KEMBALIKAN ASA KU
Belaian angin malam itu membuatku terbuai, baru dua minggu aku tidak bersama Kikan. Kikan mendapat kesempatan belajar dari kantornya. Serasa sepi hatiku, Andre mengajak untuk nongkrong di kafenya malam ini. Aku tolak, jujur aku sungguh rindu pada Kikan. Sempat tuk berpikir ke rumah Linda, teman kuliah ku dulu, kudengar dia masih jomblo. Apakah malam ini akan segera ke sana ya, belum saja rambut ku rapikan, dering suara Hpku berbunyi,
Astaga Kikan
Halo Bim, lagi apa?
Lagi di kamar saja, tidur-tiduran
Loh nggak jadi nongkrong di kafe Andre?
Nggak
Aku lagi buat tugas neh, tapi tiba-tiba kangen kamu
Suara merajuk Kikan tak dapat kubendung, sungguh aku rindu dia
Aku juga Kan
Oh gitu, sama dong
Malam itu kami berbagi cerita, kisah menghampiri Linda tidak ku hiraukan, ntah mengapa selama aku berjalan dengan Kikan selalu saja ada hal yang membuat aku untuk tidak selingkuh, sewaktu aku bertengkar dengan Kikan tentang kiriman bunga mawar untuknya, aku cemburu. Setelah kejadian itu aku mencoba mendekati Kristin, dia teman kantor ku yang baik dan cantik. Beberapa kali kami jalan, sekedar menonton di bioskop, namun suatu ketika SMS ku seharusnya untuk Kristin nyasar ke Kikan, luar biasa dia marah, dan aku mencoba menjelaskan. Di saat seperti itu aku tidak bisa mengelak lagi kalau aku salah.
Kejadian itu pun sama dengan hal ini, atau ini pertanda agar aku tidak selingkuh. Kikan sudah sangat baik, buatku dan keluarga, betapa tidak Mama sebelum meninggal sempat dirawat di rumah sakit, karena kangker payudara. Mama dirawat dengan kasih oleh Kikan, maklum aku tak punya saudara perempuan, yang ku punya dua adik laki-laki. Kikan sampai sering membolos kuliah, karena dia peduli pada almarhumah mama. Meski kini mama telah pergi untuk selamanya.
Malam itu aku belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama, aku harus belajar menunggu Kikan. Rencana ku dan Kikan, setelah dia kembali dari tugas belajar kami akan menikah.
Aku sungguh menunggu moment itu Kan
Bisik ku dalam hati, seraya berdoa agar cinta kami akan abadi.
Siang ini terasa lelah sekali, pekerjaan menumpuk dan data-data harus di kirimkan segera, sambil sesekali ku amati layar komputer, mungkin saja Kikan akan kirim kabar
Hai say, sibuk ya
Lalu ku balas
Ya, lumayan
Ya udah ntar aja Kikan ngomongnya
Ga apa-apa, Kikan mau bilang apa?
Kikan besok terbang ke Jakarta
Ha? Yang bener kan
Ya, pak Samuel minta aku kembali sementara ke Jakarta, ada tugas yang harus aku kerjakan
Oh ya…surprise dong untuk ku
Hehehe aku rindu kamu Bim
Aku juga honey…
Percakapan di chating harus disudahi , karena tugasku menumpuk. Segera ku kerjakan tugas-tugas dengan penuh semangat, aku senang kalau Kikan akan kembali ke Jakarta, entah dua hari atau sampai kapan pun akan aku gunkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Hai Kikan aku rindu kamu
Kami berpelukan di bandara, aku begitu kangen dengan dia, demikian pula dengan Kikan.
Kami segera menuju rumah Kikan, sesampai di rumah Kikan, Kikan disambut dengan hangat dengan keluarganya. Malam itu aku menikamti makan bersama dengan keluarga Kikan.
Hari ini sepulang kerja aku akan mempersiapkan acara untuk aku dan Kikan, Kikan akan ku ajak makan nasi goreng kesukaannya, di Jalan Merdeka, wah pasti dia senang sekali.
Ternyata benar, Kikan senang sekali kalau aku ajak dia. Kami menikamti makan malam yang luar biasa dan indah sekali. Rasanya aku tidak rela kalau Kikan akan kembali ke Singapura untuk belajar.
Di sana pasti cowok-cowoknya ganteng ya Kan
Ye, kamu cemburu ya, kamu tetep yang ganteng
Kami tertawa dan bercanda ria, tidak lupa kami menikamti es krim, kesukaan Kikan. Kikan suka dengan es krim rasa cokelat. Betapa bahagia mengingat perkenalanku dengan Kikan. Kami sama-sama tidak tahu kalau kami satu kampus, waktu itu ada acara bazaar di sebuah tempat, kami panitia, lama aku ketahui kalau Kikan satu kampus denganku, meski lain jurusan. Kami kemudian dikenalkan oleh teman Kikan, awalnya kami masih biasa, karena tidak ada perasaan apa-apa. Kemudian, suatu kali aku bermain ke rumahnya dan ingin aja menyatakan cinta pada Kikan, ditolak pun sudah nasib, pikirku waktu itu. Tidak tahunya Kikan pun suka padaku. Akhirnya kami jadi hingga saat ini.
Saat yang aku tidak inginkan saat Kikan harus kembali ke Singapura, aku mulai lemas dan tak bertenaga. Serasa separuh nafasku kabur, entah ke mana.
Mulai hari-hari aku lalui sendiri dan terus mendekam sepi, sesekali Reno ajak aku ke diskotek, namun tetap saja aku tidak merasa terhibur. Karena pasti pulang-pulang akan mabuk.
Aku mulai bingung karena Kikan sudah tiga hari tidak memberi kabar, mungkin dia sibuk. Sudah ku coba meneleponnya namun nada sibuk selalu saja terdengar. Jika aku chating pun tetap tak ada balasannya.
Hingga suatu ketika Kikan memberi kabar, katanya dia sehat-sehat saja dan sedang sibuk dengan tugas kuliah.
Bulan ini aku semakin terasa hampa, Kikan sudah sibuk dengan dunianya. Aku bingung akan lari ke mana, aku berencana mengunjungi Kikan ke Singapura, namun Kikan menolak, karena sedang sangat sibuk dan padat. Aku mulai hilang semangat, bahkan kali ini kali ke dua akhirnya aku ke diskotek, aku bingung harus bagaimana.
Bim, aku akan kembali ke Jakarta
Ucap Kikan suatu hari di telepon
Aku rindu kamu juga kan, ada acara apa ke Jakarta, kangen aku Kan
Ada yang aku harus bereskan
Aku mulai bingung akan kata- kata Kikan namun aku pikir dia rindu padaku.
Hari ini dengan gembira ku menjemput Kikan di bandara, hati ku deg-deg an maklum sudah dua bulan tidak bertemu dengan Kikan.
Alangkah terkejutnya aku melihat Kikan digandeng dengan seorang pria, aku mulai bertanya apakah pria itu saudara Kikan atau… aku terdiam kaku, lalu Kikan menghampiriku
Hai, Bim
Hai
Sapaku lemah
Jer, ini Bimo
Jeremi
Bimo
Aku datang ke Jakarta untuk menggelar acara pernikahan kami Bim.
Kalimat itu serasa memecahkan gendang telingaku, ntah aku menginjak tanah atau tidak saat itu. Aku belajar tegar mendengar kalimat dari Kikan.
Aku harus belajar untuk pasrah pada semua kejadian ini, betapa tidak tekad ku sudah bulat akan mengajak Kikan menikah namun Kikan lebih memilih orang lain. Belakangan ku ketahui, Kikan dapat kesempatan belajar di Singapura, karena mertuanya. Agar Kikan dapat berkenalan dengan anak bosnya, maka Kikan diajak untuk sekolah ke Singapura. Betapa aku harus menerima kenyataan yang menurutku tak dapat ku terima. Bahkan Kikan tak memberikan sedikit pun alasan mengapa memilih pria itu.
Mendung itu bergelayut di hati, terus kucari makna cinta sesungguhnya, entah kapan waktu akan berdamai dengan ku. Kini aku memilih bekerja di suatu tempat yang jauh dari semuanya. Aku meilih bekerja di Medan, aku tutup semua kenangan dengan Kikan, bahkan suara riak air di kolam malam ini tak membuat hatiku akan menangis. Karena hidup bukan hari ini saja. Tapi ada hari esok.
Selasa, 12 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar