Di Penghujung Waktu
Nada lemah Weni kudengar dengan jelas, kemarin tenggorokannya sakit untuk menelan makanan. Aku berikan air hangat, dan lehernya kuberikan penghangat agar hangat. Ku lihat dia terbaring lemah dan terkadang air matanya menetes, karena tidak tahan dengan sakitnya. Seringkali aku berusaha pergi ke dokter, tapi apa mau dikata, uangku tidak cukup. Sudah enam bulan ayahnya Weni belum pulang dari Jakarta, sebelumnya ayah Weni bekerja di Sumtera namun usahanya bangkrut, sekarang ayahnya bekerja di Jakarta. Sudah enam bulan ini ayahnya belum juga kembali. Entah mengapa jika aku hubungi sepupu ayah Weni di Jakarta, selalu dikatakan tidak tahu. Selama ini aku dan ayahnya Weni berkomunikasi lewat telepon sepupunya.
Bagaimana dengan Weni?
Aku hanya bisa diam membisu, uang ku untuk bulan ini hampir habis, hasil dari mencuci baju di tempat bu Rekso belum menutupi obat untuk Weni. Aku segera menghapuskan air mata yang mengalir di pipiku, jika Weni tahu dia akan ikut bersedih. Weni sudah sekolah, meskipun masih kelas 2 SD, tetapi aku ingin juga suatu saat dia mengenyam pendidikan yang tinggi, aku hanya lulusan SMA, dan sekarang hanya mengandalkan pekerjaan mencuci pakaian di tetangga. Dulu pernah mau diajak Ika jadi TKW ke Arab tetapi ayahnya Weni melarang. Jika aku ke Arab, maka ayahnya Weni akan menceraikan aku. Padahal waktu itu ibu ku sakit keras, aku harus membeli obat dan membayar opname di rumah sakit. Betapa aku merasa aku orang yang terhimpit dan bahkan sudah terjepit.
Ku kenang kembali perkenalanku dengan ayahnya Weni, sebelum ayahnya Weni yang melamarku, sebenarnya ada pria lain juga mengajak menikah, namun orang tua pria itu menolakku mentah-mentah, alasannya aku orang kere (bahasa Jawa:miskin)tidak mungkin menikah dengan orang kaya. Sedangkan ayahnya Weni hadir ketika aku hampir stress dengan perlakuan pria itu. Aku sudah pernah tidur dengannya satu kali. Mengapa aku mau tidur dengannya, waktu itu aku bekerja di pabrik, sepulang dari pabrik aku di ajak ke kos pria itu, setelah ngobrol-ngobrol melepas rindu, karena lelah aku sempat rebahan di tempat tidur, hari itu lelah sekali setelah seharian bekerja. Saat itulah, pria itu mendekatiku dan mendesak membuka bajuku, aku menolak namun pria itu berkata,
Aku tanggung jawab, akan menikahimu
Terjadilah hal itu, kami tidur bersama. Hingga pukul 23.00 aku kembali ke rumah. Aku mulai tidak tenang, dan perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Bahkan dengan ayahnya Weni aku tidak jujur kalau aku pernah tidur dengan pria itu.
Akhirnya pernikahanku pun berlangsung dengan acara yang sederhana, aku senang sekali. Saudara semua berkumpul bahagia. Sebenarnya aku tidak begitu cinta pada ayahnya Weni, karena ayahnya Weni dulu teman SMA yang kutolak cintanya, dia pria suka ganti pacar, aku tidak suka dengan tingkahnya. Tetapi orangtuaku dan orangtuanya sangat ingin kami menikah. Orangtua kami sudah saling mengenal sejak mereka muda dulu.
Malam pertama pun berlangsung dengan keheningan, karena aku masih belum mau tidur dengan ayahnya Weni. Hal itu berlangsung hampir satu bulan. Tanpa diketahui orang tua kami. Meskipun kami sudah sah menjadi suami istri tetapi kami tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Aku masih belum cinta ayahnya Weni.
Hingga akhirnya suatu saat ayahnya Weni mau jujur bahwa dia cinta padaku, dan akan bertanggung jawab, dan kulihat kesehariannya ayah Weni orang pekerja keras, lembut, bahkan menjagaku dengan sayang. Akhirnya aku menyerah pada ayahnya Weni. Bahkan saat-saat kehamilanku pun aku hampir saja bercerai dengan ayahnya Weni, mengapa tidak, ada seorang wanita datang padaku mengaku kalau ayahnya Weni berjanji akan menikahi wanita itu. Aku terkejut bahkan menangis meraung-raung, kesal dan jengkel. Namun hal itu hanya rekayasa wanita itu, agar mendapat uang dari ayahnya Weni. Namun sebenarnya kekawatiran selalu ada, karena sejak SMA ayah Weni terkenal playboy.
Pagi ini aku harus segera mencuci pakaian di tempat bu Lastri, pembantunya lagi mudik ke Cilacap.Jadi aku mengurus pakaiannya. Aku bangun, kemudian menyiapkann makan untuk Weni dan segera ke rumah bu Lastri. Sebenarnya aku enggan beranjak dari tempat tidur Weni, karena aku melihat keadaan Weni makin lemah. Harpanku hari ini bu Lastri memberi aku uang.
Aku mencuci pakaian dengan segera, kemudian menjemur. Dilanjutkan setrika pakaian. Belum usai pakaian ku setrika, Mak Juni menghampiriku
Len, anakmu sudah dibawa ke rumah sakit
Apa mak?
Tadi anakmu pingsan, lalu tetangga membawa ke rumah sakit
Tanpa pikir panjang ku bereskan pakaian, dan aku berlari ke rumah sakit
Di sana ku lihat Weni sudah dirawat oleh dokter, aku manangis tersedu-sedu. Ku ingat ayahnya Weni tidak ada kabar. Belum lagi aku tak ada uang untuk berobat.
Ayahnya Weni kapan pulang Len?
Ga tau mak, nggak ada kabar
Lah kok bisa?
Ntahlah dah aku hubungi saudarnya, tapi ga tau jawabnya
Tetangga memang baik hati, semua pembayaran dibantu tetangga. Meski demikian aku tetap harus mengembalikannya. Tapi setidaknya sudah tertolong.
Malam ini aku mencoba menghubungi ayahnya Weni kembali, Lintang anak bu Lastri mau memberi pinjaman HP nya, dia ga tega melihat ku bersedih. Jawabannya masih sama, tidak tahu kata sepupunya di Jakarta. Hatiku makin hancur dan porak poranda, aku segera menghubungi mertuaku. Alhasil jawabannya sudah lama tidak tahu kabar ayahnya Weni, malah memarahiku, mengapa aku tidak tahu keberadaan ayahnya Weni.
Kalau malam tiba setelah Weni tidur aku sangat kangen belaian dari tangan ayahnya Weni, apalagi pelukan hangatnya, menentramkan jiwa. Tangannya yang menggenggam tanganku semakin aku aman dalam tubuhnya. Air mataku mengalir terus, sesekali kuusap dengan tanganku. Aku tidak ingin Weni melihatnya.
Hari ini Weni bisa kembali ke rumah, senang sekali rasanya. Setidaknya Weni tidak dikelilingi dinding putih dan uang yang tak kumengerti kucari dari mana. Aku menemani Weni makan, kemudian minum obat. Setelah itu aku membereskan pakaian, serta piring-piring yang masih berantakan selama aku tinggal, menunggu Weni di rumah sakit
Len, Len
Ada suara memanggil dari depan rumah, aku segera ke depan
Eh ,mas Hadi
Bagaimana kabar anakmu?
Agak membaik mas
Mari masuk mas
Mulai aku mengenang tentang mas Hadi, mas Hadi adalah mantanku, hingga kini dia belum menikah. Katanya sakit hati akibat dari pernikahanku dengan ayahnya Weni, meski demikian dia tidak menjauh dariku, bahkan kami seperti saudara. Malam itu mas Hadi memberiku uang, sebenarnya aku tidak enak, apa kata orang jika mas Hadi rajin mengunjungiku. Statusnya aku masih istri dari ayahnya Weni.
Hingga suatu malam, di hujan yang deras, mas Hadi ke rumah dan agak lama kami ngobrol, karena hujan tak reda. Aku mengambilkan segelas kopi panas ke dapur, tanpa kusadari mas Hadi menghampiri dari belakangku, kemudian mas Hadi memelukku dengan erat, kemudian aku segera melepeskan, tetapi Hadi berbisik
Bukankah kamu kesepian Len
Aku mulai menjauh darinya, lalu ke depan masuk ke kamar
Aku lupa menguncinya, mas Hadi dengan gerak cepat masuk ke kamar menyusulku. Dengan rasa terkejut badanku sudah terhempas di tempat tidur. Akhirnya wajah kami beradu, jujur waktu itu aku rindu ayahnya Weni, sudah enam bulan aku tidak merasakan pelukan hangatnya. Kemudian mas Hadi mulai mengecup kening ku, kemudian pipi, dan akhirnya bibirku. Mas Hadi rindu sekali padaku, itu katanya. Akhirnya di balik hujan deras itu dan heningnya malam, aku jatuh dalam pelukan mas Hadi. Tengah malam aku terbangun, dan menyesal mengapa aku mau melakukannya, ku lihat mas Hadi tidur di sebelahku. Segera ku rapikan bajuku, rambutku, lalu menuju kamar Weni.
