siang ,mereka ada tugas di luar, sehingga pulang larut malam. Sesudah aku mandi segera kusetel televisi, namun aku mendengar suara agak aneh dari luar, atau kah ada pencuri?tahu aku sendiri jadi diserang ku pikir, suara televisi ku kecilkan, namun hatiku makin dag dig dug. Aku memberanikan membuka pintu dan memegang sebuah kayu. Baru saja aku buka pintu, kemudian
Selamat ulang tahun kami ucapkan….
Lagu itu meriah dinyanyikan oleh murid-muridku, papa, mama, Intan, dan Rinto, sambil membawa kue tart, aku bahagia sekali rupanya mereka membuat kejutan. Mereka semua memelukku dan mengucapkan selamat, tak ketinggalan Rinto, dia paling malu, karena agak sulit memluk orang yang belum ku kenal. Tetapi kecupan di pipi diberikan Rinto padaku, dan bisikan selamat ucapan selamat ulang tahun yang kedua di ucapkannya. Malam itu membuatku sangat berbeda, tidak seperti di dalam ruang pengap. Seperti di alam bebas yang aku bisa tumpahkan, rupanya dunia ku nggak sempit, seperti aku pikirkan. Duniaku semakin ramai dan riuh apalagi sejak Rinto memutuskan untuk bertunangan denganku, ya, bulan depan kami akan bertunangan. Aku putuskan untuk tidak kembali ke kampus, aku lebih memilih mengajar anak-anak SD. Dunia ku tambah semarak dan pasti indah.
Selasa, 12 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar