Rabu, 11 Februari 2009

SAPA SAJA AKU DENGAN NAMA HARAPAN
Sang mentari berkawan dengan burung-burung saat itu, aku terkejut mengapa mereka begitu akrab. Padahal di luar sana masih banyak yang tak dapat bersahabat, yang satu bagai hariamau yang akan menerkam. Si ular pun berbisa tak mau diusik, kini sesekali kata damai hanya dia awang-awang dan mimpi semu. Pernah suatu kali burung-burung mengajak tuk beradamai namun sosok egois menatap merah dan tak henti-henti mengacungkan jari telunjuknya.
Rumah yang beratapkan kerinduan dan dinding yang berwarna kegembiraan menatapku kagum, pernah aku terhempas di pojok ruangan, kemudian jiwa dan tubuh bertengkar, hanya tubuh terhempas di atas sebuah kursi, jiwa pergi ntah ke mana, katanya ingin menyendiri dan bertapa. Pernah ku dengar dari sang angin kalau jiwa kadang-kadang meneteskan air mata rindu tubuh, namun tengsin katanya.Tubuh hanya di atas kursi namun kegelapan tak menyapa sedikit pun, kursi tetap beku dan enggan berkata mungkin sudah bosan dengan perilaku tubuh dan jiwa seperti itu
“ Basi”
Itu katanya, apakah tak ada lagi kelembutan angin malam mendendangkan lagu alam berkumandang, apakah awan kesejukan merangkul kesepian ku. Aku terus bertanya akankah ada teman atau pun lawan mengajak ku berkomunikasi. Dinding beku bahkan membuang mukanya sejauh-jauhnya.
“ Oh duniaku”
Hanya itu suara ku yang sanggup meluncur dari sebuah anggota tubuh yang disebut mulut. Tubuh tak lagi mau kompromi, bahkan otak pun sudah keram dan tak sanggup tubuh menopang. Tubuh masih sendiri dan terus menatap kosong, sesekali air yang disapa air mata bergerak sangat perlahan, rasanya asin, seandainya ada si Poki, anjing sebelah rumah yang berwana cokelat itu pasti ikut menunduk seraya berdoa agar tuannya terselamatkan dari siksa dan duka.
Tubuh dapat tidur malam itu, namun mimpi kengeriaan menghampiri dan mendekat, mimpi itu berubah menjadi awan gelap, samar-samar melihat jiwa sedang mengejek, karena tubuh sangat lemah dan sedih.
Tubuh terbangun dan air mata hadir di pipi, seraya tubuh akan meletakkan semuanya di atas sebuah bantal. Tubuh berharap esok adalah hari keberuntungan buatnya, meskipun dia ragu apakah pasti dapat dia sentuh sukacita?
Pagi hari tubuh menyapa kesegaran di sebuah tepian sungai dan menyambut tawa gemercik air mungkin bisa jadi sudah dua hari si tubuh tak menyentuh sungai. Sungai terkejut, karena raut wajah tubuh tak semangat, ditawarkan wewangian kehidupan, namun tubuh menolak. Tubuh berlalu begitu saja dan tak mengucapkan terima kasih pada sungai yang membuat dia segar.
Kali ini tubuh berjalan di jalan yang ramai dinikmati oleh tubuh dan jiwa, namun mereka bersatu. Aku hanya diam membisu, ku tatap senyum dan sapa diantara mereka. Ada yang membelai rambut sang kekasih ada yang menggenggam tangan si gadis, ada juga yang memeluk erat tubuh si anak. Ada apa denganku, kami berbeda. Sesekali ku tatap dari ujung kepala hingga kaki ku,
“ Ah aku beda”
Meskipun demikian ku lihat ada seorang lumpuh dapat tertawa dengan riang, si buta dapat menari-nari di atas kursi bahkan, seorang anak tak berkaki tetap menawarkan senyum kepada siapa saja yang dia temui. Aku mulai rindu jiwa
“ Jiwa kamu di mana? Kamu tidak rindu padaku”
Kali ini isak tangis tak dapat terbendung, bahkan tubuhku bergetar, di mana kesempatan ku untuk menatap harapan. Semua sia-sia, atau aku harus lari dari dunia ini dan masuk ke alam kubur saja.
Seorang bapak tua mendekatiku, seakan ingin menghibur, dan membacakan kitab-kitab sukacaita seraya berkata
“ Jangan bersedih”
Namun aku tak kuasa melihat semua, bapak tua itu duduk di sebelahku, sesekali akau ingin bicara. Namun bapak tua itu tidak memperbolehkan aku bicara, aku kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Awan biru di atas merekah, bunga-bunga di taman menari dan bepakaian indah hari ini, namun aku tak menyukai, karena ku pikir ini urusan jiwa, yang dapat menilai. Mengapa jiwa tak mau peduli, dia lari ntah kemana, memangnya hanya dia saja yang ingin dipikirkan, aku sebagai tubuh perlu dilindungi, perlu disayangi.
Deburan air pantai tak mampu lagi. Semua menghempaskan mimpi ku dan telah membuat karang di tubuhku. Berlubang dan berdarah, sempat diobati namun sudah terlalu menganga jadi tidak ada gunanya perban itu. Padahal jika ku ingat hari yang lalu, aku sempat menyombongkan diri mempunyai tubuh yang gemulai, bahkan lekukan tubuhku layaknya gitar Spanyol. Rambutku yang teruarai panjang, bola mataku yang bulat, hidungku yang mancung, dan bibirku merah merekah. Siapa yang tidak terpesona, namun itu tak ada gunanya sekarang, aku abaikan semua kelebihan tubuhku.
“ Jiwa kamu sedang apa di sana? Rindukah kamu padaku? Aku rindu”
Malam datang lagi, tetapi tak ku lihat tanda-tanda harapan akan bertemu dengan jiwa. Aku tahu, jiwa sempat berkata dia sedang patah hati, namun aku cuekin. Aku yang salah tidak peduli dengan dia, aku jengkel pada jiwa, waktu itu aku sangat ingin makan bakso, tetapi jiwa ogah-ogahan, katanya sudah pernah merasakan, kan aku jengkel. Sempat kami saling berdiam diri, tak ada pembicaraan di antara kami. Namun itu betah hanya dua jam, kami sebenarnya saling membutuhkan, namun si ego suka sekali meledek kami, katanya tidak pas kalau kami tidak bertengkar. Ego selalu menjewer kupingku agar aku menajuh dari jiwa. Penyesalan selalu ada di belakang itu kata tiang-tiang listrik di jalan. Mereka sudah banyak menesihati namun aku pikir itu hanya teori mereka tidak merasakan yang ku rasakan.
Sudahlah aku jadi cengeng begini, seharusnya ini urusan jiwa saja, aku tidak akan peduli.
Tubuh tak dapat menahan derita, karena lemas tubuh di larikan ke rumah sakit, dokter mengatakan tubuh hanya perlu cairan dan makanan sehat. Sebenarnya tubuh tidak sakit, tubuh hanya butuh istirahat. Suara halilintar malam itu membuat ku ketakutan, seorang suster mendekat dan menyelimuti aku,
“ Ah hangat sekali”
Malam pun berlalu sepertinya pengaruh suntikan dari dokter, tubuh dapat terlelap atau mungkin tubuh diberi obat tidur agar tidak suka bangun.
Pagi menyapa dengan senyum dan tak lupa pendamping setia si matahari, kemarin sempat matahari malu-malu dan menunujukkan wajah gelapnya. Namun kali ini berbeda.
Aku diguyur dengan kesejukan air, segera kurapikan rambut dan memakai wewangian. Segera aku ingin kembali ke rumah, dan tidak ingin diam di balik tembok putih dan ruangan berbau obat. Ku tatap tubuh-tubuh lemas, namun jiwa di sana pula ikut merasakan kesakitan tubuh. Betapa bahagia mereka. Mereka dapat bergaul akrab, sesekali jiwa menguatkan dan menghibur, sesekali tubuh juga mengacungkan jempol pada jiwa. Indah sekali keakraban mereka.
Sampai kapan aku akan begini, kursi roda menggerakkan tubuhku menuju sebuah kamar, aku telah tiba di rumah. Setelah ku buka pintu kamar, aku terkejut bahkan ingin pingsan, jiwa ada di ruang kamarku, membawa seikat mawar merah, cantik sekali dan menyambutku,
“Akankah ini mimpi?”
Namun jiwa melambaikan tanggannya dan mendekatiku seperti merasa ikut bersedih kemudian jiwa membelai lembut di rambutku.
“ Aku rindu kamu tubuh”
Jiwa berkata di telinga
“ Aku pun demikian jiwa”
Kami bergandengan tangan, kesakitan dalam tubuh tak ku rasakan kembali. Kami duduk berdekatan kami saling bercerita, hingga kami bercerita mengapa kami ingin berjumpa
“ Aku melihat matahari bersahabat dengan burung-burung, aku pikir mengapa kita tidak bisa”
“ Benar tubuh aku lihat pantai dengan ombak juga berkejaran, mereka tidak dapat dipisahkan, aku ingin kita dapat seperti itu”
Kami berdua berpelukan, ada jendela dan pintu bergandengan sambil menari dan bernanyi untuk kami. Kami berjanji tidak ada lagi pertengkaran di antara kami. Kami menyambut dengan riang sebuah harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar