Ada kata Bila
Bila dia beri aku pun beri
Bila ada esok kuberi hari ini
Bila suka maka aku pun suka
Bila dia boleh aku pun boleh
Ada kata Bila ada huruf
Ada kalimat jika ada kata
Namun tak ku temukan pada kata Tuhan ku
Meskipun….
Semua tak berikan
Dia selalu berikan
Meskipun hujan
Badai
Bahkan angin reda
Dia beri…
Darahnya dia beri
Meratap kah kita akan diri kita
Lumpur ada pada kita
Namun meskipun lumpur kita jadi kapas
Rabu, 25 Februari 2009
Senin, 23 Februari 2009
cerpen siang hari
cerpen
Kami Salah Memutuskan
Debur ombak tak mampu berkata apa pun, hening kami berdua masih bisu di pinggir pantai. Kami suka sekali pantai sehingga ketika kami ingin hening kami berlari ke pantai. Seakan pantai dapat menjawab semua kegalauan hati, bahkan penatnya jiwa yang tak ditemukan di dasar hati. Ku tatap ombak tak mau diam, terus beriak.
Kamu suka kan suasana ini Han
Ya, kamu juga kan?
Tentu
Aku dan Hani sudah berteman selama 7 tahun lebih, waktu itu kami sama-sama berminat basket di SMP kami, kecocokan hobi yang membuat kami bersama. Orang tua kami pun akrab dan semakin seperti saudara sendiri.
Sering aku juga menginap di tempat Hani, demikian sebaliknya. Semua asessoris yang kami pakai hampir sama, kami kompak, bahkan seperti kembar. Aku beda dengan Hani, Hani benar-benar cewek, gaya berjalannya, cara berdandan, memilih pakaian, sedangkan aku seperti laki-laki, aku malas memilih pakaian seperti kebanyakan cewek, pakai rok lah, ,memakai bando lah, aku malas mengenakannya. Padahal mamaku membelikan perlengkapan cewek di rumah, maklum hanya aku anak mama yang perempuan, tiga saudara ku laki-laki. Mereka lebih memilih Australia sebagai tempat tinggal mereka. Saudara-saudara ku ikut papa, aku ikut mama, sudah tahu kan arah pembicaraanku, benar.. mama sudah bercerai dua tahun lalu. Papa tinggal di Australia bersama saudara-saudaraku, papa menikah lagi dengan wanita dari Australia, mama tiriku sudah memeiliki 2 anak, waduh papa banyak anak, tapi pasti banyak rejeki. Jika liburan Natal saja aku ke Australia, karena papa merayakn Natal, mama tidak.
Han, sudah sore pulang yuk
Ayuk
Kami berdua mengendarai motor, aku paling berani menegndarai motor sehingga pasti Hani di bonceng saja, setelah di atas motor, seperti biasa Hani memuluk tubuhku dengan erat. Aku tidak tahu, apakah hani meraskahan kehangatan jika bersamaku. Aku tak berani bertanya, aku takut dia marah.
Hari ini ada latihan basket di kampus, seperti biasa aku dan Hani latihan, setelah latihan aku diajak Hani untuk menginap di rumahnya, aku tidak menolaknya. Setelah mandi seperti aku biasa memakai baju tidak di kamar mandi, pasti di kamar tidur, Hani sedang bermain game, tanpa kusadari Hani tidak lagi memperhatikan komputer, namun dia memperhatikan tubuhku, aku mulai merasa ada yang mengamati.
Ada apa Han?
Oh nggak ada apa-apa
Hani terkesan terkejut, dan kembali mengamati komputer, aku hanya menggunakan teng top, dan celana pendek, ya ku pikir di rumah Hani penghuninya cewek jadi nggak masalah bagiku.
Malam harinya sebelum kami tidur seperti biasa kami saling bercerita dan makan kacang, sesekali Hani memeluk tubuhku, ntah mengapa dia seperti itu, namun aku pun menikmatinya, tak masalah bagiku.
Akhirnya kami lelah dan tidur, namun aku merasa ada kejanggalan. Hani tidak tidur namun mengamati tubuh dari rambut hingga kaki, kemudian aku terejut ketika tangan Hani mulai bergerak ke arah wajahku , pipi, bibir, dadaku, dan ah.. mengapa hingga kemaluanku. Aku tersentak terkejut, aku ingin berteriak, namun nanti terdengar mama nya Hani. Kemudian Hani mencium bibirku, namun aku meraskan lain bahkan lebih indah dibanding first kiss ku, waktu aku dicium Edo, teman SMA ku, waktu itu, kami benar-benar rindu, dan suasana malam itu gelap dan tidak ada orang. Edo kemudian menarik wajahku, aku menikmatinya, bahkan hampir saja kami akan melakukan hubungan badan, namun aku segera sadar, aku tidak mau putus sekolah hanya karena hamil.
Aku mulai berpikir, rupanya sore tadi dia mengamati wajah dan tubuhku, mungkinkah dia kagum pada tubuhku, aku tepiskan pikiran itu. Tidak logis seorang Hani suka padaku.
Suatu sore Hani bermain tempatku, namun aku sedang ada di kamar mandi, namun Hani segera masuk kamar mandi kebetulan kamar mandi tidak ku kunci.
Aku juga mau gabung mandi, baru pulang kampus tadi
Kemudian Hani membuka bajunya, aku terbengong ada apa dengan Hani, Namun aku segera mandi, kemudian Hani memelukku, dan wajah kami beradu
Aku suka kamu Nia
Kemudian Hani menciumku, sangat dalam dan lama kami bercium, dan kami berdua menikmati ciuman itu. Anehnya aku tak menolaknya dan terus saja Hani mencium leher tubuhku, dan aku pun sebaliknya. Tanpa sadar kami telah lama di kamar mandi, kami segera menyudahi karena, mamaku memanggil-manggil kami untuk makan malam.
Tetapi ntah mengapa setelah kejadian itu aku serasa melayang-layang dan selalu rindu dengan Hani, jika malam Minggu tak kami lewati bedua, bahakan kami sudah sering menikmati layaknya hubungan badan orang yang sudah menikah. Sesekali Hani memuja tubuhku dan sebaliknya aku pun suka dengan tubuhnya.
Hampir saja kami pernah tertangkap basah kegiatan kami 3 bulan terakhir ini, waktu itu mama nya Hani tanpa mengetuk pintu kamar masuk, padahal kami masih mau berciuman. Untunglah Hani segera berkilah, membereskan bajuku. Kemudian kami harus lebih berhati-hati. Apalagi di kampus, jika Hani sudah rindu padaku, dia bingung melampiaskannya, terkadang kami pergi ke toilet kami bermesaraan, bercumbu, bahkan tidak jarang kami bolos kuliah hanya untuk menikmati hubungan kami berdua. Jika tidak di toilet ya kami meminjam kamar kos teman kuliah.
Ntah mengapa aku tidak senang lagi melihat sosok pria, itu ungkapan Hani pada ku suatu malam
Lelaki itu semua pendusata, hanya aku orang yang menyayangi nya itu katanya, bahakan kami berjanji tidak ingin berpisah selamnya.
Suatu kali Jeri teman kuliah ku datang ke rumah kemudian kami ngobrol akrab, tiba-tiba Hani datang dengan wajah marah, dia masuk ke kamarku dan membanting pintu. Jeri heran, kemudian Jeri kujelaskan saja, aku takut Jeri mengetahui hubunganku dengan Hani. Sebelum berpisah Jeri sempat-sempatnya mencium pipiku, Hani pun melihatnya, alhasil dia marah besar, Hani sangat cemburu dan tidak menerima. Aku mulai menjelaskan dan ujung-ujungya belaian dan tidur bersama kami lakukan.
Pernah suatu ketika kutunjuk gambar-gambar pria di majalah, aku hanya menilai kecocokannya berpakain, namun Hani marah luar biasa. Dia takut aku meninggalkannya. Kemudian kutegaskan dan kuyakinkan. Sebenarnya ada beberapa teman kampus sempat nyeletuk, kami Lesbi, namun kami cuek saja, kami tidak merasa itu.
Ketertarikan dan keterikatan kami sangat kuat, kami saling mencari, barang lima menit pun kami tidak mau berpisah. Suatu ketika kegiatan kampus ,membagi kelompok dan kami berdua terpisah, tak ayal dosen kami paksa untuk menemukan kami satu kelompok, kami tidak terpisah apa pun caranya.
Suatu sore aku meghubungi Hani, namun tidak dapat. Aku datang ke rumahnya namun tetap saja tak kujumpai Hani. Aku mulai resah aku mulai ridu padanya. Bahkan seminggu sudah kami tak berjumpa.
Apakah dia pindah ke Australia? Ku hubungi pihak kampus, Hani telah pindah ke Surabaya namaun tidak meninggalkan alamat.
Hingga suatu hari datang sepucuk surat
Dear Nia
Sori aku sudah di Surabaya, aku tidak dapat mengabari mu, semua yang kita lakukan ku tuliskan dalam sebuah Diary. Suatu hari mamaku membaca. Tanpa bicara banyak aku diajak dengan paksa ke Surabaya. Surat ini pun aku titip pembantu agar tidak ketahuan mama. Sungguh aku tersiksa tanpamu..
Love
Hani
Aku hanya dapat menangis dan meraung, Hani tidak memberi alamtnya dimana keberadaannya.
Kami Salah Memutuskan
Debur ombak tak mampu berkata apa pun, hening kami berdua masih bisu di pinggir pantai. Kami suka sekali pantai sehingga ketika kami ingin hening kami berlari ke pantai. Seakan pantai dapat menjawab semua kegalauan hati, bahkan penatnya jiwa yang tak ditemukan di dasar hati. Ku tatap ombak tak mau diam, terus beriak.
Kamu suka kan suasana ini Han
Ya, kamu juga kan?
Tentu
Aku dan Hani sudah berteman selama 7 tahun lebih, waktu itu kami sama-sama berminat basket di SMP kami, kecocokan hobi yang membuat kami bersama. Orang tua kami pun akrab dan semakin seperti saudara sendiri.
Sering aku juga menginap di tempat Hani, demikian sebaliknya. Semua asessoris yang kami pakai hampir sama, kami kompak, bahkan seperti kembar. Aku beda dengan Hani, Hani benar-benar cewek, gaya berjalannya, cara berdandan, memilih pakaian, sedangkan aku seperti laki-laki, aku malas memilih pakaian seperti kebanyakan cewek, pakai rok lah, ,memakai bando lah, aku malas mengenakannya. Padahal mamaku membelikan perlengkapan cewek di rumah, maklum hanya aku anak mama yang perempuan, tiga saudara ku laki-laki. Mereka lebih memilih Australia sebagai tempat tinggal mereka. Saudara-saudara ku ikut papa, aku ikut mama, sudah tahu kan arah pembicaraanku, benar.. mama sudah bercerai dua tahun lalu. Papa tinggal di Australia bersama saudara-saudaraku, papa menikah lagi dengan wanita dari Australia, mama tiriku sudah memeiliki 2 anak, waduh papa banyak anak, tapi pasti banyak rejeki. Jika liburan Natal saja aku ke Australia, karena papa merayakn Natal, mama tidak.
Han, sudah sore pulang yuk
Ayuk
Kami berdua mengendarai motor, aku paling berani menegndarai motor sehingga pasti Hani di bonceng saja, setelah di atas motor, seperti biasa Hani memuluk tubuhku dengan erat. Aku tidak tahu, apakah hani meraskahan kehangatan jika bersamaku. Aku tak berani bertanya, aku takut dia marah.
Hari ini ada latihan basket di kampus, seperti biasa aku dan Hani latihan, setelah latihan aku diajak Hani untuk menginap di rumahnya, aku tidak menolaknya. Setelah mandi seperti aku biasa memakai baju tidak di kamar mandi, pasti di kamar tidur, Hani sedang bermain game, tanpa kusadari Hani tidak lagi memperhatikan komputer, namun dia memperhatikan tubuhku, aku mulai merasa ada yang mengamati.
Ada apa Han?
Oh nggak ada apa-apa
Hani terkesan terkejut, dan kembali mengamati komputer, aku hanya menggunakan teng top, dan celana pendek, ya ku pikir di rumah Hani penghuninya cewek jadi nggak masalah bagiku.
Malam harinya sebelum kami tidur seperti biasa kami saling bercerita dan makan kacang, sesekali Hani memeluk tubuhku, ntah mengapa dia seperti itu, namun aku pun menikmatinya, tak masalah bagiku.
Akhirnya kami lelah dan tidur, namun aku merasa ada kejanggalan. Hani tidak tidur namun mengamati tubuh dari rambut hingga kaki, kemudian aku terejut ketika tangan Hani mulai bergerak ke arah wajahku , pipi, bibir, dadaku, dan ah.. mengapa hingga kemaluanku. Aku tersentak terkejut, aku ingin berteriak, namun nanti terdengar mama nya Hani. Kemudian Hani mencium bibirku, namun aku meraskan lain bahkan lebih indah dibanding first kiss ku, waktu aku dicium Edo, teman SMA ku, waktu itu, kami benar-benar rindu, dan suasana malam itu gelap dan tidak ada orang. Edo kemudian menarik wajahku, aku menikmatinya, bahkan hampir saja kami akan melakukan hubungan badan, namun aku segera sadar, aku tidak mau putus sekolah hanya karena hamil.
Aku mulai berpikir, rupanya sore tadi dia mengamati wajah dan tubuhku, mungkinkah dia kagum pada tubuhku, aku tepiskan pikiran itu. Tidak logis seorang Hani suka padaku.
Suatu sore Hani bermain tempatku, namun aku sedang ada di kamar mandi, namun Hani segera masuk kamar mandi kebetulan kamar mandi tidak ku kunci.
Aku juga mau gabung mandi, baru pulang kampus tadi
Kemudian Hani membuka bajunya, aku terbengong ada apa dengan Hani, Namun aku segera mandi, kemudian Hani memelukku, dan wajah kami beradu
Aku suka kamu Nia
Kemudian Hani menciumku, sangat dalam dan lama kami bercium, dan kami berdua menikmati ciuman itu. Anehnya aku tak menolaknya dan terus saja Hani mencium leher tubuhku, dan aku pun sebaliknya. Tanpa sadar kami telah lama di kamar mandi, kami segera menyudahi karena, mamaku memanggil-manggil kami untuk makan malam.
Tetapi ntah mengapa setelah kejadian itu aku serasa melayang-layang dan selalu rindu dengan Hani, jika malam Minggu tak kami lewati bedua, bahakan kami sudah sering menikmati layaknya hubungan badan orang yang sudah menikah. Sesekali Hani memuja tubuhku dan sebaliknya aku pun suka dengan tubuhnya.
Hampir saja kami pernah tertangkap basah kegiatan kami 3 bulan terakhir ini, waktu itu mama nya Hani tanpa mengetuk pintu kamar masuk, padahal kami masih mau berciuman. Untunglah Hani segera berkilah, membereskan bajuku. Kemudian kami harus lebih berhati-hati. Apalagi di kampus, jika Hani sudah rindu padaku, dia bingung melampiaskannya, terkadang kami pergi ke toilet kami bermesaraan, bercumbu, bahkan tidak jarang kami bolos kuliah hanya untuk menikmati hubungan kami berdua. Jika tidak di toilet ya kami meminjam kamar kos teman kuliah.
Ntah mengapa aku tidak senang lagi melihat sosok pria, itu ungkapan Hani pada ku suatu malam
Lelaki itu semua pendusata, hanya aku orang yang menyayangi nya itu katanya, bahakan kami berjanji tidak ingin berpisah selamnya.
Suatu kali Jeri teman kuliah ku datang ke rumah kemudian kami ngobrol akrab, tiba-tiba Hani datang dengan wajah marah, dia masuk ke kamarku dan membanting pintu. Jeri heran, kemudian Jeri kujelaskan saja, aku takut Jeri mengetahui hubunganku dengan Hani. Sebelum berpisah Jeri sempat-sempatnya mencium pipiku, Hani pun melihatnya, alhasil dia marah besar, Hani sangat cemburu dan tidak menerima. Aku mulai menjelaskan dan ujung-ujungya belaian dan tidur bersama kami lakukan.
Pernah suatu ketika kutunjuk gambar-gambar pria di majalah, aku hanya menilai kecocokannya berpakain, namun Hani marah luar biasa. Dia takut aku meninggalkannya. Kemudian kutegaskan dan kuyakinkan. Sebenarnya ada beberapa teman kampus sempat nyeletuk, kami Lesbi, namun kami cuek saja, kami tidak merasa itu.
Ketertarikan dan keterikatan kami sangat kuat, kami saling mencari, barang lima menit pun kami tidak mau berpisah. Suatu ketika kegiatan kampus ,membagi kelompok dan kami berdua terpisah, tak ayal dosen kami paksa untuk menemukan kami satu kelompok, kami tidak terpisah apa pun caranya.
Suatu sore aku meghubungi Hani, namun tidak dapat. Aku datang ke rumahnya namun tetap saja tak kujumpai Hani. Aku mulai resah aku mulai ridu padanya. Bahkan seminggu sudah kami tak berjumpa.
Apakah dia pindah ke Australia? Ku hubungi pihak kampus, Hani telah pindah ke Surabaya namaun tidak meninggalkan alamat.
Hingga suatu hari datang sepucuk surat
Dear Nia
Sori aku sudah di Surabaya, aku tidak dapat mengabari mu, semua yang kita lakukan ku tuliskan dalam sebuah Diary. Suatu hari mamaku membaca. Tanpa bicara banyak aku diajak dengan paksa ke Surabaya. Surat ini pun aku titip pembantu agar tidak ketahuan mama. Sungguh aku tersiksa tanpamu..
Love
Hani
Aku hanya dapat menangis dan meraung, Hani tidak memberi alamtnya dimana keberadaannya.
Senin, 16 Februari 2009
cerpen lagi neh
Aku akhiri
Kata saja tidak cukup untuk ku yakin akan sikap Riko, jika ada cara lain pasti sudah terjadi, kini hubungan itu makin jelas.
Perlahan mega mendung menatap gelisah di ujung mataku. Aku tetap duduk di beranda rumah, sesekali aku menguap. Mungkin ini puncak kegelisajanku, kemarin aku bertemu dengan kakak tingkatku, dia mengatakan kalau Riko tidak muncul di kampus sudah lima hari. Riko tidak memeberi kabar kepadaku, memang hubungan kami berdua bisa dikatakan tidak begitu jauh. Tetapi kadang aku berpikir kalau kami tidak mempunyai hubungan khusus mengapa kami terkadang tidak begitu dekat juga, aku hanya tetap tertelan bisunya malam, aku hanya dapat berontak dengan hati kecilku.
Aku ingat waktu itu Riko katakana padaku tidak bisa jauh dariku, menurutku pertemuan kami berdua di batas kewajaran seperti lainnya, setipa hari berjumpa di kampus. Sesekali makan siang bersama di kantin kampus, jika malam minggu tidak ada kegaitan khusus, seperti apel atau jalan berdua. Kami lebih cendrung melakukan kegiatan dengan kelompok kami masing-masing, maklum kami berdua punya kelompok yang tidak dapat dipisahkan dengan teman-teman lain. Ah sudahlah aku nggak akan pusing memikirkan semua
Mataku sudah mengantuk, mulialah badanku ku gerak-gerakkan. Ku hempaskan badanku ke tempat tidurku, sesaat kutarik selimutku,
Ah malam yang pekat aku akn tidur, tetapi beberapa saat aku masih belum bisa memejamkan mata. Aku bangun dan mulai melangkahkan kakiku ke luar kamar, dengan langkah kaki yang lemah ku hampiri ruang tengah, ku lihat rokok di meja dan mulai kunyalakan dan mulai kuhisap. Kegiatan itu ter ulang lagi padahal sejak dua tahun ini aku melatih diri untuk tidak merokok tapi malam itu entah mengapa aku mulai pusing dengan segala masalahku. Terus saja kuhisap rokok yang terselip di jari tengah, tangan kananku.
Aku makin heran tidak dapat tidur, dan lamunanku terus memikirkan tentang semua kisahku dengan Riko. Aku juga tidak mengerti, mengapa hanya dengan pengaduan kakak tingkatku aku jadi pusing memikirkan dia. Aku masih ingat waktu itu aku dan Riko habis-habisan dimarahi mamaku agar tidak bertemu lagi. Riko memang agak aneh khusunya penampilannya, rambut cepak tetapi asessorisnya di telinga, hidung, bahkan jari-jarinya dihisasi dengan beraneka macam. Mungkin mama ku kira wajarnya pria tidak memakai anting-anting dan asessoris yang aneh. Terkadang mamaku hanya diam dengan hubungan kami, yang aku pun tanyakan keberadaannya. Tidak terasa rokok yang kuhisap hampir satu bungkus. Mungkin aku bisa gila memikirkan Riko . Sesaat kucari di phone book HP ku, dengan abjad R. Mulai kutelephone, kudengar nada sambung, tetapi langsung lenyap. Berulang kali kuulangi hasilnya sama. Aku mulai kehabisan akal untuk mengetahui keberadaannya, belum pernah hal ini terjadi kalau dia akan pergi ke luar kota atau malas kuliah pasti aku dikabari.
Hampir saja aku kehabisan akal, tetapi kemudian mulai ku tinggalkan pesan singkat untuknya,
Lu dimana?hub gw
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk ke HP ku
Ge, si Riko ada di Denpasar
Tanpa kubalas sms itu langsung kuhubungi no yang mengirim pesan barusan yaitu Sita, kemudian tersambungkan, dari sana terdnegar suara,dan mulailah kami saling berbicara.
Hari ini adalah hari ketujuh aku dan Riko tak berkomunikasi, menurut Sita Riko sedang di Denpasar, dan tidak diketahui apa kegiatannya. Sita pun dikabari ayahnya yang sedang tugas di Denpasar. Ayah Sita sanagat mengenal Riko, karena dulu pernah bekerjasama dengan restoran ayah Sita dalam suatu acara demo masak.
Aku hanya berkutat dengan maslahku, padahal tugas kampus menumpuk, badanku kian hari makin lemas sja, makan pun mulai berkurang. Hal yang paling kutakuti adalah kebiasaan merokok makin meningkat, untung saja kegiatan kumpul-kumpul ku agak tidak kugemari. Kalau saja aku berkumpul, pasti aku hanya menghambur-hamburkan uang, makan-makan dan belanja,
Aku hanya berkutat di kamr tidurku dari jam 10.00 padahal sekarang sudah jam 14.00, ntah sudah berapa kali mamaku menyuruh makan, tetapi mulutku tetap tidak menyentuh apa pun. Sesaat nada panggilan dari HP ku berbunyi, kemudian kuangkat. Dari jauh terdengan suara yang taka sing di telingaku , lalu aku menjerti
Ke mana aja lu jelek?
Yang tak lain adlah Riko. Mulai lah kami saling ebrcerita. Sebenarnya aku meneteskan air mata, karena rsa kangenku yang luar biasa. Satu jam kami saling bertelepon, kemudian pembicaraan kami berakhir.
Aku mengetahui masalah Riko dari pembicaraan itu, Riko sedang bernasalah dengan ibu tirinya. Ibu tirinya selalu minta bermacam-macam pada Riko, setelah meningga ayah kandungnya kelakuan ibu tirinya semakin aneh, Riko memiliki 2 adik, yang 1 ikut ibu kandungnya di Uzbekistan, dan yang s1 lagi bersama ibu tirinya.
Riko pernah mencoba bunuh diri namun selalu gagal, kemudian aku memberi semangat untuk dia tetap bertahan hidup. Riko mulai mampu lagi berthan dengan hidupnya.
Akhirnya kuberanikan diri ke Denpasar,meskipun mamaku besrikeras melarangku, tetapi dukungan tanteku sangat menguatkan hatiku untuk menjumpai Riko di Bali. Tanteku tidak memilki anak, sehingga aku dianggap seperti anak kandungnya.
Sesampai di Denpasar, kucari tempat penginapan, dan segera kuhubungi Riko. Kami berjumpa dan kami saling bercerita. Riko tetap ingin bertahan di Denpasar. Aku sempat protes dan mengajak dia kembali, namun hatinya bersikeras akan tetap di Denpasar. Riko membuat usaha restoran dengan beberapa teman, dia ingin merjut mimpi di Denpasar. Aku merajuk namun hatinya tetap beku, dan saat itu adalah saat dimana aku harus merelakan saat dimana kami pernah punya sejarah, meski sejarah itu akan membisu dan tak kan terbentuk. Hatiku remuk dan berantakan. Aku tinggalkan Denpasar dengan senyum yang pedih.
Aku nggak tahu Ge, apakah waktu mempertemukan kitaHanya itu kata-kata Riko sebelum keberangkatanku ke rumah, mataku lebam, karena air mata yang tak terbendung lagi. Selama perjalanan pulang aku Cuma titipkan salam pada angin rindu dan harapku. Riko akan menemukan jawaban dari pertanyaan hidupnya.
Kata saja tidak cukup untuk ku yakin akan sikap Riko, jika ada cara lain pasti sudah terjadi, kini hubungan itu makin jelas.
Perlahan mega mendung menatap gelisah di ujung mataku. Aku tetap duduk di beranda rumah, sesekali aku menguap. Mungkin ini puncak kegelisajanku, kemarin aku bertemu dengan kakak tingkatku, dia mengatakan kalau Riko tidak muncul di kampus sudah lima hari. Riko tidak memeberi kabar kepadaku, memang hubungan kami berdua bisa dikatakan tidak begitu jauh. Tetapi kadang aku berpikir kalau kami tidak mempunyai hubungan khusus mengapa kami terkadang tidak begitu dekat juga, aku hanya tetap tertelan bisunya malam, aku hanya dapat berontak dengan hati kecilku.
Aku ingat waktu itu Riko katakana padaku tidak bisa jauh dariku, menurutku pertemuan kami berdua di batas kewajaran seperti lainnya, setipa hari berjumpa di kampus. Sesekali makan siang bersama di kantin kampus, jika malam minggu tidak ada kegaitan khusus, seperti apel atau jalan berdua. Kami lebih cendrung melakukan kegiatan dengan kelompok kami masing-masing, maklum kami berdua punya kelompok yang tidak dapat dipisahkan dengan teman-teman lain. Ah sudahlah aku nggak akan pusing memikirkan semua
Mataku sudah mengantuk, mulialah badanku ku gerak-gerakkan. Ku hempaskan badanku ke tempat tidurku, sesaat kutarik selimutku,
Ah malam yang pekat aku akn tidur, tetapi beberapa saat aku masih belum bisa memejamkan mata. Aku bangun dan mulai melangkahkan kakiku ke luar kamar, dengan langkah kaki yang lemah ku hampiri ruang tengah, ku lihat rokok di meja dan mulai kunyalakan dan mulai kuhisap. Kegiatan itu ter ulang lagi padahal sejak dua tahun ini aku melatih diri untuk tidak merokok tapi malam itu entah mengapa aku mulai pusing dengan segala masalahku. Terus saja kuhisap rokok yang terselip di jari tengah, tangan kananku.
Aku makin heran tidak dapat tidur, dan lamunanku terus memikirkan tentang semua kisahku dengan Riko. Aku juga tidak mengerti, mengapa hanya dengan pengaduan kakak tingkatku aku jadi pusing memikirkan dia. Aku masih ingat waktu itu aku dan Riko habis-habisan dimarahi mamaku agar tidak bertemu lagi. Riko memang agak aneh khusunya penampilannya, rambut cepak tetapi asessorisnya di telinga, hidung, bahkan jari-jarinya dihisasi dengan beraneka macam. Mungkin mama ku kira wajarnya pria tidak memakai anting-anting dan asessoris yang aneh. Terkadang mamaku hanya diam dengan hubungan kami, yang aku pun tanyakan keberadaannya. Tidak terasa rokok yang kuhisap hampir satu bungkus. Mungkin aku bisa gila memikirkan Riko . Sesaat kucari di phone book HP ku, dengan abjad R. Mulai kutelephone, kudengar nada sambung, tetapi langsung lenyap. Berulang kali kuulangi hasilnya sama. Aku mulai kehabisan akal untuk mengetahui keberadaannya, belum pernah hal ini terjadi kalau dia akan pergi ke luar kota atau malas kuliah pasti aku dikabari.
Hampir saja aku kehabisan akal, tetapi kemudian mulai ku tinggalkan pesan singkat untuknya,
Lu dimana?hub gw
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk ke HP ku
Ge, si Riko ada di Denpasar
Tanpa kubalas sms itu langsung kuhubungi no yang mengirim pesan barusan yaitu Sita, kemudian tersambungkan, dari sana terdnegar suara,dan mulailah kami saling berbicara.
Hari ini adalah hari ketujuh aku dan Riko tak berkomunikasi, menurut Sita Riko sedang di Denpasar, dan tidak diketahui apa kegiatannya. Sita pun dikabari ayahnya yang sedang tugas di Denpasar. Ayah Sita sanagat mengenal Riko, karena dulu pernah bekerjasama dengan restoran ayah Sita dalam suatu acara demo masak.
Aku hanya berkutat dengan maslahku, padahal tugas kampus menumpuk, badanku kian hari makin lemas sja, makan pun mulai berkurang. Hal yang paling kutakuti adalah kebiasaan merokok makin meningkat, untung saja kegiatan kumpul-kumpul ku agak tidak kugemari. Kalau saja aku berkumpul, pasti aku hanya menghambur-hamburkan uang, makan-makan dan belanja,
Aku hanya berkutat di kamr tidurku dari jam 10.00 padahal sekarang sudah jam 14.00, ntah sudah berapa kali mamaku menyuruh makan, tetapi mulutku tetap tidak menyentuh apa pun. Sesaat nada panggilan dari HP ku berbunyi, kemudian kuangkat. Dari jauh terdengan suara yang taka sing di telingaku , lalu aku menjerti
Ke mana aja lu jelek?
Yang tak lain adlah Riko. Mulai lah kami saling ebrcerita. Sebenarnya aku meneteskan air mata, karena rsa kangenku yang luar biasa. Satu jam kami saling bertelepon, kemudian pembicaraan kami berakhir.
Aku mengetahui masalah Riko dari pembicaraan itu, Riko sedang bernasalah dengan ibu tirinya. Ibu tirinya selalu minta bermacam-macam pada Riko, setelah meningga ayah kandungnya kelakuan ibu tirinya semakin aneh, Riko memiliki 2 adik, yang 1 ikut ibu kandungnya di Uzbekistan, dan yang s1 lagi bersama ibu tirinya.
Riko pernah mencoba bunuh diri namun selalu gagal, kemudian aku memberi semangat untuk dia tetap bertahan hidup. Riko mulai mampu lagi berthan dengan hidupnya.
Akhirnya kuberanikan diri ke Denpasar,meskipun mamaku besrikeras melarangku, tetapi dukungan tanteku sangat menguatkan hatiku untuk menjumpai Riko di Bali. Tanteku tidak memilki anak, sehingga aku dianggap seperti anak kandungnya.
Sesampai di Denpasar, kucari tempat penginapan, dan segera kuhubungi Riko. Kami berjumpa dan kami saling bercerita. Riko tetap ingin bertahan di Denpasar. Aku sempat protes dan mengajak dia kembali, namun hatinya bersikeras akan tetap di Denpasar. Riko membuat usaha restoran dengan beberapa teman, dia ingin merjut mimpi di Denpasar. Aku merajuk namun hatinya tetap beku, dan saat itu adalah saat dimana aku harus merelakan saat dimana kami pernah punya sejarah, meski sejarah itu akan membisu dan tak kan terbentuk. Hatiku remuk dan berantakan. Aku tinggalkan Denpasar dengan senyum yang pedih.
Aku nggak tahu Ge, apakah waktu mempertemukan kitaHanya itu kata-kata Riko sebelum keberangkatanku ke rumah, mataku lebam, karena air mata yang tak terbendung lagi. Selama perjalanan pulang aku Cuma titipkan salam pada angin rindu dan harapku. Riko akan menemukan jawaban dari pertanyaan hidupnya.
tugas kelas 7 SMP Oel BSD
1. carilah sastrawan angkatan 20-an, 45, 60-an, dan 90- an
2. Carilah karya sastra angkatan di atas
3. Tulsikan di kertas dikumpulkan akhir Maret 2009
4. Bacalah referensi di perpustakaan
5. Selamat dan Sukses !
2. Carilah karya sastra angkatan di atas
3. Tulsikan di kertas dikumpulkan akhir Maret 2009
4. Bacalah referensi di perpustakaan
5. Selamat dan Sukses !
Kamis, 12 Februari 2009
KEMBALIKAN ASA KU
Belaian angin malam itu membuatku terbuai, baru dua minggu aku tidak bersama Kikan. Kikan mendapat kesempatan belajar dari kantornya. Serasa sepi hatiku, Andre mengajak untuk nongkrong di kafenya malam ini. Aku tolak, jujur aku sungguh rindu pada Kikan. Sempat tuk berpikir ke rumah Linda, teman kuliah ku dulu, kudengar dia masih jomblo.Apakah malam ini akan segera ke sana ya, belum saja rambut ku rapikan, dering suara Hpku berbunyi,
Astaga Kikan
Halo Bim, lagi apa?
Lagi di kamar saja, tidur-tiduran
Loh nggak jadi nongkrong di kafe Andre?
Nggak
Aku lagi buat tugas neh, tapi tiba-tiba kangen kamu
Suara merajuk Kikan tak dapat kubendung, sungguh aku rindu dia
Aku juga Kan
Oh gitu, sama dong
Malam itu kami berbagi cerita, kisah menghampiri Linda tidak ku hiraukan, ntah mengapa selama aku berjalan dengan Kikan selalu saja ada hal yang membuat aku untuk tidak selingkuh, sewaktu aku bertengkar dengan Kikan tentang kiriman bunga mawar untuknya, aku cemburu. Setelah kejadian itu aku mencoba mendekati Kristin, dia teman kantor ku yang baik dan cantik. Beberepa kali kami jalan, sekedar menonton di bioskop, namun suatu ketika SMS ku seharusnya untuk Kristin nyasar ke Kikan, luar biasa dia marah, dan aku mencoba menjelaskan. Di saat seperti itu aku tidak bisa mengelak lagi kalau aku salah.
Kejadian itu pun sama dengan hal ini, atau ini pertanda agar aku tidak selingkuh. Kikan sudah sangat baik, buatku dan keluarga, betapa tidak Mama sebelum meninggal sempat dirawat di rumah sakit, karena kangker payudara. Mama dirawat dengan kasih oleh Kikan, maklum aku tak punya saudara perempuan, yang ku punya dua adik laki-laki. Kikan sampai sering membolos kuliah, karena dia peduli pada almarhumah mama. Meski kini mama telah pergi untuk selamanya.
Malam itu aku belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama, aku harus belajar menunggu Kikan. Rencana ku dan Kikan, setelah dia kembali dari tugas belajar kami akan menikah.
Aku sungguh menunggu moment itu Kan
Bisik ku dalam hati, seraya berdoa agar cinta kami akan abadi.
Siang ini terasa lelah sekali, pekerjaan menumpuk dan data-data harus di kirimkan segera, sambil sesekali ku amati layar komputer, mungkin saja Kikan akan kirim kabar
Hai say, sibuk ya
Lalu ku balas
Ya, lumayan
Ya udah ntar aja Kikan ngomongnya
Ga apa-apa, Kikan mau bilang apa?
Kikan besok terbang ke Jakarta
Ha? Yang bener kan
Ya, pak Samuel minta aku kembali sementara ke Jakarta, ada tugas yang harus aku kerjakan
Oh ya…surprise dong untuk ku
Hehehe aku rindu kamu Bim
Aku juga honey…
Percakapan di chating harus disudahi , karena tugasku menumpuk. Segera ku kerjakan tugas-tugas dengan penuh semangat, aku senang kalau Kikan akan kembali ke Jakarta, entah dua hari atau sampai kapan pun akan aku gunkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Hai Kikan aku rindu kamu
Kami berpelukan di bandara, aku begitu kangen dengan dia, demikian pula dengan Kikan.
Kami segera menuju rumah Kikan, sesampai di rumah Kikan, Kikan disambut dengan hangat dengan keluarganya. Malam itu aku menikamti makan bersama dengan keluarga Kikan.
Hari ini sepulang kerja aku akan mempersiapkan acara untuk aku dan Kikan, Kikan akan ku ajak makan nasi goreng kesukaannya, di Jalan Merdeka, wah pasti dia senang sekali.
Ternyata benar, Kikan senang sekali kalau aku ajak dia. Kami menikamti makan malam yang luar biasa dan indah sekali. Rasanya aku tidak rela kalau Kikan akan kembali ke Singapura untuk belajar.
Di sana pasti cowok-cowoknya ganteng ya Kan
Ye, kamu cemburu ya, kamu tetep yang ganteng
Kami tertawa dan bercanda ria, tidak lupa kami menikamti es krim, kesukaan Kikan. Kikan suka dengan es krim rasa cokelat. Betapa bahagia mengingat perkenalanku dengan Kikan. Kami sama-sama tidak tahu kalau kami satu kampus, waktu itu ada acara bazaar di sebuah tempat, kami panitia, lama aku ketahui kalau Kikan satu kampus denganku, meski lain jurusan. Kami kemudian dikenalkan oleh teman Kikan, awalnya kami masih biasa, karena tidak ada perasaan apa-apa. Kemudian, suatu kali aku bermain ke rumahnya dan ingin aja menyatakan cinta pada Kikan, ditolak pun sudah nasib, pikirku waktu itu. Tidak tahunya Kikan pun suka padaku. Akhirnya kami jadi hingga saat ini.
Saat yang aku tidak inginkan saat Kikan harus kembali ke Singapura, aku mulai lemas dan tak bertenaga. Serasa separuh nafasku kabur, entah ke mana.
Mulai hari-hari aku lalui sendiri dan terus mendekam sepi, sesekali Reno ajak aku ke diskotik, namun tetap saja aku tidak merasa terhibur. Karena pasti pulang-pulang akan mabuk.
Aku mulai bingung karena Kikan sudah tiga hari tidak memberi kabar, mungkin dia sibuk. Sudah ku coba meneleponnya namun nada sibuk selalu saja terdengar. Jika aku chating pun tetap tak ada balasannya.
Hingga suatu ketika Kikan memberi kabar, katanya dia sehat-sehat saja dan sedang sibuk dengan tugas kuliah.
Bulan ini aku semakin terasa hampa, Kikan sudah sibuk dengan dunianya. Aku bingung akan lari ke mana, aku berencana mengunjungi Kikan ke Singapura, namun Kikan menolak, karena sedang sangat sibuk dan padat. Aku mulai hilang semangat, bahkan kali ini kali ke dua akhirnya aku ke diskotik, aku bingung harus bagaimana.
Bim, aku akan kembali ke Jakarta
Ucap Kikan suatu hari di telepon
Aku rindu kamu juga kan, ada acara apa ke Jakarta, kangen aku kan
Ada yang aku harus bereskan
Aku mulai bingung akan kata- kata Kikan namun aku pikir dia rindu padaku.
Hari ini dengan gembira ku menjemput Kikan di bandara, hati ku deg-deg an maklum sudah dua bulan tidak bertemu dengan Kikan.
Alangkah terkejutnya aku melihat Kikan digandeng dengan seorang pria, aku mulai bertanya apakah pria itu saudara Kikan atau… aku terdiam kaku, lalu Kikan menghampiriku
Hai, Bim
Hai
Sapaku lemah
Jer, ini Bimo
Jeremi
Bimo
Aku datang ke Jakarta untuk menggelar acara pernikahan kami Bim.
Kalimat itu serasa memecahkan gendang telingaku, ntah aku menginjak tanah atau tidak saat itu. Aku belajar tegar mendengar kalimat dari Kikan.
Aku harus belajar untuk pasrah pada semua kejadian ini, betapa tidak tekad ku sudah bulat akan mengajak Kikan menikah namun Kikan lebih memilih orang lain. Belakangan ku ketahui, Kikan dapat kesempatan belajar di Singapura, karena mertuanya. Agar Kikan dapat berkenalan dengan anak bosnya, maka Kikan diajak untuk sekolah ke Singapura. Betapa aku harus menerima kenyataan yang menurutku tak dapat ku terima. Bahkan Kikan tak memberikan sedikit pun alasan mengapa memilih pria itu.
Mendung itu bergelayut di hati, terus kucari makna cinta sesungguhnya, entah kapan waktu akan berdamai dengan ku. Kini aku memilih bekerja di suatu tempat yang jauh dari semuanya. Aku meilih bekerja di Medan, aku tutup semua kenangan dengan Kikan, bahkan suara riak air di kolam malam ini tak membuat hatiku akan menangis. Karena hidup bukan hari ini saja. Tapi ada hari esok.
Belaian angin malam itu membuatku terbuai, baru dua minggu aku tidak bersama Kikan. Kikan mendapat kesempatan belajar dari kantornya. Serasa sepi hatiku, Andre mengajak untuk nongkrong di kafenya malam ini. Aku tolak, jujur aku sungguh rindu pada Kikan. Sempat tuk berpikir ke rumah Linda, teman kuliah ku dulu, kudengar dia masih jomblo.Apakah malam ini akan segera ke sana ya, belum saja rambut ku rapikan, dering suara Hpku berbunyi,
Astaga Kikan
Halo Bim, lagi apa?
Lagi di kamar saja, tidur-tiduran
Loh nggak jadi nongkrong di kafe Andre?
Nggak
Aku lagi buat tugas neh, tapi tiba-tiba kangen kamu
Suara merajuk Kikan tak dapat kubendung, sungguh aku rindu dia
Aku juga Kan
Oh gitu, sama dong
Malam itu kami berbagi cerita, kisah menghampiri Linda tidak ku hiraukan, ntah mengapa selama aku berjalan dengan Kikan selalu saja ada hal yang membuat aku untuk tidak selingkuh, sewaktu aku bertengkar dengan Kikan tentang kiriman bunga mawar untuknya, aku cemburu. Setelah kejadian itu aku mencoba mendekati Kristin, dia teman kantor ku yang baik dan cantik. Beberepa kali kami jalan, sekedar menonton di bioskop, namun suatu ketika SMS ku seharusnya untuk Kristin nyasar ke Kikan, luar biasa dia marah, dan aku mencoba menjelaskan. Di saat seperti itu aku tidak bisa mengelak lagi kalau aku salah.
Kejadian itu pun sama dengan hal ini, atau ini pertanda agar aku tidak selingkuh. Kikan sudah sangat baik, buatku dan keluarga, betapa tidak Mama sebelum meninggal sempat dirawat di rumah sakit, karena kangker payudara. Mama dirawat dengan kasih oleh Kikan, maklum aku tak punya saudara perempuan, yang ku punya dua adik laki-laki. Kikan sampai sering membolos kuliah, karena dia peduli pada almarhumah mama. Meski kini mama telah pergi untuk selamanya.
Malam itu aku belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama, aku harus belajar menunggu Kikan. Rencana ku dan Kikan, setelah dia kembali dari tugas belajar kami akan menikah.
Aku sungguh menunggu moment itu Kan
Bisik ku dalam hati, seraya berdoa agar cinta kami akan abadi.
Siang ini terasa lelah sekali, pekerjaan menumpuk dan data-data harus di kirimkan segera, sambil sesekali ku amati layar komputer, mungkin saja Kikan akan kirim kabar
Hai say, sibuk ya
Lalu ku balas
Ya, lumayan
Ya udah ntar aja Kikan ngomongnya
Ga apa-apa, Kikan mau bilang apa?
Kikan besok terbang ke Jakarta
Ha? Yang bener kan
Ya, pak Samuel minta aku kembali sementara ke Jakarta, ada tugas yang harus aku kerjakan
Oh ya…surprise dong untuk ku
Hehehe aku rindu kamu Bim
Aku juga honey…
Percakapan di chating harus disudahi , karena tugasku menumpuk. Segera ku kerjakan tugas-tugas dengan penuh semangat, aku senang kalau Kikan akan kembali ke Jakarta, entah dua hari atau sampai kapan pun akan aku gunkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Hai Kikan aku rindu kamu
Kami berpelukan di bandara, aku begitu kangen dengan dia, demikian pula dengan Kikan.
Kami segera menuju rumah Kikan, sesampai di rumah Kikan, Kikan disambut dengan hangat dengan keluarganya. Malam itu aku menikamti makan bersama dengan keluarga Kikan.
Hari ini sepulang kerja aku akan mempersiapkan acara untuk aku dan Kikan, Kikan akan ku ajak makan nasi goreng kesukaannya, di Jalan Merdeka, wah pasti dia senang sekali.
Ternyata benar, Kikan senang sekali kalau aku ajak dia. Kami menikamti makan malam yang luar biasa dan indah sekali. Rasanya aku tidak rela kalau Kikan akan kembali ke Singapura untuk belajar.
Di sana pasti cowok-cowoknya ganteng ya Kan
Ye, kamu cemburu ya, kamu tetep yang ganteng
Kami tertawa dan bercanda ria, tidak lupa kami menikamti es krim, kesukaan Kikan. Kikan suka dengan es krim rasa cokelat. Betapa bahagia mengingat perkenalanku dengan Kikan. Kami sama-sama tidak tahu kalau kami satu kampus, waktu itu ada acara bazaar di sebuah tempat, kami panitia, lama aku ketahui kalau Kikan satu kampus denganku, meski lain jurusan. Kami kemudian dikenalkan oleh teman Kikan, awalnya kami masih biasa, karena tidak ada perasaan apa-apa. Kemudian, suatu kali aku bermain ke rumahnya dan ingin aja menyatakan cinta pada Kikan, ditolak pun sudah nasib, pikirku waktu itu. Tidak tahunya Kikan pun suka padaku. Akhirnya kami jadi hingga saat ini.
Saat yang aku tidak inginkan saat Kikan harus kembali ke Singapura, aku mulai lemas dan tak bertenaga. Serasa separuh nafasku kabur, entah ke mana.
Mulai hari-hari aku lalui sendiri dan terus mendekam sepi, sesekali Reno ajak aku ke diskotik, namun tetap saja aku tidak merasa terhibur. Karena pasti pulang-pulang akan mabuk.
Aku mulai bingung karena Kikan sudah tiga hari tidak memberi kabar, mungkin dia sibuk. Sudah ku coba meneleponnya namun nada sibuk selalu saja terdengar. Jika aku chating pun tetap tak ada balasannya.
Hingga suatu ketika Kikan memberi kabar, katanya dia sehat-sehat saja dan sedang sibuk dengan tugas kuliah.
Bulan ini aku semakin terasa hampa, Kikan sudah sibuk dengan dunianya. Aku bingung akan lari ke mana, aku berencana mengunjungi Kikan ke Singapura, namun Kikan menolak, karena sedang sangat sibuk dan padat. Aku mulai hilang semangat, bahkan kali ini kali ke dua akhirnya aku ke diskotik, aku bingung harus bagaimana.
Bim, aku akan kembali ke Jakarta
Ucap Kikan suatu hari di telepon
Aku rindu kamu juga kan, ada acara apa ke Jakarta, kangen aku kan
Ada yang aku harus bereskan
Aku mulai bingung akan kata- kata Kikan namun aku pikir dia rindu padaku.
Hari ini dengan gembira ku menjemput Kikan di bandara, hati ku deg-deg an maklum sudah dua bulan tidak bertemu dengan Kikan.
Alangkah terkejutnya aku melihat Kikan digandeng dengan seorang pria, aku mulai bertanya apakah pria itu saudara Kikan atau… aku terdiam kaku, lalu Kikan menghampiriku
Hai, Bim
Hai
Sapaku lemah
Jer, ini Bimo
Jeremi
Bimo
Aku datang ke Jakarta untuk menggelar acara pernikahan kami Bim.
Kalimat itu serasa memecahkan gendang telingaku, ntah aku menginjak tanah atau tidak saat itu. Aku belajar tegar mendengar kalimat dari Kikan.
Aku harus belajar untuk pasrah pada semua kejadian ini, betapa tidak tekad ku sudah bulat akan mengajak Kikan menikah namun Kikan lebih memilih orang lain. Belakangan ku ketahui, Kikan dapat kesempatan belajar di Singapura, karena mertuanya. Agar Kikan dapat berkenalan dengan anak bosnya, maka Kikan diajak untuk sekolah ke Singapura. Betapa aku harus menerima kenyataan yang menurutku tak dapat ku terima. Bahkan Kikan tak memberikan sedikit pun alasan mengapa memilih pria itu.
Mendung itu bergelayut di hati, terus kucari makna cinta sesungguhnya, entah kapan waktu akan berdamai dengan ku. Kini aku memilih bekerja di suatu tempat yang jauh dari semuanya. Aku meilih bekerja di Medan, aku tutup semua kenangan dengan Kikan, bahkan suara riak air di kolam malam ini tak membuat hatiku akan menangis. Karena hidup bukan hari ini saja. Tapi ada hari esok.
Rabu, 11 Februari 2009
SAPA SAJA AKU DENGAN NAMA HARAPAN
Sang mentari berkawan dengan burung-burung saat itu, aku terkejut mengapa mereka begitu akrab. Padahal di luar sana masih banyak yang tak dapat bersahabat, yang satu bagai hariamau yang akan menerkam. Si ular pun berbisa tak mau diusik, kini sesekali kata damai hanya dia awang-awang dan mimpi semu. Pernah suatu kali burung-burung mengajak tuk beradamai namun sosok egois menatap merah dan tak henti-henti mengacungkan jari telunjuknya.
Rumah yang beratapkan kerinduan dan dinding yang berwarna kegembiraan menatapku kagum, pernah aku terhempas di pojok ruangan, kemudian jiwa dan tubuh bertengkar, hanya tubuh terhempas di atas sebuah kursi, jiwa pergi ntah ke mana, katanya ingin menyendiri dan bertapa. Pernah ku dengar dari sang angin kalau jiwa kadang-kadang meneteskan air mata rindu tubuh, namun tengsin katanya.Tubuh hanya di atas kursi namun kegelapan tak menyapa sedikit pun, kursi tetap beku dan enggan berkata mungkin sudah bosan dengan perilaku tubuh dan jiwa seperti itu
“ Basi”
Itu katanya, apakah tak ada lagi kelembutan angin malam mendendangkan lagu alam berkumandang, apakah awan kesejukan merangkul kesepian ku. Aku terus bertanya akankah ada teman atau pun lawan mengajak ku berkomunikasi. Dinding beku bahkan membuang mukanya sejauh-jauhnya.
“ Oh duniaku”
Hanya itu suara ku yang sanggup meluncur dari sebuah anggota tubuh yang disebut mulut. Tubuh tak lagi mau kompromi, bahkan otak pun sudah keram dan tak sanggup tubuh menopang. Tubuh masih sendiri dan terus menatap kosong, sesekali air yang disapa air mata bergerak sangat perlahan, rasanya asin, seandainya ada si Poki, anjing sebelah rumah yang berwana cokelat itu pasti ikut menunduk seraya berdoa agar tuannya terselamatkan dari siksa dan duka.
Tubuh dapat tidur malam itu, namun mimpi kengeriaan menghampiri dan mendekat, mimpi itu berubah menjadi awan gelap, samar-samar melihat jiwa sedang mengejek, karena tubuh sangat lemah dan sedih.
Tubuh terbangun dan air mata hadir di pipi, seraya tubuh akan meletakkan semuanya di atas sebuah bantal. Tubuh berharap esok adalah hari keberuntungan buatnya, meskipun dia ragu apakah pasti dapat dia sentuh sukacita?
Pagi hari tubuh menyapa kesegaran di sebuah tepian sungai dan menyambut tawa gemercik air mungkin bisa jadi sudah dua hari si tubuh tak menyentuh sungai. Sungai terkejut, karena raut wajah tubuh tak semangat, ditawarkan wewangian kehidupan, namun tubuh menolak. Tubuh berlalu begitu saja dan tak mengucapkan terima kasih pada sungai yang membuat dia segar.
Kali ini tubuh berjalan di jalan yang ramai dinikmati oleh tubuh dan jiwa, namun mereka bersatu. Aku hanya diam membisu, ku tatap senyum dan sapa diantara mereka. Ada yang membelai rambut sang kekasih ada yang menggenggam tangan si gadis, ada juga yang memeluk erat tubuh si anak. Ada apa denganku, kami berbeda. Sesekali ku tatap dari ujung kepala hingga kaki ku,
“ Ah aku beda”
Meskipun demikian ku lihat ada seorang lumpuh dapat tertawa dengan riang, si buta dapat menari-nari di atas kursi bahkan, seorang anak tak berkaki tetap menawarkan senyum kepada siapa saja yang dia temui. Aku mulai rindu jiwa
“ Jiwa kamu di mana? Kamu tidak rindu padaku”
Kali ini isak tangis tak dapat terbendung, bahkan tubuhku bergetar, di mana kesempatan ku untuk menatap harapan. Semua sia-sia, atau aku harus lari dari dunia ini dan masuk ke alam kubur saja.
Seorang bapak tua mendekatiku, seakan ingin menghibur, dan membacakan kitab-kitab sukacaita seraya berkata
“ Jangan bersedih”
Namun aku tak kuasa melihat semua, bapak tua itu duduk di sebelahku, sesekali akau ingin bicara. Namun bapak tua itu tidak memperbolehkan aku bicara, aku kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Awan biru di atas merekah, bunga-bunga di taman menari dan bepakaian indah hari ini, namun aku tak menyukai, karena ku pikir ini urusan jiwa, yang dapat menilai. Mengapa jiwa tak mau peduli, dia lari ntah kemana, memangnya hanya dia saja yang ingin dipikirkan, aku sebagai tubuh perlu dilindungi, perlu disayangi.
Deburan air pantai tak mampu lagi. Semua menghempaskan mimpi ku dan telah membuat karang di tubuhku. Berlubang dan berdarah, sempat diobati namun sudah terlalu menganga jadi tidak ada gunanya perban itu. Padahal jika ku ingat hari yang lalu, aku sempat menyombongkan diri mempunyai tubuh yang gemulai, bahkan lekukan tubuhku layaknya gitar Spanyol. Rambutku yang teruarai panjang, bola mataku yang bulat, hidungku yang mancung, dan bibirku merah merekah. Siapa yang tidak terpesona, namun itu tak ada gunanya sekarang, aku abaikan semua kelebihan tubuhku.
“ Jiwa kamu sedang apa di sana? Rindukah kamu padaku? Aku rindu”
Malam datang lagi, tetapi tak ku lihat tanda-tanda harapan akan bertemu dengan jiwa. Aku tahu, jiwa sempat berkata dia sedang patah hati, namun aku cuekin. Aku yang salah tidak peduli dengan dia, aku jengkel pada jiwa, waktu itu aku sangat ingin makan bakso, tetapi jiwa ogah-ogahan, katanya sudah pernah merasakan, kan aku jengkel. Sempat kami saling berdiam diri, tak ada pembicaraan di antara kami. Namun itu betah hanya dua jam, kami sebenarnya saling membutuhkan, namun si ego suka sekali meledek kami, katanya tidak pas kalau kami tidak bertengkar. Ego selalu menjewer kupingku agar aku menajuh dari jiwa. Penyesalan selalu ada di belakang itu kata tiang-tiang listrik di jalan. Mereka sudah banyak menesihati namun aku pikir itu hanya teori mereka tidak merasakan yang ku rasakan.
Sudahlah aku jadi cengeng begini, seharusnya ini urusan jiwa saja, aku tidak akan peduli.
Tubuh tak dapat menahan derita, karena lemas tubuh di larikan ke rumah sakit, dokter mengatakan tubuh hanya perlu cairan dan makanan sehat. Sebenarnya tubuh tidak sakit, tubuh hanya butuh istirahat. Suara halilintar malam itu membuat ku ketakutan, seorang suster mendekat dan menyelimuti aku,
“ Ah hangat sekali”
Malam pun berlalu sepertinya pengaruh suntikan dari dokter, tubuh dapat terlelap atau mungkin tubuh diberi obat tidur agar tidak suka bangun.
Pagi menyapa dengan senyum dan tak lupa pendamping setia si matahari, kemarin sempat matahari malu-malu dan menunujukkan wajah gelapnya. Namun kali ini berbeda.
Aku diguyur dengan kesejukan air, segera kurapikan rambut dan memakai wewangian. Segera aku ingin kembali ke rumah, dan tidak ingin diam di balik tembok putih dan ruangan berbau obat. Ku tatap tubuh-tubuh lemas, namun jiwa di sana pula ikut merasakan kesakitan tubuh. Betapa bahagia mereka. Mereka dapat bergaul akrab, sesekali jiwa menguatkan dan menghibur, sesekali tubuh juga mengacungkan jempol pada jiwa. Indah sekali keakraban mereka.
Sampai kapan aku akan begini, kursi roda menggerakkan tubuhku menuju sebuah kamar, aku telah tiba di rumah. Setelah ku buka pintu kamar, aku terkejut bahkan ingin pingsan, jiwa ada di ruang kamarku, membawa seikat mawar merah, cantik sekali dan menyambutku,
“Akankah ini mimpi?”
Namun jiwa melambaikan tanggannya dan mendekatiku seperti merasa ikut bersedih kemudian jiwa membelai lembut di rambutku.
“ Aku rindu kamu tubuh”
Jiwa berkata di telinga
“ Aku pun demikian jiwa”
Kami bergandengan tangan, kesakitan dalam tubuh tak ku rasakan kembali. Kami duduk berdekatan kami saling bercerita, hingga kami bercerita mengapa kami ingin berjumpa
“ Aku melihat matahari bersahabat dengan burung-burung, aku pikir mengapa kita tidak bisa”
“ Benar tubuh aku lihat pantai dengan ombak juga berkejaran, mereka tidak dapat dipisahkan, aku ingin kita dapat seperti itu”
Kami berdua berpelukan, ada jendela dan pintu bergandengan sambil menari dan bernanyi untuk kami. Kami berjanji tidak ada lagi pertengkaran di antara kami. Kami menyambut dengan riang sebuah harapan.
Sang mentari berkawan dengan burung-burung saat itu, aku terkejut mengapa mereka begitu akrab. Padahal di luar sana masih banyak yang tak dapat bersahabat, yang satu bagai hariamau yang akan menerkam. Si ular pun berbisa tak mau diusik, kini sesekali kata damai hanya dia awang-awang dan mimpi semu. Pernah suatu kali burung-burung mengajak tuk beradamai namun sosok egois menatap merah dan tak henti-henti mengacungkan jari telunjuknya.
Rumah yang beratapkan kerinduan dan dinding yang berwarna kegembiraan menatapku kagum, pernah aku terhempas di pojok ruangan, kemudian jiwa dan tubuh bertengkar, hanya tubuh terhempas di atas sebuah kursi, jiwa pergi ntah ke mana, katanya ingin menyendiri dan bertapa. Pernah ku dengar dari sang angin kalau jiwa kadang-kadang meneteskan air mata rindu tubuh, namun tengsin katanya.Tubuh hanya di atas kursi namun kegelapan tak menyapa sedikit pun, kursi tetap beku dan enggan berkata mungkin sudah bosan dengan perilaku tubuh dan jiwa seperti itu
“ Basi”
Itu katanya, apakah tak ada lagi kelembutan angin malam mendendangkan lagu alam berkumandang, apakah awan kesejukan merangkul kesepian ku. Aku terus bertanya akankah ada teman atau pun lawan mengajak ku berkomunikasi. Dinding beku bahkan membuang mukanya sejauh-jauhnya.
“ Oh duniaku”
Hanya itu suara ku yang sanggup meluncur dari sebuah anggota tubuh yang disebut mulut. Tubuh tak lagi mau kompromi, bahkan otak pun sudah keram dan tak sanggup tubuh menopang. Tubuh masih sendiri dan terus menatap kosong, sesekali air yang disapa air mata bergerak sangat perlahan, rasanya asin, seandainya ada si Poki, anjing sebelah rumah yang berwana cokelat itu pasti ikut menunduk seraya berdoa agar tuannya terselamatkan dari siksa dan duka.
Tubuh dapat tidur malam itu, namun mimpi kengeriaan menghampiri dan mendekat, mimpi itu berubah menjadi awan gelap, samar-samar melihat jiwa sedang mengejek, karena tubuh sangat lemah dan sedih.
Tubuh terbangun dan air mata hadir di pipi, seraya tubuh akan meletakkan semuanya di atas sebuah bantal. Tubuh berharap esok adalah hari keberuntungan buatnya, meskipun dia ragu apakah pasti dapat dia sentuh sukacita?
Pagi hari tubuh menyapa kesegaran di sebuah tepian sungai dan menyambut tawa gemercik air mungkin bisa jadi sudah dua hari si tubuh tak menyentuh sungai. Sungai terkejut, karena raut wajah tubuh tak semangat, ditawarkan wewangian kehidupan, namun tubuh menolak. Tubuh berlalu begitu saja dan tak mengucapkan terima kasih pada sungai yang membuat dia segar.
Kali ini tubuh berjalan di jalan yang ramai dinikmati oleh tubuh dan jiwa, namun mereka bersatu. Aku hanya diam membisu, ku tatap senyum dan sapa diantara mereka. Ada yang membelai rambut sang kekasih ada yang menggenggam tangan si gadis, ada juga yang memeluk erat tubuh si anak. Ada apa denganku, kami berbeda. Sesekali ku tatap dari ujung kepala hingga kaki ku,
“ Ah aku beda”
Meskipun demikian ku lihat ada seorang lumpuh dapat tertawa dengan riang, si buta dapat menari-nari di atas kursi bahkan, seorang anak tak berkaki tetap menawarkan senyum kepada siapa saja yang dia temui. Aku mulai rindu jiwa
“ Jiwa kamu di mana? Kamu tidak rindu padaku”
Kali ini isak tangis tak dapat terbendung, bahkan tubuhku bergetar, di mana kesempatan ku untuk menatap harapan. Semua sia-sia, atau aku harus lari dari dunia ini dan masuk ke alam kubur saja.
Seorang bapak tua mendekatiku, seakan ingin menghibur, dan membacakan kitab-kitab sukacaita seraya berkata
“ Jangan bersedih”
Namun aku tak kuasa melihat semua, bapak tua itu duduk di sebelahku, sesekali akau ingin bicara. Namun bapak tua itu tidak memperbolehkan aku bicara, aku kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Awan biru di atas merekah, bunga-bunga di taman menari dan bepakaian indah hari ini, namun aku tak menyukai, karena ku pikir ini urusan jiwa, yang dapat menilai. Mengapa jiwa tak mau peduli, dia lari ntah kemana, memangnya hanya dia saja yang ingin dipikirkan, aku sebagai tubuh perlu dilindungi, perlu disayangi.
Deburan air pantai tak mampu lagi. Semua menghempaskan mimpi ku dan telah membuat karang di tubuhku. Berlubang dan berdarah, sempat diobati namun sudah terlalu menganga jadi tidak ada gunanya perban itu. Padahal jika ku ingat hari yang lalu, aku sempat menyombongkan diri mempunyai tubuh yang gemulai, bahkan lekukan tubuhku layaknya gitar Spanyol. Rambutku yang teruarai panjang, bola mataku yang bulat, hidungku yang mancung, dan bibirku merah merekah. Siapa yang tidak terpesona, namun itu tak ada gunanya sekarang, aku abaikan semua kelebihan tubuhku.
“ Jiwa kamu sedang apa di sana? Rindukah kamu padaku? Aku rindu”
Malam datang lagi, tetapi tak ku lihat tanda-tanda harapan akan bertemu dengan jiwa. Aku tahu, jiwa sempat berkata dia sedang patah hati, namun aku cuekin. Aku yang salah tidak peduli dengan dia, aku jengkel pada jiwa, waktu itu aku sangat ingin makan bakso, tetapi jiwa ogah-ogahan, katanya sudah pernah merasakan, kan aku jengkel. Sempat kami saling berdiam diri, tak ada pembicaraan di antara kami. Namun itu betah hanya dua jam, kami sebenarnya saling membutuhkan, namun si ego suka sekali meledek kami, katanya tidak pas kalau kami tidak bertengkar. Ego selalu menjewer kupingku agar aku menajuh dari jiwa. Penyesalan selalu ada di belakang itu kata tiang-tiang listrik di jalan. Mereka sudah banyak menesihati namun aku pikir itu hanya teori mereka tidak merasakan yang ku rasakan.
Sudahlah aku jadi cengeng begini, seharusnya ini urusan jiwa saja, aku tidak akan peduli.
Tubuh tak dapat menahan derita, karena lemas tubuh di larikan ke rumah sakit, dokter mengatakan tubuh hanya perlu cairan dan makanan sehat. Sebenarnya tubuh tidak sakit, tubuh hanya butuh istirahat. Suara halilintar malam itu membuat ku ketakutan, seorang suster mendekat dan menyelimuti aku,
“ Ah hangat sekali”
Malam pun berlalu sepertinya pengaruh suntikan dari dokter, tubuh dapat terlelap atau mungkin tubuh diberi obat tidur agar tidak suka bangun.
Pagi menyapa dengan senyum dan tak lupa pendamping setia si matahari, kemarin sempat matahari malu-malu dan menunujukkan wajah gelapnya. Namun kali ini berbeda.
Aku diguyur dengan kesejukan air, segera kurapikan rambut dan memakai wewangian. Segera aku ingin kembali ke rumah, dan tidak ingin diam di balik tembok putih dan ruangan berbau obat. Ku tatap tubuh-tubuh lemas, namun jiwa di sana pula ikut merasakan kesakitan tubuh. Betapa bahagia mereka. Mereka dapat bergaul akrab, sesekali jiwa menguatkan dan menghibur, sesekali tubuh juga mengacungkan jempol pada jiwa. Indah sekali keakraban mereka.
Sampai kapan aku akan begini, kursi roda menggerakkan tubuhku menuju sebuah kamar, aku telah tiba di rumah. Setelah ku buka pintu kamar, aku terkejut bahkan ingin pingsan, jiwa ada di ruang kamarku, membawa seikat mawar merah, cantik sekali dan menyambutku,
“Akankah ini mimpi?”
Namun jiwa melambaikan tanggannya dan mendekatiku seperti merasa ikut bersedih kemudian jiwa membelai lembut di rambutku.
“ Aku rindu kamu tubuh”
Jiwa berkata di telinga
“ Aku pun demikian jiwa”
Kami bergandengan tangan, kesakitan dalam tubuh tak ku rasakan kembali. Kami duduk berdekatan kami saling bercerita, hingga kami bercerita mengapa kami ingin berjumpa
“ Aku melihat matahari bersahabat dengan burung-burung, aku pikir mengapa kita tidak bisa”
“ Benar tubuh aku lihat pantai dengan ombak juga berkejaran, mereka tidak dapat dipisahkan, aku ingin kita dapat seperti itu”
Kami berdua berpelukan, ada jendela dan pintu bergandengan sambil menari dan bernanyi untuk kami. Kami berjanji tidak ada lagi pertengkaran di antara kami. Kami menyambut dengan riang sebuah harapan.
ada lagi yang lain di ahti
ASTAGA…MURIDKU
Siang itu udara sangat panas, aku mulai gerah, meski beberapa menit lagi waktu usai bekerja hari ini. Namun masih ku ketik tugas-tugas sekolah.
“ Belum pulang Bu?”
Sapa Andi muridku, kemudian aku menoleh
“ Eh, belum, kamu belum pulang?”
“ Menunggu Ibu”
Aku tersnyum saja
“Bener Bu, aku nggak bercanda, pulang bareng yuk”
Aku mulai bingung Andi mengajak ku pulang bersama, ada apa gerangan.
“ Thanks Andi, Ibu ada kerjaan lain nih”
Aku menolak dengan alasan yang kubuat, agar dia tidak menunggu.
“Ya aku tunggu sampai Ibu selesai”
Astaga, ada apa dengan Andi, dia murid rajin, sopan, dan ramah pada setiap guru. Namun tidak pernah kelakuan murid lainnya seperti ini. Segera aku berpikir positif saja.
Kubereskan semua buku-buku di meja, ku letakkan tas di bahu ku, segera aku bergerak ke luar ruang kerjaku. Di luar gerbang Andi sudah menunggu di atas sepeda motornya. Segera aku bergerak cepat untuk menghindar dari Andi.
“Ayo Bu, pulang bersama saya”
“ Terimaksih Andi, lain kali saja”
“kenapa sih Ibu menolak, malu ya jalan dengan saya?”
Aku ingin membuktikan bahwa aku nggak malu, segera aku duduk di boncengannya.
Selama di jalan hatiku berkecamuk dan kepalaku mulai berpikir panjang apa yang ada dalam pikiran Andi saat ini.
“ Sebentar ya Bu, kita mampir ke rumah saya dulu, pasti saya antar Ibu”
“ Oh begitu”
Nada suarku melemah
“Santai Bu, hanya sebentar”
Kami sampai di sebuah rumah yang besar, sejuk dengan warna cat rumah hijau muda. Indah sekali rumah itu. Setelah Andi meletakkan sepeda motornya. Aku mengikuti Andi dari belakang.
“ mari Bu silakan duduk”
Andi mempersilakan aku duduk di ruang tamu yang indah.
Seseorang wanita muda membawa dua gelas sirup kea rah ku
“ Diminum Bu”
Aku mengangguk
“Orang tua mu ke mana?”
“ kerja Bu, nanti pulang jam 23.00”
Andi masih senyum saja kemudian dia memutarkan lagu Ada band, yang berjudul Karena Wanita.
Andi segera ke kamar kemudian menemuiku. Aku tak mengerti Andi serasa dekat dengan ku karena dia duduk di dekatku, serasa sudah akrab sekali. Aku agak bergerak untuk menjaga jarak. Entah dia terasa atau tidak, caraku tadi.
“ Ibu tinggal bersama siapa?”
“ Oh, Ibu kos”
“ Ibu belum berkeluarga kan?”
“ Belum”
Pertanyaan yang dilancarkan Andi serasa tentang pribadiku , di sekolah sedikit tabu seorang murid bertanya hal yang mendaetail, meski ada beberapa guru menceritakan keluarganya masing-masing.
“ Yuk Bu, kita makan dulu!”
Andi mengajak makan, kemudian kami menuju ruang makan. Ya, memang ruang makan yang mewah dan sajian di meja makan pun tidak sembarangan. Kemudian aku di persilakan duduk dan kami makan bersama. Entah apa yang ada dalam pikiran Andi.
Selesai makan Andi minta tolong untuk mengerjakan PR di sekolah, aku merasa mulai tidak betah, sesekali ku lrik jam di tanganku, namun Andi tidak peduli.
“Pasti aku antar Bu”
“ Ibu ada janji an dengan pacar Ibu ya”
Andi meledek dan bercanda, aku tetap tidak hiarukan toh, aku anggap dia seperti adikku sendiri.
Malam itu aku sampai di kosku pukul 22.00. Aku lealh sekali dan tidak habis pikir tentang Andi.
Pagi harinya hal yang mencengangkan adalah Andi sudah menunggu di depan kos ku, aku bingung mau menolaknya, akhirnya kami berangkat ke solah bersama.
Aku mulai memutar otak untuk berpikir panjang menghindar dari Andi, sepetinya kelakuannya makin aneh. Benar saja sepulang sekolah pun, dia sudah menunggu di gerbang sekolah.
Aku mulai memberi berjuta-juta alasan agar menolaknya, aku terselamatkan. Namun sore harinya Andi sudah hadir kembali di kos ku, aku heran bagaimana mengusirnya. Aku ajak dia keluar dan ingin tahu apa yang dia pikirkan.
Ketika kami berdua jalan malah tak kutemui alasan apapun
“ Ndi kamu nggak punya pacar?”
“ Nggak Bu”
“ Atau mungkin kamu lagi naksir seseorang”
Aku mengoreknya
“ Ada sih Bu”
“ Oh ya, Ibu boleh tahu”
“ Ah nggak sekarang aku ungkapkan”
Aku mulai semangat awalnya namun semangatku pudar, karena tidak menemukan jawabnya. Aku ingin tahu dengan wanita itu, jika itu temannya di sekolah, maka akan segera aku jadikan mereka berdua atau bagaimana caranya agar dekat mereka berdua.
Hari lepas hari berlangsung begitu kedekatan ku dengan Andi termasuk dekat, bahkan suatu kali orang tua Andi sengaja ke sekolah hanya untuk ingin mengenal aku, kata Andi guru favoritnya adalah aku. Andi anak tunggal, sehingga orang tuanya salalu menuruti apa maunya. Aku jadi serba bingung dan canggung, bahkan aku diberikan berbagai macam barang dan makanan. Aku jadi tidak enak hati, serba bingung menempatkan diri.
Bahkan malam minggu pun aku berjalan dengan Andi, mengapa aku sudah begitu dekat dengan dia, namun aku berjalan biasa saja. Bahkan sesekali tingkah Andi aneh, kebetulan tubuhnya tinggi, tidak terliaht seperti guru dan murid. Tingkah anehnya seskali memeluk pundakku, menggandeng tanganku. Segera ku lepaskan, aku terperangah melihat tingkah lakunya. Aku tetap berpikir postif, mungkin saja dia membutuhkan sosok kakak perempuan atau pun adik, karena dia anak tunggal.
Bahkan hari Valentine pun kos ku penuh dengan bunga mawar dan bingkisan cokelat, siapa lagi kalau bukan ulah Andi
“ Ndi kok dikasih ke Ibu?”
“ kasih aja ke cewek yang kamu taksir”
“ Ah nggak papa kok Bu”
“ Bu, aku boleh Tanya?”
“ Tanya apa?”
“ Ibu belum punya pacar kan?”
“ Kok kamu Tanya gitu?”
“ Nggak Cuma ingin tahu aja”
Pertanyaan Andi malam itu membuat ku bingung apa maksudnya. Namun aku tetap diam saja dan tidak mau menebak-nebak.
Suatu hari ada kejadian yang membuat aku semakin heran, Andi dengan tiba-tiba ingin memelukku, aku sangat terkejut dan segera ke luar dari pelukannya. Bahkan yang membuat aku terperanjat, dia segera akan menciumku. Pikiran apa yang merasuk dia. Segera aku pergi dan muncul di hadapannya lagi.
Malam itu adalah awal dari kesadaranku untuk segara menarik diri dari Andi.
Keesokan paginya surat pengunduran diriku untuk mengajar di sekolah sampai di meja kepala sekolah, aku tidak mau menunjukkan wajah lagi di sekolah itu. Aku masih terkejut akan kejadian itu. Aku putuskan kembali ke desa, tempat dimana aku dilahirkan.
Suasana desa yang segar dan hijaunya pepohonan membuat suasana semakin indah.
Lelahnya hari ini mengajar tidak membuatku surut untuk menjadi guru yang baik, setiap hari adalah pelajaran untukku. Sesampai di rumah, aku dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang besar.
Tertulis
Untuk Ibu Liana
Segera kubuka, astaga, aku terkejut karena di dalamnya sebuah pakaian indah sekali, dan pasti mahal harganya.
Ada secarik kertas tertulis
Bu, aku minta maaf. Tingkah laku ku membuat Ibu memilih tempat yang jauh, namun sungguh aku mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Wanita yang aku taksir adalah Ibu, maafkan aku Bu. Doakan saya bu, saya kini melanjutkan studi di Amerika mengambil jurusan Psikologi. Sekali lagi maaf kan aku Bu. Sampai kapan pun aku mengenang kebaikan Ibu. Salam Andi
Air mataku menetes betapa seorang Andi mengungkapkan maaf padaku, aku hanya tersenyum, dan berkata
Sukses untuk mu Andi.
Siang itu udara sangat panas, aku mulai gerah, meski beberapa menit lagi waktu usai bekerja hari ini. Namun masih ku ketik tugas-tugas sekolah.
“ Belum pulang Bu?”
Sapa Andi muridku, kemudian aku menoleh
“ Eh, belum, kamu belum pulang?”
“ Menunggu Ibu”
Aku tersnyum saja
“Bener Bu, aku nggak bercanda, pulang bareng yuk”
Aku mulai bingung Andi mengajak ku pulang bersama, ada apa gerangan.
“ Thanks Andi, Ibu ada kerjaan lain nih”
Aku menolak dengan alasan yang kubuat, agar dia tidak menunggu.
“Ya aku tunggu sampai Ibu selesai”
Astaga, ada apa dengan Andi, dia murid rajin, sopan, dan ramah pada setiap guru. Namun tidak pernah kelakuan murid lainnya seperti ini. Segera aku berpikir positif saja.
Kubereskan semua buku-buku di meja, ku letakkan tas di bahu ku, segera aku bergerak ke luar ruang kerjaku. Di luar gerbang Andi sudah menunggu di atas sepeda motornya. Segera aku bergerak cepat untuk menghindar dari Andi.
“Ayo Bu, pulang bersama saya”
“ Terimaksih Andi, lain kali saja”
“kenapa sih Ibu menolak, malu ya jalan dengan saya?”
Aku ingin membuktikan bahwa aku nggak malu, segera aku duduk di boncengannya.
Selama di jalan hatiku berkecamuk dan kepalaku mulai berpikir panjang apa yang ada dalam pikiran Andi saat ini.
“ Sebentar ya Bu, kita mampir ke rumah saya dulu, pasti saya antar Ibu”
“ Oh begitu”
Nada suarku melemah
“Santai Bu, hanya sebentar”
Kami sampai di sebuah rumah yang besar, sejuk dengan warna cat rumah hijau muda. Indah sekali rumah itu. Setelah Andi meletakkan sepeda motornya. Aku mengikuti Andi dari belakang.
“ mari Bu silakan duduk”
Andi mempersilakan aku duduk di ruang tamu yang indah.
Seseorang wanita muda membawa dua gelas sirup kea rah ku
“ Diminum Bu”
Aku mengangguk
“Orang tua mu ke mana?”
“ kerja Bu, nanti pulang jam 23.00”
Andi masih senyum saja kemudian dia memutarkan lagu Ada band, yang berjudul Karena Wanita.
Andi segera ke kamar kemudian menemuiku. Aku tak mengerti Andi serasa dekat dengan ku karena dia duduk di dekatku, serasa sudah akrab sekali. Aku agak bergerak untuk menjaga jarak. Entah dia terasa atau tidak, caraku tadi.
“ Ibu tinggal bersama siapa?”
“ Oh, Ibu kos”
“ Ibu belum berkeluarga kan?”
“ Belum”
Pertanyaan yang dilancarkan Andi serasa tentang pribadiku , di sekolah sedikit tabu seorang murid bertanya hal yang mendaetail, meski ada beberapa guru menceritakan keluarganya masing-masing.
“ Yuk Bu, kita makan dulu!”
Andi mengajak makan, kemudian kami menuju ruang makan. Ya, memang ruang makan yang mewah dan sajian di meja makan pun tidak sembarangan. Kemudian aku di persilakan duduk dan kami makan bersama. Entah apa yang ada dalam pikiran Andi.
Selesai makan Andi minta tolong untuk mengerjakan PR di sekolah, aku merasa mulai tidak betah, sesekali ku lrik jam di tanganku, namun Andi tidak peduli.
“Pasti aku antar Bu”
“ Ibu ada janji an dengan pacar Ibu ya”
Andi meledek dan bercanda, aku tetap tidak hiarukan toh, aku anggap dia seperti adikku sendiri.
Malam itu aku sampai di kosku pukul 22.00. Aku lealh sekali dan tidak habis pikir tentang Andi.
Pagi harinya hal yang mencengangkan adalah Andi sudah menunggu di depan kos ku, aku bingung mau menolaknya, akhirnya kami berangkat ke solah bersama.
Aku mulai memutar otak untuk berpikir panjang menghindar dari Andi, sepetinya kelakuannya makin aneh. Benar saja sepulang sekolah pun, dia sudah menunggu di gerbang sekolah.
Aku mulai memberi berjuta-juta alasan agar menolaknya, aku terselamatkan. Namun sore harinya Andi sudah hadir kembali di kos ku, aku heran bagaimana mengusirnya. Aku ajak dia keluar dan ingin tahu apa yang dia pikirkan.
Ketika kami berdua jalan malah tak kutemui alasan apapun
“ Ndi kamu nggak punya pacar?”
“ Nggak Bu”
“ Atau mungkin kamu lagi naksir seseorang”
Aku mengoreknya
“ Ada sih Bu”
“ Oh ya, Ibu boleh tahu”
“ Ah nggak sekarang aku ungkapkan”
Aku mulai semangat awalnya namun semangatku pudar, karena tidak menemukan jawabnya. Aku ingin tahu dengan wanita itu, jika itu temannya di sekolah, maka akan segera aku jadikan mereka berdua atau bagaimana caranya agar dekat mereka berdua.
Hari lepas hari berlangsung begitu kedekatan ku dengan Andi termasuk dekat, bahkan suatu kali orang tua Andi sengaja ke sekolah hanya untuk ingin mengenal aku, kata Andi guru favoritnya adalah aku. Andi anak tunggal, sehingga orang tuanya salalu menuruti apa maunya. Aku jadi serba bingung dan canggung, bahkan aku diberikan berbagai macam barang dan makanan. Aku jadi tidak enak hati, serba bingung menempatkan diri.
Bahkan malam minggu pun aku berjalan dengan Andi, mengapa aku sudah begitu dekat dengan dia, namun aku berjalan biasa saja. Bahkan sesekali tingkah Andi aneh, kebetulan tubuhnya tinggi, tidak terliaht seperti guru dan murid. Tingkah anehnya seskali memeluk pundakku, menggandeng tanganku. Segera ku lepaskan, aku terperangah melihat tingkah lakunya. Aku tetap berpikir postif, mungkin saja dia membutuhkan sosok kakak perempuan atau pun adik, karena dia anak tunggal.
Bahkan hari Valentine pun kos ku penuh dengan bunga mawar dan bingkisan cokelat, siapa lagi kalau bukan ulah Andi
“ Ndi kok dikasih ke Ibu?”
“ kasih aja ke cewek yang kamu taksir”
“ Ah nggak papa kok Bu”
“ Bu, aku boleh Tanya?”
“ Tanya apa?”
“ Ibu belum punya pacar kan?”
“ Kok kamu Tanya gitu?”
“ Nggak Cuma ingin tahu aja”
Pertanyaan Andi malam itu membuat ku bingung apa maksudnya. Namun aku tetap diam saja dan tidak mau menebak-nebak.
Suatu hari ada kejadian yang membuat aku semakin heran, Andi dengan tiba-tiba ingin memelukku, aku sangat terkejut dan segera ke luar dari pelukannya. Bahkan yang membuat aku terperanjat, dia segera akan menciumku. Pikiran apa yang merasuk dia. Segera aku pergi dan muncul di hadapannya lagi.
Malam itu adalah awal dari kesadaranku untuk segara menarik diri dari Andi.
Keesokan paginya surat pengunduran diriku untuk mengajar di sekolah sampai di meja kepala sekolah, aku tidak mau menunjukkan wajah lagi di sekolah itu. Aku masih terkejut akan kejadian itu. Aku putuskan kembali ke desa, tempat dimana aku dilahirkan.
Suasana desa yang segar dan hijaunya pepohonan membuat suasana semakin indah.
Lelahnya hari ini mengajar tidak membuatku surut untuk menjadi guru yang baik, setiap hari adalah pelajaran untukku. Sesampai di rumah, aku dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang besar.
Tertulis
Untuk Ibu Liana
Segera kubuka, astaga, aku terkejut karena di dalamnya sebuah pakaian indah sekali, dan pasti mahal harganya.
Ada secarik kertas tertulis
Bu, aku minta maaf. Tingkah laku ku membuat Ibu memilih tempat yang jauh, namun sungguh aku mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Wanita yang aku taksir adalah Ibu, maafkan aku Bu. Doakan saya bu, saya kini melanjutkan studi di Amerika mengambil jurusan Psikologi. Sekali lagi maaf kan aku Bu. Sampai kapan pun aku mengenang kebaikan Ibu. Salam Andi
Air mataku menetes betapa seorang Andi mengungkapkan maaf padaku, aku hanya tersenyum, dan berkata
Sukses untuk mu Andi.
Selasa, 03 Februari 2009
berkata dan berujar
Don’t Say Anything
Sudahlah honey aku ga mau dengar alasanmu lagi, kemarin kamu bilang jalan dengan sepupumu, sekarang bilang sama Clara teman les piano mu, terus besok mau bilang sama sapa lagi. Aku ga ngerti salahku itu apa honey.
Brak……
Suara hp ku yang hempaskan di atas tumpukan majalah, kemudian aku ke dapur.Dari tadi aku menahan lapar, bertengkar dengan Hendri. Aku sudah 4 bulan jalan sama Hendri sebelumnya aku tidak ingin jadian sama dia, hanya karena dia sangat baik mau membantu ku. Semua tugas yang ada di kampusku diselesaikan dengan baik, aku kadang menyesal, mengapa aku jadian hanya karena dia mau bantu tugas-tugasku.
Hari ini aku masih bertahan di rumah dan tidak mau ke kampus, pasti nanti berjumpa Hendri. Jika bertemu dengannya pasti aku bingung mau bicara apa.
Lan…kok ga kuliah lu?
Suara Ince di telpon
Kenapa emang
Hendri juga nggak ke kampus tuh
Loh, aku menghindar dari dia
Dah sekarang lu ke kampus kan kos lu deket banget
Ya deh gua berangkat
Aku melangkahkahkan kaki ke kelas, untung lah kuliah belum dimulai, Ince mulai senyum-senyum sambil menyenggol ku
Kenapa kamu senyum-senyum
Ga, seneng aja lu berangkat kuliah heheheeh
Lan aku minta maaf ga nelpon lu barusan aku lihat Hendri berangkat ke kampus juga
Ha?
Teriakku hampir membuat pak Timo marah, karena kuliah sudah dimulai.
Kanapa lu ga bilang aku dah semangat banget ke kampus eh kamu memadamkannya
Ya barusan aku lihat Hendri masuk kelas di ruang depan
Sori bener aku ga tahu
Dah aku mau cabut aja
Eh jangan gitu dong kan hari ini Cuma kuliah pak Timo
Dengan ogah-ogahan ku ikuti kuliah pak Timo sesekali pak Timo bertanya padaku, namun aku tetap cuek saja.
Akhirnya kuliah pak Timo selesai, ingin segera berlari ke luar kelas dan segera pulang ke kos. Namun pak Timo mengajak ku ngbrol
Lan, saya merepotkan nih,saya butuh asisten tuh anak-anak angktan baru masuk banyak lagi jumlahnya, nah kamu bantu saya ya
Oh gitu pak suaraku terkejut dari tadi tak ku hiraukan pembicaraan pak Timo aku ingin segera kabur saja.
Dah besok saya kasih jadwalnya, ucap pak Timo berlalu
Ce aku pulang duluan
Lan cepat banget lu jangan buru-buru
Udah ah aku mau cabut
Segera aku berjalan cepat, hampir kakiku melangkah ke luar gerbang kampus, ada suara memanggilku
Lan aku mau ngomong
Segera aku membalikkan badan, ketika aku tahu siapa yang memanggilku aku segera berjalan
Lan k amu nggak dewasa ngadepinnya
Eh kamu yang ga dewasa ya, maen belakang
Aku berlari menuju kos ku. Ntah dari mana Hendri sudah berdiri di depan kamar kosku.
Aku akan jelaskan Lan
Don’t say anything
Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku tak peduli Hendri mau pulang atau tidak.
Hari ini kuliah libur, besok pun tidak ada kuliah, aku bergegas merapikan beberapa baju, aku hendak pulang. Rumahku skitar lima jam dari kos, aku sudah rindu makan masakan ibuku, bermain dengan adikku Gostul. Tubunhnya yang gendut dan banyak akal membuat aku kangen.
Di dalam bus berdesak-desakan, meskipun demikian aku tetap menikmati aku rindu rumah.
Setiap perjalanan kunikmati dengan senang, akhirnya aku sampai di rumah.
Aku kangen sekali dengan kamarku, segera aku berlari masuk ke kamar, tak kuhiraukan lagi sekitarku, ibu ku melihat keheranan
Lan loh ibu ga disalim dulu
Ibu mendekati kamarku
Aku lupa bu
Ucapku menyeringai, lalu kami berpelukan, entah beban apa yang menimpa ku tak terasa air mataku menetes
Kenapa Lan ada masalah
Feeling ibu selalu kuat untuk satu hal ini
Dah makan dulu yuk, ibu tadi masak sayur lodeh dan goreng tempe, ada pepes ikan kesukaanmu. Ntah ibu kok pengen masak itu nggak taunya kamu datang Lan.
Ibu nggak banyak bertanya apa masalahku, lalu ibu mengajakku untuk makan.
Betapa nikmat masakan ibu, aku hampir dtidak berbicara, karena terasa lezat masakan ibu.
Wah kamu benar-benar lapar Lan
Ibu menyeringai.
Aku baru teringat adikku
Bu,Gostul masih di sekolah, dah jam segini belum pulang
Beberapa hari ini ada kegiatan OSIS nya jadi sering pulang sore, kadang kasian loh
Oh, OSIS nya ada acara apa
Katanya pameran pendidikan gitu
Kami melanjutkan makan
Rasanya segar bisa mandi, aku mulai menyisir rambut ku kemudian bergerak ke luar kamar
Weh mbak kapan datang
Tanya Gostul dari dapur
Eh kamu dik
Pa kabar mbak
Kami berpelukan
Baik, kamu gmana?
Biasa sibuk OSIS
Diatur belajarmu loh dik
Ya mbak, aku mandi dulu ya
Lan jam berapa tiba
Ayahku muncul dari ruang tamu
Yah, dari mana
Kami berpelukan
Dari tempat pak Doni, anaknya besok menikah
Oh si Meli
Ya, kamu gimana kabarnya
Baik yah
Loh kuliah libur, kok ada waktu pulang
Ya, yah. Masa mahasiswa baru
Oh..
Ayah ke tempat pak Doni lagi, tadi ambil alamat Pak Yut
Ibu membawakan sepiring pisang goreng dan dua gelas teh hangat.
Dimakan Lan
Ya bu makasih
Aku mencari siaran telivisi
Tul kalau udah mandi makan loh dik
Cepetan nanti masuk angin
Ya bu
Kemarin Laras Tanya kamu pulang ga
Oh dia lagi di sini?
Minggu kemarin pulang, mau persiapan nikah katanya
Oh gitu
Sama mana calonya bu
Sama orang Solo
Aku terdiam teringat Hendri tiba-tiba, anak Solo yang membuat ku makin pusing. Kuabaikan saja alam pikiranku.
Mbak aku belajar ya, sori ga ngobrol-ngobrol
Y a sana belaajr, besok aja kita ngobrol
Eh mbak mas Hendri ga minta ikut ke sini lagi
Beberapa saat aku termenung di depan televisi
Eh nggak Tul
Suaraku terkejut
Ku lanjutkan menonton televisi
Ada apa non dengan Hendri?
Pertanyaan ibu menggugahku untuk bicara
Ya gitulah bu, sukanya ga jujur
Selingkuh dia
Loh dah kamu ketahui jelas belum
Ya jawabanya ga jelas
Ya siapa tahu temannya saja
Nggak tahu ah bu, putus juga nggak masalah
Aku pergi ke kamar
Malam ini terasa sepi, Hp di meja kamar baru kusentuh
Ku lihat 10 Miscall dan 5 SMS, beberapa saat ku buka SMS dan Miscall, siapa lagi kalau bukan Hendri semua, aku tak membalasnya. Ku letakkan HP, lalu tidur.
Mbak yuk ke sungai di ujung desa
Ayuk Tul
Aku senang sekali kalau main di sungai, ntah mengapa, apalagi Gostul suka berenang disana.
Sesampai di sungai aku bermain air, terasa segar dan sejuk. Gostul tidak tahan untuk berenang, aku hanya memandang adikku.
Setelah berenang Gostul duduk di sebelahku
Mbak kenapa coba sebagian orang merasa benar
Loh kamu kok ngmong gitu
Ya emang begitu kan
Pertanyaan Gostul mengusik ketenanganku
Mbak, orang sesungguhnya mempunyai sisi ego, sehingga kadang tutup telinga untuk hal yang seharusnya didengar
Ah kamu Tul bisa aja
Aku tersenyum, seakan aku ketemu jawabnnya.
Di rumah aku mulai menyiapkan baju-bajuku
Ini kering kentangnya enak loh Lan
Ya bu aku bawa
Ayah mau ke kos mu loh mbak akhir bulan ini
Ada acara apa Yah
Mas Anwar mau main ke rumah, namun minta ketemu di kos mu, karena dia paham tempatmu juga.
Mas Anwar anak tante Hana ya
Ya betul, dia akan menghabiskan cutinya di rumah kita, habis kalau pulang dari Amerika selalu Jakarta tempat cuti, bosan katanya.
Baik Yah
Setelah berpamitan aku menuju terminal diantar ayah. Dalam perjalanan pulang aku menyusun rencana, memang Gostul adikku hebat, mampu membantu masalah ku, aku tersenyum puas.
Apa kabar Hen
Sapaku di kampus pada hendri, aku duduk di dekatnya
Eh Lan, baik, kamu juga kan, kamu kemana aja
Baru mudik aja
Oh gitu
Hendri mulai merapatkan duduknya dekatku
Kamu sehat kan
Aku mengangangguk. Hendri memandangku, kangen mungkin dia, sudah hampir dua bulan kami tidak duduk akrab seperti ini.
Aku ingin menjelaskan semuanya
Kami terdiam
Aku selama ini mempersiapkan skripsi, dengan judul kehidupan sosial di lingkungan kota, dimana kesulitan ekonomi membuat orang menghalalkan segala cara termasuk menjual diri.
Sori aku nggak cerita, sebenernya mau cerita namun nanti setelah ada tanda tangan dosenku, aku baru pede pamer ke kamu
Aku menyeringai
Jadi aku salah ya
Nggak salah paham aja kok
Sesaat tangan Hendri mengacak-acak rambutku dan mulai menggenggamku
Aku tahu kalau kamu dititik emosi nggak bisa diajak bicara
Sehingga aku tunggu kamu, kalau kamu dah reda baru aku jelaskan
Kenapa tiba-tiba kamu berubah?
Ucapan Hendri sambil tersenyum meledek
Ye dasar ya
Ucapku lalu mencubit pinggang Hendri refleks disambut tangan Hendri menggenggam tanganku di pinggangnya.
Dah kita ke kantin yuk, cerita di sana aja
Ayuk
Kami berjalan bersama, karena posisi di kampus, kami bergandengan hanya jari kelingking kami saja
Kami hanya tertawa saja
Kalau saja bukan di kampus pasti kupeluk Hendri, aku bahagia sekali karena dia mengajarku untuk tidak berkata apa pun saat kita emosi.
Sudahlah honey aku ga mau dengar alasanmu lagi, kemarin kamu bilang jalan dengan sepupumu, sekarang bilang sama Clara teman les piano mu, terus besok mau bilang sama sapa lagi. Aku ga ngerti salahku itu apa honey.
Brak……
Suara hp ku yang hempaskan di atas tumpukan majalah, kemudian aku ke dapur.Dari tadi aku menahan lapar, bertengkar dengan Hendri. Aku sudah 4 bulan jalan sama Hendri sebelumnya aku tidak ingin jadian sama dia, hanya karena dia sangat baik mau membantu ku. Semua tugas yang ada di kampusku diselesaikan dengan baik, aku kadang menyesal, mengapa aku jadian hanya karena dia mau bantu tugas-tugasku.
Hari ini aku masih bertahan di rumah dan tidak mau ke kampus, pasti nanti berjumpa Hendri. Jika bertemu dengannya pasti aku bingung mau bicara apa.
Lan…kok ga kuliah lu?
Suara Ince di telpon
Kenapa emang
Hendri juga nggak ke kampus tuh
Loh, aku menghindar dari dia
Dah sekarang lu ke kampus kan kos lu deket banget
Ya deh gua berangkat
Aku melangkahkahkan kaki ke kelas, untung lah kuliah belum dimulai, Ince mulai senyum-senyum sambil menyenggol ku
Kenapa kamu senyum-senyum
Ga, seneng aja lu berangkat kuliah heheheeh
Lan aku minta maaf ga nelpon lu barusan aku lihat Hendri berangkat ke kampus juga
Ha?
Teriakku hampir membuat pak Timo marah, karena kuliah sudah dimulai.
Kanapa lu ga bilang aku dah semangat banget ke kampus eh kamu memadamkannya
Ya barusan aku lihat Hendri masuk kelas di ruang depan
Sori bener aku ga tahu
Dah aku mau cabut aja
Eh jangan gitu dong kan hari ini Cuma kuliah pak Timo
Dengan ogah-ogahan ku ikuti kuliah pak Timo sesekali pak Timo bertanya padaku, namun aku tetap cuek saja.
Akhirnya kuliah pak Timo selesai, ingin segera berlari ke luar kelas dan segera pulang ke kos. Namun pak Timo mengajak ku ngbrol
Lan, saya merepotkan nih,saya butuh asisten tuh anak-anak angktan baru masuk banyak lagi jumlahnya, nah kamu bantu saya ya
Oh gitu pak suaraku terkejut dari tadi tak ku hiraukan pembicaraan pak Timo aku ingin segera kabur saja.
Dah besok saya kasih jadwalnya, ucap pak Timo berlalu
Ce aku pulang duluan
Lan cepat banget lu jangan buru-buru
Udah ah aku mau cabut
Segera aku berjalan cepat, hampir kakiku melangkah ke luar gerbang kampus, ada suara memanggilku
Lan aku mau ngomong
Segera aku membalikkan badan, ketika aku tahu siapa yang memanggilku aku segera berjalan
Lan k amu nggak dewasa ngadepinnya
Eh kamu yang ga dewasa ya, maen belakang
Aku berlari menuju kos ku. Ntah dari mana Hendri sudah berdiri di depan kamar kosku.
Aku akan jelaskan Lan
Don’t say anything
Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku tak peduli Hendri mau pulang atau tidak.
Hari ini kuliah libur, besok pun tidak ada kuliah, aku bergegas merapikan beberapa baju, aku hendak pulang. Rumahku skitar lima jam dari kos, aku sudah rindu makan masakan ibuku, bermain dengan adikku Gostul. Tubunhnya yang gendut dan banyak akal membuat aku kangen.
Di dalam bus berdesak-desakan, meskipun demikian aku tetap menikmati aku rindu rumah.
Setiap perjalanan kunikmati dengan senang, akhirnya aku sampai di rumah.
Aku kangen sekali dengan kamarku, segera aku berlari masuk ke kamar, tak kuhiraukan lagi sekitarku, ibu ku melihat keheranan
Lan loh ibu ga disalim dulu
Ibu mendekati kamarku
Aku lupa bu
Ucapku menyeringai, lalu kami berpelukan, entah beban apa yang menimpa ku tak terasa air mataku menetes
Kenapa Lan ada masalah
Feeling ibu selalu kuat untuk satu hal ini
Dah makan dulu yuk, ibu tadi masak sayur lodeh dan goreng tempe, ada pepes ikan kesukaanmu. Ntah ibu kok pengen masak itu nggak taunya kamu datang Lan.
Ibu nggak banyak bertanya apa masalahku, lalu ibu mengajakku untuk makan.
Betapa nikmat masakan ibu, aku hampir dtidak berbicara, karena terasa lezat masakan ibu.
Wah kamu benar-benar lapar Lan
Ibu menyeringai.
Aku baru teringat adikku
Bu,Gostul masih di sekolah, dah jam segini belum pulang
Beberapa hari ini ada kegiatan OSIS nya jadi sering pulang sore, kadang kasian loh
Oh, OSIS nya ada acara apa
Katanya pameran pendidikan gitu
Kami melanjutkan makan
Rasanya segar bisa mandi, aku mulai menyisir rambut ku kemudian bergerak ke luar kamar
Weh mbak kapan datang
Tanya Gostul dari dapur
Eh kamu dik
Pa kabar mbak
Kami berpelukan
Baik, kamu gmana?
Biasa sibuk OSIS
Diatur belajarmu loh dik
Ya mbak, aku mandi dulu ya
Lan jam berapa tiba
Ayahku muncul dari ruang tamu
Yah, dari mana
Kami berpelukan
Dari tempat pak Doni, anaknya besok menikah
Oh si Meli
Ya, kamu gimana kabarnya
Baik yah
Loh kuliah libur, kok ada waktu pulang
Ya, yah. Masa mahasiswa baru
Oh..
Ayah ke tempat pak Doni lagi, tadi ambil alamat Pak Yut
Ibu membawakan sepiring pisang goreng dan dua gelas teh hangat.
Dimakan Lan
Ya bu makasih
Aku mencari siaran telivisi
Tul kalau udah mandi makan loh dik
Cepetan nanti masuk angin
Ya bu
Kemarin Laras Tanya kamu pulang ga
Oh dia lagi di sini?
Minggu kemarin pulang, mau persiapan nikah katanya
Oh gitu
Sama mana calonya bu
Sama orang Solo
Aku terdiam teringat Hendri tiba-tiba, anak Solo yang membuat ku makin pusing. Kuabaikan saja alam pikiranku.
Mbak aku belajar ya, sori ga ngobrol-ngobrol
Y a sana belaajr, besok aja kita ngobrol
Eh mbak mas Hendri ga minta ikut ke sini lagi
Beberapa saat aku termenung di depan televisi
Eh nggak Tul
Suaraku terkejut
Ku lanjutkan menonton televisi
Ada apa non dengan Hendri?
Pertanyaan ibu menggugahku untuk bicara
Ya gitulah bu, sukanya ga jujur
Selingkuh dia
Loh dah kamu ketahui jelas belum
Ya jawabanya ga jelas
Ya siapa tahu temannya saja
Nggak tahu ah bu, putus juga nggak masalah
Aku pergi ke kamar
Malam ini terasa sepi, Hp di meja kamar baru kusentuh
Ku lihat 10 Miscall dan 5 SMS, beberapa saat ku buka SMS dan Miscall, siapa lagi kalau bukan Hendri semua, aku tak membalasnya. Ku letakkan HP, lalu tidur.
Mbak yuk ke sungai di ujung desa
Ayuk Tul
Aku senang sekali kalau main di sungai, ntah mengapa, apalagi Gostul suka berenang disana.
Sesampai di sungai aku bermain air, terasa segar dan sejuk. Gostul tidak tahan untuk berenang, aku hanya memandang adikku.
Setelah berenang Gostul duduk di sebelahku
Mbak kenapa coba sebagian orang merasa benar
Loh kamu kok ngmong gitu
Ya emang begitu kan
Pertanyaan Gostul mengusik ketenanganku
Mbak, orang sesungguhnya mempunyai sisi ego, sehingga kadang tutup telinga untuk hal yang seharusnya didengar
Ah kamu Tul bisa aja
Aku tersenyum, seakan aku ketemu jawabnnya.
Di rumah aku mulai menyiapkan baju-bajuku
Ini kering kentangnya enak loh Lan
Ya bu aku bawa
Ayah mau ke kos mu loh mbak akhir bulan ini
Ada acara apa Yah
Mas Anwar mau main ke rumah, namun minta ketemu di kos mu, karena dia paham tempatmu juga.
Mas Anwar anak tante Hana ya
Ya betul, dia akan menghabiskan cutinya di rumah kita, habis kalau pulang dari Amerika selalu Jakarta tempat cuti, bosan katanya.
Baik Yah
Setelah berpamitan aku menuju terminal diantar ayah. Dalam perjalanan pulang aku menyusun rencana, memang Gostul adikku hebat, mampu membantu masalah ku, aku tersenyum puas.
Apa kabar Hen
Sapaku di kampus pada hendri, aku duduk di dekatnya
Eh Lan, baik, kamu juga kan, kamu kemana aja
Baru mudik aja
Oh gitu
Hendri mulai merapatkan duduknya dekatku
Kamu sehat kan
Aku mengangangguk. Hendri memandangku, kangen mungkin dia, sudah hampir dua bulan kami tidak duduk akrab seperti ini.
Aku ingin menjelaskan semuanya
Kami terdiam
Aku selama ini mempersiapkan skripsi, dengan judul kehidupan sosial di lingkungan kota, dimana kesulitan ekonomi membuat orang menghalalkan segala cara termasuk menjual diri.
Sori aku nggak cerita, sebenernya mau cerita namun nanti setelah ada tanda tangan dosenku, aku baru pede pamer ke kamu
Aku menyeringai
Jadi aku salah ya
Nggak salah paham aja kok
Sesaat tangan Hendri mengacak-acak rambutku dan mulai menggenggamku
Aku tahu kalau kamu dititik emosi nggak bisa diajak bicara
Sehingga aku tunggu kamu, kalau kamu dah reda baru aku jelaskan
Kenapa tiba-tiba kamu berubah?
Ucapan Hendri sambil tersenyum meledek
Ye dasar ya
Ucapku lalu mencubit pinggang Hendri refleks disambut tangan Hendri menggenggam tanganku di pinggangnya.
Dah kita ke kantin yuk, cerita di sana aja
Ayuk
Kami berjalan bersama, karena posisi di kampus, kami bergandengan hanya jari kelingking kami saja
Kami hanya tertawa saja
Kalau saja bukan di kampus pasti kupeluk Hendri, aku bahagia sekali karena dia mengajarku untuk tidak berkata apa pun saat kita emosi.
Langganan:
Komentar (Atom)