Sari aku Mau jadi Temanmu
Siang itu kukayuh sepeda dengan kencang, ibu memintaku untuk mengambil Loyang kue. Mulai besok ibu akan kue. Ingin kuteteskan air mata, tetapi aku terus berjuang ini demi aku dan Ikbal adikku. Setelah ayah meninggal kami merasa kehilangan, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak bapak setiap hari menjual sayuran keliling kini tiada karena sakit asmanya. Ibu kini yang harus mengambil alih tugas bapak. Belum lagi Ikbal tahun depan dia sudah SMP. Aku ntah masih akan sekolah atau tidak. Jika ibu tidak ada uang, tak mungkin aku sekolah.
Terus mengalir peluh dikeningku, aku terus mengayuh sepedaku. Sesampai di rumah bu Menur teman ibu, aku segera meminjam loyang kue. Bu Menur teman ibu waktu sekolah SD dulu. Bu Menur rumahnya besar, mobilnya dua, motornya tiga, orangnya baik sekali, sering kali aku diajak ke sana hanya untuk makan siang atau malam. Anaknya mbak Luna cantik baik hatinya, setiap seminggu sekali diajaknya aku ke salon mbak Luna facial atau sekedar creambath, wah aku lihat dia sperti putri di dunia dongeng.
Aku tak henti-henti kagum pada keluarga bu Menur, seandainya aku terlahir dari keluarga bu menur. Kutepiskan bayangan itu, sesaat kemudian aku sudah berada di dapur rumahku. Tak ku llihat ibu di sana. Aku duduk istirahat, karena bersepeda tadi terburu-buru. Hampir 20 menit ibu tak muncul di dapur. Segera aku mencari ibu di ruang depan. Ku panggil ibu tapi tak ada suara yang menyahut, ketika kulihat ke kamar, kulihat hanya Setyo adikku yang sedang tidur pulas. Kemana ibu hatiku bertanya. Samar ku dengar ada suara yang agak keras di teras rumah, suara siapakah itu, kemudian dengan penasaran aku berjalan ke teras rumah. Ku lihat ibu menunduk ketika dimarahi seorang memarahinya, kemudian beberapa saat orang yang memarahi ibu pergi membawa motornya.
Aku melihat ibu dengan wajah kusut, segera ku hampiri ibu
“ Bu baik-baik saja”
“ Ya Ri, ibu baik kok”
Lalu kami segera ke dapur, karena kami sepakat memperisapkan membuat kue. Selama mempersiapkan bahan, tampak wajah sangat gundah, mengapa tidak, pasti orang tadi menagih hutang. Aku hampir juga meneteskan air mata, karena hari ini hari yang melelahkan dan menyedihkan.
Siang ini ada ulangan Matematika di sekolah, aku dengan mudah mengerjakannya meskipun sesekali kesedihan ibu tampak diingatanku.
Usai ulangan Matematika aku istirahat, sewaktu di luar kelas, tak ada satu pun teman yang mendekatiku, biasanya tidak demikian. Aku menghampiri Dinda, kemudian ntah mengapa Dinda pergi ke toilet. Aku panggil Yeni, dia pun menjauh, ada apa dengan mereka. Atau aku yang salah. Seharian aku diam termenung, ada apa dengan teman-temanku. Aku tetap melakukan pekerjaan di rumah, sesekali ibu bertanya keadaanku aku katakan aku baik-baik saja.
Hari berganti, teman-teman sekelas masih menjauh dariku, hanya satu yang tak menjauh Lio, dia tidak tahu juga penyebab menjauhiku. Aku dan Lio berusaha baik pada mereka walaupun setiap kejadian di kelas kami berdua jadi sasaran. Papan tulis kotor kami berdua yang disuruh, ada apa dengan mereka.
Aku dan Lio tetap mengikuti semua.
Hari ini ada lomba memasak di sekolah, aku dan Lio telah membawa bahan dan memasak, tetapi nama pembuatnya diubah oleh teman- teman, mereka semua jahat pada ku dan Lio. Tetapi aku dan Lio tidak marah. Guru-guru sangat suka masakan ku dan Lio yang diakui oleh mereka, kemudian ada seorang guru ingin dimasakkan seperti itu lagi, namun temanku itu tidak dapat membuat. Alhasil aku dan Lio makin dijauhi.
Hari ini satu bulan meninggalnya bapak, aku teringat akan kerja kerasnya. Betapa tidak, pagi-pagi buta ayah bangun kemudian bekerja. Seandai nya waktu bisa diputar kembali, aku ingin bapak berasama kami terus. Kalau saja aku sudah bekerja, pasti bapak tidak akan kubiarkan bekerja. Aku masih ingat kenangan dengan bapak dulu, waktu aku umur 5 tahun, bapak mengajak ku ke kebun binatang, di sana bapak membeli ku es krim, aku hampir digigit monyet, karena tanganku kujulurkan ke kandang. Bapak segera menarikku. “Pak kapan kita bisa bertemu” seru batinku.
Sar, tolong ibu membungkus kue
Aku terkejut dari lamunanku
Ya bu, sebentar
Segera kuhapus air mata yang menetes di pipiku agar tidak kelihatan oleh ibu.
Suatu hari di sekolah aku duduk diam sendiri ku pikir aku pasti akan ditemani Lio saja. Lio memberiku bakpau, kami makan berdua. Kami hanya diam saja ntah kami masing-masing memikirkan apa. Tiba-tiba Deni dan Laras mendekat,
Sar, maafkan kami, selama ini menjauhkan mu
Sar, kami dihasut oleh Pinki, dia bilang kalo bapakmu meninggal karena bapakmu pake ilmu sihir
Pinki bilang, jika berteman denganmu maka kita akan kena sihir
Aku mulai mengerti mengapa teman-teman menjauh dari ku
Oh begitu
Kamu mau maafkan kami kan?
Oh tentu
Sar, kamu memang berhati mulia ya
Kamu kan yang menyelamatkan dompetku di toilet kemarin ucap Laras
Oh ya
Terimakasih ya Sar kamu baik sekali
Aku juga mengucapkan terimakasih kata Deni
Atas apa
Buku kemarin hampir masuk ke kolam sekolah, kamu mengambilnya sehingga bajumu basah kan
Ya kita harus tolong-menolongkan Den
Sudah sekarang kita masuk ke kelas ajak ku pada teman-teman
Indahnya hari ini kurasakan ,semua teman dekat kembali seperti semula. Aku bersyukur mereka semua memahami arti sebuah pertemanan. Aku tersenyum melihat foto kami sekelas. Ada canda, tawa, bahkan tangis apalagi ketika Geri jatuh dari tangga sekolah dan kakinya patah, kami ikut sedih. Biarlah persahabatan ini terus selamanya hingga kami dewasa.
Pagi ini aku lebih terkejut, di depan rumah hadir teman-teman sekolah dengan satu buah gerobak menjual kue, rupanya teman-teman memperhatikan keluargaku juga. Kami tertawa gembira dan kami saling berpelukan dan aku mengucapkan terima kasih pada mereka. Luar biasa mereka, mau menolong aku dan keluargaku.
Sekian tahun yang lalu itulah kisahku dan keluarga. Hari kemarin adalah kenangan untuk ku dan keluarga kini adalah nyata, aku kini memiliki perusahaan kue, tak terbayangkan aku kini menjadi seperti ini. Aku selalu mendapatkan beasiswa hingga kuliahku selesai. Tuhan terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar