Rabu, 11 Februari 2009

ada lagi yang lain di ahti

ASTAGA…MURIDKU
Siang itu udara sangat panas, aku mulai gerah, meski beberapa menit lagi waktu usai bekerja hari ini. Namun masih ku ketik tugas-tugas sekolah.
“ Belum pulang Bu?”
Sapa Andi muridku, kemudian aku menoleh
“ Eh, belum, kamu belum pulang?”
“ Menunggu Ibu”
Aku tersnyum saja
“Bener Bu, aku nggak bercanda, pulang bareng yuk”
Aku mulai bingung Andi mengajak ku pulang bersama, ada apa gerangan.
“ Thanks Andi, Ibu ada kerjaan lain nih”
Aku menolak dengan alasan yang kubuat, agar dia tidak menunggu.
“Ya aku tunggu sampai Ibu selesai”
Astaga, ada apa dengan Andi, dia murid rajin, sopan, dan ramah pada setiap guru. Namun tidak pernah kelakuan murid lainnya seperti ini. Segera aku berpikir positif saja.
Kubereskan semua buku-buku di meja, ku letakkan tas di bahu ku, segera aku bergerak ke luar ruang kerjaku. Di luar gerbang Andi sudah menunggu di atas sepeda motornya. Segera aku bergerak cepat untuk menghindar dari Andi.
“Ayo Bu, pulang bersama saya”
“ Terimaksih Andi, lain kali saja”
“kenapa sih Ibu menolak, malu ya jalan dengan saya?”
Aku ingin membuktikan bahwa aku nggak malu, segera aku duduk di boncengannya.
Selama di jalan hatiku berkecamuk dan kepalaku mulai berpikir panjang apa yang ada dalam pikiran Andi saat ini.
“ Sebentar ya Bu, kita mampir ke rumah saya dulu, pasti saya antar Ibu”
“ Oh begitu”
Nada suarku melemah
“Santai Bu, hanya sebentar”
Kami sampai di sebuah rumah yang besar, sejuk dengan warna cat rumah hijau muda. Indah sekali rumah itu. Setelah Andi meletakkan sepeda motornya. Aku mengikuti Andi dari belakang.
“ mari Bu silakan duduk”
Andi mempersilakan aku duduk di ruang tamu yang indah.
Seseorang wanita muda membawa dua gelas sirup kea rah ku
“ Diminum Bu”
Aku mengangguk
“Orang tua mu ke mana?”
“ kerja Bu, nanti pulang jam 23.00”
Andi masih senyum saja kemudian dia memutarkan lagu Ada band, yang berjudul Karena Wanita.
Andi segera ke kamar kemudian menemuiku. Aku tak mengerti Andi serasa dekat dengan ku karena dia duduk di dekatku, serasa sudah akrab sekali. Aku agak bergerak untuk menjaga jarak. Entah dia terasa atau tidak, caraku tadi.
“ Ibu tinggal bersama siapa?”
“ Oh, Ibu kos”
“ Ibu belum berkeluarga kan?”
“ Belum”
Pertanyaan yang dilancarkan Andi serasa tentang pribadiku , di sekolah sedikit tabu seorang murid bertanya hal yang mendaetail, meski ada beberapa guru menceritakan keluarganya masing-masing.
“ Yuk Bu, kita makan dulu!”
Andi mengajak makan, kemudian kami menuju ruang makan. Ya, memang ruang makan yang mewah dan sajian di meja makan pun tidak sembarangan. Kemudian aku di persilakan duduk dan kami makan bersama. Entah apa yang ada dalam pikiran Andi.
Selesai makan Andi minta tolong untuk mengerjakan PR di sekolah, aku merasa mulai tidak betah, sesekali ku lrik jam di tanganku, namun Andi tidak peduli.
“Pasti aku antar Bu”
“ Ibu ada janji an dengan pacar Ibu ya”
Andi meledek dan bercanda, aku tetap tidak hiarukan toh, aku anggap dia seperti adikku sendiri.
Malam itu aku sampai di kosku pukul 22.00. Aku lealh sekali dan tidak habis pikir tentang Andi.
Pagi harinya hal yang mencengangkan adalah Andi sudah menunggu di depan kos ku, aku bingung mau menolaknya, akhirnya kami berangkat ke solah bersama.
Aku mulai memutar otak untuk berpikir panjang menghindar dari Andi, sepetinya kelakuannya makin aneh. Benar saja sepulang sekolah pun, dia sudah menunggu di gerbang sekolah.
Aku mulai memberi berjuta-juta alasan agar menolaknya, aku terselamatkan. Namun sore harinya Andi sudah hadir kembali di kos ku, aku heran bagaimana mengusirnya. Aku ajak dia keluar dan ingin tahu apa yang dia pikirkan.
Ketika kami berdua jalan malah tak kutemui alasan apapun
“ Ndi kamu nggak punya pacar?”
“ Nggak Bu”
“ Atau mungkin kamu lagi naksir seseorang”
Aku mengoreknya
“ Ada sih Bu”
“ Oh ya, Ibu boleh tahu”
“ Ah nggak sekarang aku ungkapkan”
Aku mulai semangat awalnya namun semangatku pudar, karena tidak menemukan jawabnya. Aku ingin tahu dengan wanita itu, jika itu temannya di sekolah, maka akan segera aku jadikan mereka berdua atau bagaimana caranya agar dekat mereka berdua.
Hari lepas hari berlangsung begitu kedekatan ku dengan Andi termasuk dekat, bahkan suatu kali orang tua Andi sengaja ke sekolah hanya untuk ingin mengenal aku, kata Andi guru favoritnya adalah aku. Andi anak tunggal, sehingga orang tuanya salalu menuruti apa maunya. Aku jadi serba bingung dan canggung, bahkan aku diberikan berbagai macam barang dan makanan. Aku jadi tidak enak hati, serba bingung menempatkan diri.
Bahkan malam minggu pun aku berjalan dengan Andi, mengapa aku sudah begitu dekat dengan dia, namun aku berjalan biasa saja. Bahkan sesekali tingkah Andi aneh, kebetulan tubuhnya tinggi, tidak terliaht seperti guru dan murid. Tingkah anehnya seskali memeluk pundakku, menggandeng tanganku. Segera ku lepaskan, aku terperangah melihat tingkah lakunya. Aku tetap berpikir postif, mungkin saja dia membutuhkan sosok kakak perempuan atau pun adik, karena dia anak tunggal.
Bahkan hari Valentine pun kos ku penuh dengan bunga mawar dan bingkisan cokelat, siapa lagi kalau bukan ulah Andi
“ Ndi kok dikasih ke Ibu?”
“ kasih aja ke cewek yang kamu taksir”
“ Ah nggak papa kok Bu”
“ Bu, aku boleh Tanya?”
“ Tanya apa?”
“ Ibu belum punya pacar kan?”
“ Kok kamu Tanya gitu?”
“ Nggak Cuma ingin tahu aja”
Pertanyaan Andi malam itu membuat ku bingung apa maksudnya. Namun aku tetap diam saja dan tidak mau menebak-nebak.
Suatu hari ada kejadian yang membuat aku semakin heran, Andi dengan tiba-tiba ingin memelukku, aku sangat terkejut dan segera ke luar dari pelukannya. Bahkan yang membuat aku terperanjat, dia segera akan menciumku. Pikiran apa yang merasuk dia. Segera aku pergi dan muncul di hadapannya lagi.
Malam itu adalah awal dari kesadaranku untuk segara menarik diri dari Andi.
Keesokan paginya surat pengunduran diriku untuk mengajar di sekolah sampai di meja kepala sekolah, aku tidak mau menunjukkan wajah lagi di sekolah itu. Aku masih terkejut akan kejadian itu. Aku putuskan kembali ke desa, tempat dimana aku dilahirkan.
Suasana desa yang segar dan hijaunya pepohonan membuat suasana semakin indah.
Lelahnya hari ini mengajar tidak membuatku surut untuk menjadi guru yang baik, setiap hari adalah pelajaran untukku. Sesampai di rumah, aku dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang besar.
Tertulis
Untuk Ibu Liana
Segera kubuka, astaga, aku terkejut karena di dalamnya sebuah pakaian indah sekali, dan pasti mahal harganya.
Ada secarik kertas tertulis
Bu, aku minta maaf. Tingkah laku ku membuat Ibu memilih tempat yang jauh, namun sungguh aku mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Wanita yang aku taksir adalah Ibu, maafkan aku Bu. Doakan saya bu, saya kini melanjutkan studi di Amerika mengambil jurusan Psikologi. Sekali lagi maaf kan aku Bu. Sampai kapan pun aku mengenang kebaikan Ibu. Salam Andi
Air mataku menetes betapa seorang Andi mengungkapkan maaf padaku, aku hanya tersenyum, dan berkata
Sukses untuk mu Andi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar