Selasa, 03 Februari 2009

berkata dan berujar

Don’t Say Anything
Sudahlah honey aku ga mau dengar alasanmu lagi, kemarin kamu bilang jalan dengan sepupumu, sekarang bilang sama Clara teman les piano mu, terus besok mau bilang sama sapa lagi. Aku ga ngerti salahku itu apa honey.
Brak……
Suara hp ku yang hempaskan di atas tumpukan majalah, kemudian aku ke dapur.Dari tadi aku menahan lapar, bertengkar dengan Hendri. Aku sudah 4 bulan jalan sama Hendri sebelumnya aku tidak ingin jadian sama dia, hanya karena dia sangat baik mau membantu ku. Semua tugas yang ada di kampusku diselesaikan dengan baik, aku kadang menyesal, mengapa aku jadian hanya karena dia mau bantu tugas-tugasku.
Hari ini aku masih bertahan di rumah dan tidak mau ke kampus, pasti nanti berjumpa Hendri. Jika bertemu dengannya pasti aku bingung mau bicara apa.
Lan…kok ga kuliah lu?
Suara Ince di telpon
Kenapa emang
Hendri juga nggak ke kampus tuh
Loh, aku menghindar dari dia
Dah sekarang lu ke kampus kan kos lu deket banget
Ya deh gua berangkat
Aku melangkahkahkan kaki ke kelas, untung lah kuliah belum dimulai, Ince mulai senyum-senyum sambil menyenggol ku
Kenapa kamu senyum-senyum
Ga, seneng aja lu berangkat kuliah heheheeh
Lan aku minta maaf ga nelpon lu barusan aku lihat Hendri berangkat ke kampus juga
Ha?
Teriakku hampir membuat pak Timo marah, karena kuliah sudah dimulai.
Kanapa lu ga bilang aku dah semangat banget ke kampus eh kamu memadamkannya
Ya barusan aku lihat Hendri masuk kelas di ruang depan
Sori bener aku ga tahu
Dah aku mau cabut aja
Eh jangan gitu dong kan hari ini Cuma kuliah pak Timo
Dengan ogah-ogahan ku ikuti kuliah pak Timo sesekali pak Timo bertanya padaku, namun aku tetap cuek saja.
Akhirnya kuliah pak Timo selesai, ingin segera berlari ke luar kelas dan segera pulang ke kos. Namun pak Timo mengajak ku ngbrol
Lan, saya merepotkan nih,saya butuh asisten tuh anak-anak angktan baru masuk banyak lagi jumlahnya, nah kamu bantu saya ya
Oh gitu pak suaraku terkejut dari tadi tak ku hiraukan pembicaraan pak Timo aku ingin segera kabur saja.
Dah besok saya kasih jadwalnya, ucap pak Timo berlalu
Ce aku pulang duluan
Lan cepat banget lu jangan buru-buru
Udah ah aku mau cabut
Segera aku berjalan cepat, hampir kakiku melangkah ke luar gerbang kampus, ada suara memanggilku
Lan aku mau ngomong
Segera aku membalikkan badan, ketika aku tahu siapa yang memanggilku aku segera berjalan
Lan k amu nggak dewasa ngadepinnya
Eh kamu yang ga dewasa ya, maen belakang
Aku berlari menuju kos ku. Ntah dari mana Hendri sudah berdiri di depan kamar kosku.
Aku akan jelaskan Lan
Don’t say anything
Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku tak peduli Hendri mau pulang atau tidak.
Hari ini kuliah libur, besok pun tidak ada kuliah, aku bergegas merapikan beberapa baju, aku hendak pulang. Rumahku skitar lima jam dari kos, aku sudah rindu makan masakan ibuku, bermain dengan adikku Gostul. Tubunhnya yang gendut dan banyak akal membuat aku kangen.
Di dalam bus berdesak-desakan, meskipun demikian aku tetap menikmati aku rindu rumah.
Setiap perjalanan kunikmati dengan senang, akhirnya aku sampai di rumah.
Aku kangen sekali dengan kamarku, segera aku berlari masuk ke kamar, tak kuhiraukan lagi sekitarku, ibu ku melihat keheranan
Lan loh ibu ga disalim dulu
Ibu mendekati kamarku
Aku lupa bu
Ucapku menyeringai, lalu kami berpelukan, entah beban apa yang menimpa ku tak terasa air mataku menetes
Kenapa Lan ada masalah
Feeling ibu selalu kuat untuk satu hal ini
Dah makan dulu yuk, ibu tadi masak sayur lodeh dan goreng tempe, ada pepes ikan kesukaanmu. Ntah ibu kok pengen masak itu nggak taunya kamu datang Lan.
Ibu nggak banyak bertanya apa masalahku, lalu ibu mengajakku untuk makan.
Betapa nikmat masakan ibu, aku hampir dtidak berbicara, karena terasa lezat masakan ibu.
Wah kamu benar-benar lapar Lan
Ibu menyeringai.
Aku baru teringat adikku
Bu,Gostul masih di sekolah, dah jam segini belum pulang
Beberapa hari ini ada kegiatan OSIS nya jadi sering pulang sore, kadang kasian loh
Oh, OSIS nya ada acara apa
Katanya pameran pendidikan gitu
Kami melanjutkan makan
Rasanya segar bisa mandi, aku mulai menyisir rambut ku kemudian bergerak ke luar kamar
Weh mbak kapan datang
Tanya Gostul dari dapur
Eh kamu dik
Pa kabar mbak
Kami berpelukan
Baik, kamu gmana?
Biasa sibuk OSIS
Diatur belajarmu loh dik
Ya mbak, aku mandi dulu ya
Lan jam berapa tiba
Ayahku muncul dari ruang tamu
Yah, dari mana
Kami berpelukan
Dari tempat pak Doni, anaknya besok menikah
Oh si Meli
Ya, kamu gimana kabarnya
Baik yah
Loh kuliah libur, kok ada waktu pulang
Ya, yah. Masa mahasiswa baru
Oh..
Ayah ke tempat pak Doni lagi, tadi ambil alamat Pak Yut
Ibu membawakan sepiring pisang goreng dan dua gelas teh hangat.
Dimakan Lan
Ya bu makasih
Aku mencari siaran telivisi
Tul kalau udah mandi makan loh dik
Cepetan nanti masuk angin
Ya bu
Kemarin Laras Tanya kamu pulang ga
Oh dia lagi di sini?
Minggu kemarin pulang, mau persiapan nikah katanya
Oh gitu
Sama mana calonya bu
Sama orang Solo
Aku terdiam teringat Hendri tiba-tiba, anak Solo yang membuat ku makin pusing. Kuabaikan saja alam pikiranku.
Mbak aku belajar ya, sori ga ngobrol-ngobrol
Y a sana belaajr, besok aja kita ngobrol
Eh mbak mas Hendri ga minta ikut ke sini lagi
Beberapa saat aku termenung di depan televisi
Eh nggak Tul
Suaraku terkejut
Ku lanjutkan menonton televisi
Ada apa non dengan Hendri?
Pertanyaan ibu menggugahku untuk bicara
Ya gitulah bu, sukanya ga jujur
Selingkuh dia
Loh dah kamu ketahui jelas belum
Ya jawabanya ga jelas
Ya siapa tahu temannya saja
Nggak tahu ah bu, putus juga nggak masalah
Aku pergi ke kamar
Malam ini terasa sepi, Hp di meja kamar baru kusentuh
Ku lihat 10 Miscall dan 5 SMS, beberapa saat ku buka SMS dan Miscall, siapa lagi kalau bukan Hendri semua, aku tak membalasnya. Ku letakkan HP, lalu tidur.
Mbak yuk ke sungai di ujung desa
Ayuk Tul
Aku senang sekali kalau main di sungai, ntah mengapa, apalagi Gostul suka berenang disana.
Sesampai di sungai aku bermain air, terasa segar dan sejuk. Gostul tidak tahan untuk berenang, aku hanya memandang adikku.
Setelah berenang Gostul duduk di sebelahku
Mbak kenapa coba sebagian orang merasa benar
Loh kamu kok ngmong gitu
Ya emang begitu kan
Pertanyaan Gostul mengusik ketenanganku
Mbak, orang sesungguhnya mempunyai sisi ego, sehingga kadang tutup telinga untuk hal yang seharusnya didengar
Ah kamu Tul bisa aja
Aku tersenyum, seakan aku ketemu jawabnnya.
Di rumah aku mulai menyiapkan baju-bajuku
Ini kering kentangnya enak loh Lan
Ya bu aku bawa
Ayah mau ke kos mu loh mbak akhir bulan ini
Ada acara apa Yah
Mas Anwar mau main ke rumah, namun minta ketemu di kos mu, karena dia paham tempatmu juga.
Mas Anwar anak tante Hana ya
Ya betul, dia akan menghabiskan cutinya di rumah kita, habis kalau pulang dari Amerika selalu Jakarta tempat cuti, bosan katanya.
Baik Yah
Setelah berpamitan aku menuju terminal diantar ayah. Dalam perjalanan pulang aku menyusun rencana, memang Gostul adikku hebat, mampu membantu masalah ku, aku tersenyum puas.
Apa kabar Hen
Sapaku di kampus pada hendri, aku duduk di dekatnya
Eh Lan, baik, kamu juga kan, kamu kemana aja
Baru mudik aja
Oh gitu
Hendri mulai merapatkan duduknya dekatku
Kamu sehat kan
Aku mengangangguk. Hendri memandangku, kangen mungkin dia, sudah hampir dua bulan kami tidak duduk akrab seperti ini.
Aku ingin menjelaskan semuanya
Kami terdiam
Aku selama ini mempersiapkan skripsi, dengan judul kehidupan sosial di lingkungan kota, dimana kesulitan ekonomi membuat orang menghalalkan segala cara termasuk menjual diri.
Sori aku nggak cerita, sebenernya mau cerita namun nanti setelah ada tanda tangan dosenku, aku baru pede pamer ke kamu
Aku menyeringai
Jadi aku salah ya
Nggak salah paham aja kok
Sesaat tangan Hendri mengacak-acak rambutku dan mulai menggenggamku
Aku tahu kalau kamu dititik emosi nggak bisa diajak bicara
Sehingga aku tunggu kamu, kalau kamu dah reda baru aku jelaskan
Kenapa tiba-tiba kamu berubah?
Ucapan Hendri sambil tersenyum meledek
Ye dasar ya
Ucapku lalu mencubit pinggang Hendri refleks disambut tangan Hendri menggenggam tanganku di pinggangnya.
Dah kita ke kantin yuk, cerita di sana aja
Ayuk
Kami berjalan bersama, karena posisi di kampus, kami bergandengan hanya jari kelingking kami saja
Kami hanya tertawa saja
Kalau saja bukan di kampus pasti kupeluk Hendri, aku bahagia sekali karena dia mengajarku untuk tidak berkata apa pun saat kita emosi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar