Sabtu, 20 April 2013

malam

malam
tidak ada jawab dengan gelap
tidak ada luka di sana
namun ada harapan menanti pagi

Minggu, 09 Oktober 2011

aku bukan Aku

aku lemah,,,datanglah pada KU
aku remuk redam.....Aku dekat dengan orang patah hati
aku lapar,,,,,,datanglah pada rotiKu
aku haus.....minumlah airKU
aku bukanlah Aku
aku kecil bagai serpihan
Aku pemilik hidup aku
oh Tuhan jawabnya ada padaMu
meratap dan merana hanya Kau jawabanya
apalagi yang tak Aku punya
selamat bertemu dengan Ku anakKU

Minggu, 23 Mei 2010

si tambun..

tubug gemuk dan rupawan berjalan merayap di tengah hari..pipimu sudah ta tak berbentuk, tulang pipi,lehermu tak kelihatan lagi, baju mu pun ku lihat sesak, pinggang mu makin sulit dimasukkan celana..oh tubuh tambunnn kapan kau akan merasa kurus itu indah..lemak, karbohidrat..menumpuk di tubuhhh ohhhh kegendutan,nafas pun sesak berjalanpun susah..wow,.timbanganmu pun,,,kapan akan turun berat badannn(segera,,,,)

Selasa, 27 April 2010

pernahkah

ketika sepi menghardik maka detak jantung berdetak maka di sinilah aku tak dapat menjawab tanya sang waktu,usia? perlahan jalan-jalan menikung, menanjak dan kadang-kadang hampir tergelincir.
hari ini sama kah dengan kemarin?menjawab sapa mu yang tak bertepi,melawan derasnya arus.Bersyukur ada hidup ini.merana di tepi kesendirian mau bertanya pada siapa?mau menagdu pada siapa?hanya harapan di tengah gurun panas...masihkah ada asa dan mimpi terwujud..di lereng hati dan rongga kehidupan ada perasaan menanti..namun belajar yakin akan masa depan..semua ku tatap dengan sedikit memicingkan mata..oh..angin bawa aku ke dalam pelukan hangat pengahrapan..pelukan kebahagian selamanya..tak pernah usang dan tergores waktu,aku menanti mu,dengan scuil kerinduan,menepi, menanti, dan lipatan tanganku menegadah kepada Sang Pemberi Hidup..mari semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberi kelegaan padaMU..selamat berharap..dan menanti sebuah masa yang kekal...

Selasa, 27 Oktober 2009

pacaran jarak jauh

kalo cinta diungkapkan dari jauh
aku kah itu
dikau disana
hanya menunggu waktu
aku cinta nun jauh disana
disana?
adakah?
selama itu juga aku menunggu
berharap
meski terkadang jujur aku bosan dan jenuh
namun cinta itu terus bertahan akan kah dirimu?

Rabu, 09 September 2009

perihhh

luka itu ada menganga lebar
namun aku tahu belajar hanya kata itu
sedih dan perih
10/9/09

Selasa, 12 Mei 2009

asyiknya

HIDUP TERUS BERJALAN
Sampai kapan akan berjalan seperti ini , aku tidak tahu. Aku mendapat hadiah bogem mentah tamparan dari mama tiriku pagi ini, lagi-lagi aku tak masuk kuliah, aku malu karena setiap kali wajahku biru, semua teman bertanya mengapa aku bisa begitu hanya kasihan saja mereka, bahkan aku diduga dihajar Koko pacarku, padahal bukan Koko, dia orang yang sabar, bahkan aku menghindar jika ditanya macam-macam. Makin banyak mala petaka dalam hidupku, aku sepulang kuliah harus bekerja menjadi kasir di rumah makan di jalan Kesehatan. Pulang ke rumah jam 23.00, sesampai di rumah harus mendengar jeritan mama tiriku, mama yang melahirkan ku juga tidak ku ketahui, papa tiriku sesekali pulang ke rumah, karena harus ke rumah istri yang lain, sering kali malam aku tidak bisa tidur, terus terang sudah ku minum semua vitamin dan susu agar gemuk namun berat badanku selalu saja turun. Entah mengapa, sesekali ku pandang foto ku dengan seorang wanita tua, dia bukan mamaku, namu dia yang merawat ku. Dia sudah kuanggap ibu, wanita yang lain aku tidak tahu. Malam itu seperti biasa mama tiriku menjerit dan berteriak minta dibantu berjalan, karena kegiatan di malam hari mabuk, aku segera membantunya meletakkannya di tempat tidur, kemudian aku berjalan menuju kamarku. Namun seperti biasa dia masih menjerit, namun beberapa saat saja kemudian tidur.
Jika pap tiriku datang pasti kucuekin saja, malam itu dia datang. Aku tetap di dalam kamar
Belum tidur Sha?
Belum jawabku cuek
Papa tiriku mulai mebuka pintu kamarku, sebenarnya aku heran mengapa dia aneh sepeti ini, aku tetap bertekun saja di depan buku ku, namun seketika itu juga tubuh ku ditarik papa tiriku ke tempat tidur aku meronta ingin menjerit takut mama tiriku bangun namun tetap aku berusaha ke luar kamar, pria gila itu kuat sekali, memaksa ku untuk membuka bajuku.
Jika kamu teriak dan bilang mama mu, aku tidak membiayai rumah ini dan kuliahmu
Namun aku tidak peduli segera aku bergerak namun, aku dihajar dan pingsan, malam itu ada kesedihan dan kehancuran buatku, papa tiriku berbuat sekejam itu padaku. Setelah aku sadar, aku melihat semua berantakan, semua bajuku berhamburan. Malam itu kuputuskan untuk ke luar dari rumah dan pergi entah ke mana. Orang yang kukunjungi Koko, aku cerita apa adanya sekaligus untuk pamit entah ke mana, Koko berniat membantu ku mengantarkan pada saudaranya, namun aku menolak dan aku segera pergi. Ku lihat jam di tangan ku menunjukkan pukul 04.00. Ku lihat Koko meneteskan air mata, selama pacaran dengan dia baru kali ini dia menangis, entahlah aku tidak mau menatapnya, aku pasti menangis keras.
Aku menaiki bus memang tidak berAc, karena uangku terbatas. Selama di bus, tak henti-hentinya air mata mengalir, aku masih senang kuliah, aku masih senang bekerja di warung makan, aku masih cinta pada Koko, namun rupanya kisah hidup tak penuh cinta. Aku lelah dan terlelap dalam tidur, karena lelah menangis.
Mbak dah nyampe terminal
Ada suara yang membangunkanku, segera aku bangun, dan ke luar. Aku sangat ingat tempat yang kutuju, karena aku tidak bisa terlepas dengan satu orang ini.
Bu, lagi apa
Sapaan ku membuat seorang wanita tua menengok ke aku
Loh kamu dik, sini Ibu kangen
Kami berpelukan, aku tidak akan melepas pelukan hangat itu, dia wanita yang kuanggap ibuku dalam foto. Aku tidur dipangkuannya
Dah dik jangan sedih ya, yang penting kamu dah di sini, lalu mama mu ga menghubungi kamu
Nggak perlu kayaknya bu
Kamu harus kabari kamu ada dimana dik
Ga perlu
Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang sudah berkerut, aku tidak henti-hentinya menangis
Dah dik kamu jangan nangis, ntar ibu juga sedih
Bu aku sayang ibu
Lah ibu juga dik
Aku disebut dik karena itu panggilan sayang ibu punya anak laki-laki namanya Hendra, tinggal sama ibu juga dia di panggil mas, lalu karena aku dianggap adiknya, sehingga aku disebut adik.
Siapa bu yang datang
Sapa mas hendara menuju arahku
Ini adik mu
Eleh si tengil ya
Rambutku diacak-acak seperti biasa, namun aku segera menghapus air mataku ingin menjabat tangannya
Dah mas, adik lagi sedih
Lah kenapa kamu
Nggak kok
Mas hendra sangat memahami ku dia kakak yang baik.
Dah sana mandi, ikut mas
Ke mana mas
Udah pasti kamu suka
Mau ke mana mas, Tanya ibu
Ke alun-alun kok bu
Segera aku mandi dan dandan keren, aku paling suka kalau nongkrong di alun-alun apalagi motor-motoran dengan mas Hendra, serasa stress hilang.
Aku dan mas Hendra menikmati jagung bakar, sambil cerita dan tertawa bersama, kemudian tiba-tiba seorang cewek mendekati kami
Eh Ras, gabung sini
Ini Shabrina dari Jakarta
Oh ini Shabrina
Shabrina
Saras
Dari mana Ras?
Dari rumah sakit nengok nenek
Sakit ya, masuk tadi pagi, lalu lagi pesen jahe untuk mas Ipung, ntar malam dia mau jaga nenek
Oh gitu, duduk sini dulu
Aku buru-buru mas
Aku duluan ya Sha
Oh ya mbak
Kamu nyetir sendiri
Ya mas
Hati-hati ya
Dia nggak marah mas kita berdua, Tanya ku penasaran
Sha..Sha kayak SMA aja cemburuan, kita pacaran dah lama Cuma belum nikah-nikah aja
Kami tertawa bersama. Aku akhirnya memberanikan diri cerita ke mas Hendra tentang kisahku, setelah di rumah, lagi-lagi aku menangis,ibu memelukku, karena aku dah menangis sejadi-jadinya. Malam itu aku lega ada saudara-saudara yang mau mendengarkan meskipun aku tidak tahu siapa mereka. Namun yang pasti mereka mencintaiku.
Hari ini aku bekerja, pacarnya mas Hendra menawarkanku mengawasi usahanya di toko butik, aku suka sekali, mbak Saras baik sekali. Aku masuk kerja jam 08.00 pulang jam 16.00, wah indah sekali hidupku, aku menikmati hari-hariku. Setiap harinya aku bisa makan maskan ibu. Aku seperti di dunia baru dan aku hampir lupa dengan kejadian sedihku.
Sebuah sms masuk ke HP ku
Sha, mama mu masuk rumah sakit dua hari lalu, sekarang tubuhnya stroke pulang dulu
Aku bingung siapa pengirim sms itu, aku meneleponnya
Halo ini siapa?
Kamu lupa sama aku
Hei Koko
Ya, apa kabar
Baik
Mama ku stroke, kemarin aku dan Lala ke sana
Lalu?
Ya pulang lah
Kayaknya nggak Ko
Loh gimana sih?mama mu menyebut nama mu
Aku nggak peduli Ko
Kemudian kututup telepon.
Sapa yang stroke dik? Tanya ibu
Nggak ada bu
Dik, jangan bohong sama Ibu
Aku segera ke kamar dan menutup pintu
Dik Ibu mau ngomong
Aku membukakan pintu
Dik kalau memang mama mu sakit pulang dulu sana
Nggak bu
Aku masih menangis
Ntar mas Hendra antar
Nggak mau
Dik siapa pun orang yang pernah dekat mu itu orang-orang yang dipilih untuk kamu, jadi kamu harus hormat.
Aku menangis dan memeluk ibu
Meskipun kamu masih terus bertanya pada siapa kamu patuh, jawabnya semua orang dik, bukan pada orang yang melahirkan kamu saja toh?
Sapaan lembut itu meluluhkan hatiku, akhirnya keesokan pagi aku pulang ke rumah.
Sebelum masuk rumah aku menatap sekeliling aku nggak mau ketemu papa tiriku yang gila itu, setelah ku rasa aman, aku masuk ke rumah aku hampir pingsan melihat mama di kursi roda, sedang menghadap ke dinding, yang dilihatnya adalah fotoku. Air matanya terus mengalir, bahkan tangan kanannya sudah tidak dapat digerakkan, air liurnya mengalir dengan deras, aku tidak tahan, segera aku berlari memeluk mama. Mama pun sangat tekejut namun senyum nya melebar , senang meski air matanya mengalir terus
Mama sendiri
He ma diri ya gila rang la (ya mama sendiri, dasar orang gila dia maksudnya papa tiriku)
Kemudian mama menangis keras, dia menceritakan papa tiriku, meninggalkan mama pergi ke luar negeri, dan hal yang membuat mama makin menangis dan hampir pingsan, kalau aku dipaksa oleh papa tiriku untuk nafsu bejadnya, lalu aku segera menyudahi dia bercerita. Mama aku ajak istrihat, namun mama tetap memegang tanganku erat.
Ngan gi ya (jangan pergi ya)
Mama pesan agar aku jangan pergi, air mataku memgalir, selama mama tidur aku di sebelahnya, namun pegangan tangannya terus memegangku, aku takut dia capek, ingin ku gerakkan tangannya yang memeluk erat tangan ku, namun dia pun terasa. Akhirnya sampai pagi aku tidur dengan mama.
Matahari sudah masuk ke kamar mama, sinarnya menyinari ruangan itu, aku pun terbangun. Ketika aku bangun aku lihat mama masih tetap tidur nyenyak, segera ku lepaskan tanganku namun aku melihat kejanggalan, mama seperti tidak bergerak, aku segera membangunkan
Ma, udah pagi, bangun yuk
Namun tak kulihat reaksinya,
Ma, ma bangun
Aku terus menggerakkan, akhirnya aku histeris sendiri, memanggil tetangga rumah, beberapa tetangga masuk dan semua tetangga menyatakan mama sudah meninggal, aku tidak rela lalu kami bawa ke rumah sakit, mama tidak bisa tertolong, perkiraan dokter mama meninggal pukul 24.00. Aku hanya bisa menangis dan pasrah. Aku menghubungi Ibu dan mas Hendra.
Aku belum sempat berbuat apa-apa untuk mama, aku masih termenung di depan jenasah mama, kemudian mas Hendra memberikan dua lembar kertas.
Tadi mas lihat di dapur
Aku membacanya perlahan, aku mulai menangis dan ibu memelukku, mama curhat pada lemabr kertas itu,
Mama belum bisa buat apa-apa untuk Shabrina, Sha pasti kamu sedih dengan ulah papa tiri mu
Maafin mama, Sha kamu terlalu lelah dengan hidup mama yang berantakan, mama tahu kalau
Mama mabuk kamu yang bawa ke kamar. Mama nggak perlu kasih tahu siapa mama yang melahirkanmu, dah yang pasti kamu anak mama.
Mama juga terlalu tidak suka dengan ibu, karena ibu mu bisa meluluhkan kamu sedangkan mama, orang tua nggak tahu diri. Tapi mama harus akui ibu mu luar biasa.
Sayang..maafin mama
Aku tidak tahan membacanya aku menangis histeris dan aku tidak tahu kalau aku tidak sadarkan diri, setelah sadar ibu menenangkan aku
Bu aku nggak hormat sama mama
Dah dik jangan nangis ya
Hari ini adalah dua bulan mama pergi, akhirnya ku putuskan tinggal bersama ibu
Dik kamu seperti beda ya
Apanya bu
Belum saja aku selesai bicara, aku mual dan ke kamar mandi
Knapa dik? Masuk angin
Ga bu
Kamu kenapa?
Dah satu bulan terlambat haid
Dah sekarang kita periksa
Hari itu adalah awal dari hidup ku yang makin tidak karuan, aku hamil. Aku berjalan terus mengahadapi hari-hari, aku harus hamil anak dari papa tiriku. Ibu selalu menyemangatiku, aku tetap menjaga kehamilanku, pernah suatu kali aku mau mau menggugurkan kandungan itu, lagi-lagi Ibu mengingatkanku. Anak itu lahir tanpa bapak, aku harus terima dengan lapang dada. Ibu dan mas Hendra menerimaku dan anak ku dengan senang.