Ntah jam berapa mas Hadi pulang. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Aku malu sekali pada diriku, pada Weni dan ayahnya. Selama ini aku tidak menjaga kepercayaan dari ayahnya Weni.
Setelah itu mas Hadi selalu ingin bertemu denganku, namun pintu selalu tak ku buka. Lewat tetangga dia memberiku uang, namun tetap kutolak. Aku sangat menyesal, ntah bagaimana membersihkan aib ku itu. Seorang pun tidak tahu kejadian itu. Aku tidak berani ngomong ke ibu ku, pasti aku dihajar.
Siang ini aku masih mencuci baju di rumah bu Lastri, selagi aku mencuci, kemudian Lintang menghampiriku.
Mbak, nanti ada telepon untuk mbak tapi aku ga tahu siapa, tunggu aja
Lintang memberi HP nya. Aku memegang dengan hati yang bergetar, ntah mengapa, dari siapakah gerangan?
Halo
Halo
Kamu ya Len?
Ya
Ini siapa ya?
Aku Ratno
Eh mas apa kabar,mas baik-baik saja kan, mas Weni kangen sama kamu
Pertanyaanku berbaris menunggu jawaban dari ayahnya Weni
Ya aku baik
Aku hanya mau bilang, minggu depan aku akan mengurus surat cerai kita, jadi siapkan saja
Berkas-berkasnya
Ha?
Apa maksudnya mas
Dah kita cerai
Mas, maksudnya apa? Mengapa tiba-tiba mas telepon minta cerai
Nada suaraku meninggi dan jantungku berdebar, ingin rasanya kubanting HP itu, tetapi kuigat itu HP nya Lintang. Tetapi tak ada jawaban dari ayahnya Weni. Telepon segera ditutup ayahnya Weni.
Akhirnya tibahlah saat dimana aku tidak pernah bermimpi akan begini jadinya, Weni aku tetap yang asuh. Aku pindah ke Jombang, aku tidak kuat menahan derita ini. Apa salahku, kalau perlu aku akan jujur pada ayahnya Weni, kalau aku wanita bejad yang dia nikahi. Namun alasan ayahnya Weni menceraikan aku, karena tidak cocok. Namun itu hanya caranya agar dengan mudah menikah dengan seorang wanita di Jakarta, itu diketahui oleh salah satu saudara bu Lastri di Jakarta.
Biarlah derita ini ku bawa terus, toh ini mungkin upah dari semua perbuatan bejadku. Aku merawat Weni hingga kini dia sehat kembali. Kini Weni telah lulus dari SMA, tak terasa dia sudah tumbuh dewasa. Meski kadang dia butuh juga sosok seorang ayah, yang melindunginya. Weni sudah tumbuh dewasa, cantik juga dia. Aku kagum padanya.
Len, apa kabar?
Suara itu seperti tak asing di telingaku, aku segera menoleh ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya aku, dan seperti aku ingin berlari kencang menghindar dari orang tersebut. Mas hadi menghampiriku
Aku minta maaf Len
Sudah mas, sudah kumaafkan, maaf aku harus pergi
Tolonglah Len, aku mau menikah denganmu
Sungguh, bukan karena kejadian itu namun dari dulu aku cinta kamu
Aku hanya diam membisu dan air mataku menetes.
Sudah mas Hadi aku ga mau mengingatnya lagi, pergilah dan jangan kembali lagi
Mas Hadi diam di tempat,dan aku pergi menghindar darinya, dan sejauh-jauhnya pergi dari hadapannya. Aku sudah berjanji tidak akan membongkar cerita busuk itu,ku bungkus dalam pelastik hitam, kuikat kencang dan ku lemparkan ke sungai terdalam. Biar dibawa air sungai dan ditiup angin. Agar baunya tidak menyeruak ke mana-mana. Meski ketika aku mengikatnya, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Beginilah deritaku yang harus dihapus dengan kepalsuan. Biarlah detik ini jadi saksi, aku mau hidup dengan apa adanya dan tak akan kututupi luka yang sudah mengoreng dan membusuk ini. Aku tak ingin nanah dalam luka ku ini mengalir di tubuh Weni. Aku ingin Weni menjadi wanita yang baik adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar