Aku akhiri
Kata saja tidak cukup untuk ku yakin akan sikap Riko, jika ada cara lain pasti sudah terjadi, kini hubungan itu makin jelas.
Perlahan mega mendung menatap gelisah di ujung mataku. Aku tetap duduk di beranda rumah, sesekali aku menguap. Mungkin ini puncak kegelisajanku, kemarin aku bertemu dengan kakak tingkatku, dia mengatakan kalau Riko tidak muncul di kampus sudah lima hari. Riko tidak memeberi kabar kepadaku, memang hubungan kami berdua bisa dikatakan tidak begitu jauh. Tetapi kadang aku berpikir kalau kami tidak mempunyai hubungan khusus mengapa kami terkadang tidak begitu dekat juga, aku hanya tetap tertelan bisunya malam, aku hanya dapat berontak dengan hati kecilku.
Aku ingat waktu itu Riko katakana padaku tidak bisa jauh dariku, menurutku pertemuan kami berdua di batas kewajaran seperti lainnya, setipa hari berjumpa di kampus. Sesekali makan siang bersama di kantin kampus, jika malam minggu tidak ada kegaitan khusus, seperti apel atau jalan berdua. Kami lebih cendrung melakukan kegiatan dengan kelompok kami masing-masing, maklum kami berdua punya kelompok yang tidak dapat dipisahkan dengan teman-teman lain. Ah sudahlah aku nggak akan pusing memikirkan semua
Mataku sudah mengantuk, mulialah badanku ku gerak-gerakkan. Ku hempaskan badanku ke tempat tidurku, sesaat kutarik selimutku,
Ah malam yang pekat aku akn tidur, tetapi beberapa saat aku masih belum bisa memejamkan mata. Aku bangun dan mulai melangkahkan kakiku ke luar kamar, dengan langkah kaki yang lemah ku hampiri ruang tengah, ku lihat rokok di meja dan mulai kunyalakan dan mulai kuhisap. Kegiatan itu ter ulang lagi padahal sejak dua tahun ini aku melatih diri untuk tidak merokok tapi malam itu entah mengapa aku mulai pusing dengan segala masalahku. Terus saja kuhisap rokok yang terselip di jari tengah, tangan kananku.
Aku makin heran tidak dapat tidur, dan lamunanku terus memikirkan tentang semua kisahku dengan Riko. Aku juga tidak mengerti, mengapa hanya dengan pengaduan kakak tingkatku aku jadi pusing memikirkan dia. Aku masih ingat waktu itu aku dan Riko habis-habisan dimarahi mamaku agar tidak bertemu lagi. Riko memang agak aneh khusunya penampilannya, rambut cepak tetapi asessorisnya di telinga, hidung, bahkan jari-jarinya dihisasi dengan beraneka macam. Mungkin mama ku kira wajarnya pria tidak memakai anting-anting dan asessoris yang aneh. Terkadang mamaku hanya diam dengan hubungan kami, yang aku pun tanyakan keberadaannya. Tidak terasa rokok yang kuhisap hampir satu bungkus. Mungkin aku bisa gila memikirkan Riko . Sesaat kucari di phone book HP ku, dengan abjad R. Mulai kutelephone, kudengar nada sambung, tetapi langsung lenyap. Berulang kali kuulangi hasilnya sama. Aku mulai kehabisan akal untuk mengetahui keberadaannya, belum pernah hal ini terjadi kalau dia akan pergi ke luar kota atau malas kuliah pasti aku dikabari.
Hampir saja aku kehabisan akal, tetapi kemudian mulai ku tinggalkan pesan singkat untuknya,
Lu dimana?hub gw
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk ke HP ku
Ge, si Riko ada di Denpasar
Tanpa kubalas sms itu langsung kuhubungi no yang mengirim pesan barusan yaitu Sita, kemudian tersambungkan, dari sana terdnegar suara,dan mulailah kami saling berbicara.
Hari ini adalah hari ketujuh aku dan Riko tak berkomunikasi, menurut Sita Riko sedang di Denpasar, dan tidak diketahui apa kegiatannya. Sita pun dikabari ayahnya yang sedang tugas di Denpasar. Ayah Sita sanagat mengenal Riko, karena dulu pernah bekerjasama dengan restoran ayah Sita dalam suatu acara demo masak.
Aku hanya berkutat dengan maslahku, padahal tugas kampus menumpuk, badanku kian hari makin lemas sja, makan pun mulai berkurang. Hal yang paling kutakuti adalah kebiasaan merokok makin meningkat, untung saja kegiatan kumpul-kumpul ku agak tidak kugemari. Kalau saja aku berkumpul, pasti aku hanya menghambur-hamburkan uang, makan-makan dan belanja,
Aku hanya berkutat di kamr tidurku dari jam 10.00 padahal sekarang sudah jam 14.00, ntah sudah berapa kali mamaku menyuruh makan, tetapi mulutku tetap tidak menyentuh apa pun. Sesaat nada panggilan dari HP ku berbunyi, kemudian kuangkat. Dari jauh terdengan suara yang taka sing di telingaku , lalu aku menjerti
Ke mana aja lu jelek?
Yang tak lain adlah Riko. Mulai lah kami saling ebrcerita. Sebenarnya aku meneteskan air mata, karena rsa kangenku yang luar biasa. Satu jam kami saling bertelepon, kemudian pembicaraan kami berakhir.
Aku mengetahui masalah Riko dari pembicaraan itu, Riko sedang bernasalah dengan ibu tirinya. Ibu tirinya selalu minta bermacam-macam pada Riko, setelah meningga ayah kandungnya kelakuan ibu tirinya semakin aneh, Riko memiliki 2 adik, yang 1 ikut ibu kandungnya di Uzbekistan, dan yang s1 lagi bersama ibu tirinya.
Riko pernah mencoba bunuh diri namun selalu gagal, kemudian aku memberi semangat untuk dia tetap bertahan hidup. Riko mulai mampu lagi berthan dengan hidupnya.
Akhirnya kuberanikan diri ke Denpasar,meskipun mamaku besrikeras melarangku, tetapi dukungan tanteku sangat menguatkan hatiku untuk menjumpai Riko di Bali. Tanteku tidak memilki anak, sehingga aku dianggap seperti anak kandungnya.
Sesampai di Denpasar, kucari tempat penginapan, dan segera kuhubungi Riko. Kami berjumpa dan kami saling bercerita. Riko tetap ingin bertahan di Denpasar. Aku sempat protes dan mengajak dia kembali, namun hatinya bersikeras akan tetap di Denpasar. Riko membuat usaha restoran dengan beberapa teman, dia ingin merjut mimpi di Denpasar. Aku merajuk namun hatinya tetap beku, dan saat itu adalah saat dimana aku harus merelakan saat dimana kami pernah punya sejarah, meski sejarah itu akan membisu dan tak kan terbentuk. Hatiku remuk dan berantakan. Aku tinggalkan Denpasar dengan senyum yang pedih.
Aku nggak tahu Ge, apakah waktu mempertemukan kitaHanya itu kata-kata Riko sebelum keberangkatanku ke rumah, mataku lebam, karena air mata yang tak terbendung lagi. Selama perjalanan pulang aku Cuma titipkan salam pada angin rindu dan harapku. Riko akan menemukan jawaban dari pertanyaan hidupnya.
Senin, 16 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar