Kamis, 12 Maret 2009

sobat muda perlu tahu

Pulang Sekolah
Udara panas membuatku makin lelah, keringat bercucuran, sesekali tisyu di tanganku ku gerakkan di wajahku, luar biasa panasnya. Mungkin ini disebut gejala Global Warming yang di sebut pak Sulaiman guru Geografi ku. Aku masih melangkah perlahan-lahan, sesekali aku berteduh di bawah pohon. Sepanjang jalan selalu kujumpai penjual es, segar sekali pasti menikmati es disaat panas seperti ini.
Hampir saja air liurku hampir turun, namun aku sadar aku tidak memeiliki uang, terakhir tadi aku membeli buku tulis itu pun masih hutang dengan Bu Eka, penjaga koperasi sekolah. Aku kadang berpikir mengapa aku dilahirkan di keluarga yang kategori kurang, ada saja kebutuhan sekolahku harus tertunda dan bahkan diabaikan.
Aku nggak bisa protes pada hidup, toh kenyataannya bapak ku hanya seorang kuli barang di pasar Gede, ibu ku hanya penjual gorengan di depan rumah, itu pun ibu berjualan sore hari dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Sesekali ku pandang juga sepatu yang ku pakai, karena sepatu ini sudah kujahit dengan benang biasa sudah lima kali lebih, ah.. hidup sangat sulit, kalau aku tiba di rumah sudah kupikirkan tugas-tugas menumpuk. Aku harus memperhatikan kakak ku apakah sudah mandi dan makan. Kakak ku Narto namanya dia sejak lahir sudah cacat, kata ibu, waktu ibu hamil tidak memberi imunisasi, sehingga seperti itu. Aku sesekali menitikkan air mata, aku menatap kakak dan melihat badannya yang lunglai, belum lagi adikku Fatimah, dia harus diperhatikan makannya, dia masih berumur 4 tahun, nah adikku satu lagi Dian namanya pasti sudah di dapur membantu ibu menyiapkan jualan.
Pernah suatu ketika, Dian dan Fatimah sakit, aku kebingungan membantu ibu. Kakak ku melakukan aktivitasnya sendiri, alhasil dia terjatuh, aku yang terkena marah ibu, tidak memperhatikan kakak ku. Padahal waktu itu aku memberi makan Fatimah dan Dian sekaligus.
Kalau malam hari setelah aku belajar, aku memandang langit sesekali mengangis betapa tidak mengenakkan hidup sepertiku. Setiap malam aku berdoa ada keajaiban di esok hari namun tidak kutemukan, selalu itu dan itu yang terjadi, dan meskipun aku laki-laki aku juga sering menangis, mungkin aku cengeng, tapi biarlah aku toh harus berjalan menghadapi hidup ini.
Dua tahun lalu bu Lila akan mengangkatku menjadi anak angkatnya, karena bu Lila tidak mempunyai anak, lagi-lagi ibu menolak alasannya ibu masih bisa menghidupi keluarga. Bu Lila meski ditolak oleh ibuku masih terus memberikan uang padaku, lewat guruku di sekolah, uang SPP ku dilunasi, untuk menutupi kecurigaan ibu, uang SPP kualihkan membeli jajan Dian dan Fatimah, terkadang mereka berdua minta dibelikan mainan dan jajan.
Han, besok kita ada field trip ke Museum, kamu ikut juga kan?
Tanya farlan padaku di sekolah
Waduh Lan darimana aku punya uang
Gimana jualan ibu mu?
Beberapa hari ini sepi
Kami berdua teridiam, Farlan tidak dapat menjawab kesulitan ku. Tiba-tiba Farlan berkata
Aku ada ide Han
Apa Lan?
Dua hari ini pak Dasuki, yang mencuci motor di ujung jalan rumahmu tidak bekerja. Bagaimana sepulang sekolah kita bekerja, hasilnya untuk mu, agar kamu dapat ikut field trip.
Betul juga Lan, tapi aku jadi nggak enak merepotkanmu
Dan Han nggak masalah, nanti pulang sekolah kita temui pak Dasuki. Setuju kan Han?
Aku setuju Lan, terima kasih Lan
Sama-sama
Sebenarnya ide itu merupakan ide gila juga, karena sepulang sekolah aku harus membereskan kakak ku, menjaga Fatimah, dan membantu membuat PR Dian, bagaimana harus aku lakukan, namun agar tujuanku field trip tercapai aku harus melakukan dengan baik.
Sepulang sekolah aku dan Ferlan mulai mencuci motor, lumayan siang itu ada 10 motor dicuci, pelanggan sangat senang sekali. Terus saja ku lihat jam tangan Ferlan, karena aku terlambat mengurus kakak dan adikku, aku segera pulang ke rumah.
Di rumah ibu marah-marah, karena ku lihat kakak ku melkukan aktivitasnya sendiri, Dian dan Fatimah pun demikian.
Han, kamu kok pulang lama
Ada PR bu, aku harus mengerjakannya tadi di rumah Ferlan
Masa kamu nggak bisa mengerjakannya sendiri, lihat tuh kakak mu, adik-adaikmu melakukan tugasnya sendiri.
Dah Bu aku bisa melakukannya
Seru kakak ku,
Kalau perlu Dian dan Fatimah aku yang bereskan
Apa katamu? Semua akan berantakan jika kamu kerjakan
Aku tidak tahan ocehan ibu, air mataku berlinang
Malam itu aku tidak bisa tidur, aku masih terus membolak-balikkan badan, tanpa ku ketahui, kakak ku di sebelahku,
Kamu ga bisa tidur Han
Ga, kak
Pulang sekolah kamu ke mana?
Aku terdiam
Main tempat Ferlan?
Aku masih terdiam, ntah bagaimana aku harus mengatakannya
Ya, sudah sekarang istirahat ya
Belum kakak ku bergerak, aku menarik tangannya
Kak, mulai tadi sepulang sekolah aku mencuci motor di tempat pak Dasuki, aku mau field trip ke Museum tapi nggak ada uang.
Kemudian kakak ku menggenggam tanganku
Kakak harus belajar mengurus sendiri kalau perlu Dian dan Fatimah kakak yang membereskan
Makasih kak
Air mataku menetes dan malam itu aku tertidur pulas, hari itu terasa hari terindahku. Aku memiliki kakak meski selama ini ku lihat dia tidak dapat melakukan apa-apa namun malam itu dia membuat keajaiban di mataku, selama ini kami tidak saling bicara, karena jika kakak ku bercerita tentang isi hatinya kami berdua hanya menangis. Aku tahu kakak ku juga laki-laki namun entah mengapa kami saling merasakan pedihnya hidup.
Pernah tercetus dari kami berdua untuk kabur dari rumah dan bekerja di kota, namun lagi-lagi kami iba melihat Dian dan Fatimah, mereka berdua masih kecil, keadaan ekonomi bapak dan ibu juga tidak baik.
Siang ini pulang sekolah aku segera berganti kaos dan mengenakan sandal, aku segera mencuci motor, meski panas namun aku terus melakukan, pelanggan setiap hari makin meningkat. Menurut pelanggan di tempat lain tidak seperti di tempat pak Dasuki, lebih bersih dan terawat. Aku mengerjakannya sendiri, Farlan tidak masuk sekolah hari ini demam kata Susan teman sebangkunya.
Entah mengapa setipa pelanggan datang selalu saja mereka membawa makanan, pelangganku semua baik hati, pernah aku juga diberikan buku pelajaran, bahkan memberi baju, adikku pernah juga diberikan. Waktu itu Fatimah ku bawa tempat mencuci motor, banyak orang yang sayang pada Fatimah. Pelangganku ada juga ibu-ibu atau mbak-mbak.
Sudah satu minggu aku bekerja namun aku tidak yakin dapat membayarnya, karena dua hari lagi field trip, ketika aku akan membayar cicilan field trip, Pak Utoyo mengatkan sudah dilunasi pembayarannya. Seperti biasa bu Lila yang membayar. Uang itu kutabung, aku nggak mengerti membalas kebaikan bu Lila dia seperti malaikat buatku.
Hari ini aku mampir ke tempat bu Lila sebelum mencuci motor
Han, ibu tahu kamu nyuci motor toh sepulang sekolah
Ya, bu. Dari mana ibu tahu?
Han..Han pak Dasuki adik ibu
Aku terkejut
Jadi
Ya dah jadi, pak Dasuki sekarang beralih profesi, sekarang dia kerja di Jakarta, jadi kamu yang pegang cucian motor itu
Yang bener bu
Bener Han, masa ibu bohong.
Kalau pun ibu mu seperti itu namun ibu tetap anggap kamu anak
Terima kasih ya bu
Ya sama-sama, sana pergi cuci motor
Ya, bu aku berangkat
Apakah benar kata lagunya Dewi Lestari sebenarnya sekitar kita itu banyak malaikat untuk membantu kita. Aku tetap tersenyum dan melakukan pekerjaan mencuci motor dengan semangat.
Suatu malam yang aku tidak dapat bayangkan, ibu marah dan tidak memperbolehkan aku mencuci motor lagi, aku disuruh memilih sekolah atau mencuci motor, dengan merajuk dan menangis aku minta ijin ibu agar mencuci motor sepulang sekolah, namun keputusan ibu tidak dapat berubah. Aku tidak boleh mencuci motor lagi.
Aku tidak semangat untuk belajar hari ini, sepulang sekolah ku pandang tempat cucian motor tak ada orang sepi, aku termenung di dekat cucian motor, kemudian air mataku menetes. Aku berharap sekali dari tempat itu, aku masih terus akan bersekolah dan buku pelajaran ku milki. Namun aku harus mengalah dengan suara ibu.
Malam ini keluarga di kejutkan dengan pingsannya bapak, tiba-tiba bapak jatuh di kamar mandi, kemudian ibu membawa ke rumah sakit.
Di rumah sakit bapak mulai di tolong dokter, namun ibu masih bingung dengan biaya rumah sakit, ibu kembali ke rumah mencari barang-barang yang bisa dijual. Beberapa pengahasilanku mencuci motor pun kuberikan pada ibu. Harapanku Bapak dapat tertolong.
Bapak harus diopname, namun biayanya besar, tidak ada orang lain yang kuminta bantuan selain Bu Lila, bu Lila menghiburku, lalu memberi sejumlah uang. Sempat ibu bertanya, ku bilang saja dengan berbohong uang mencuci motor tersebut. Akhirnya uang untuk pengobatan bapak dapat dibayar.
Seharusnya ibu sadar bahwa yang membantu bu Lila, namun ibu masih kurang suka dengan ibu Lila. Namun dari kejadian itu aku mulai menyadarkan ibu, bahwa bu Lila sangat membantu. Ibu sangat tersadar ketika masalah keluarga semakin bertubi-tubi, setelah bapak sembuh dari sakitnya, adikku Dian seluruh tubuhnya terbakar sewaktu menggoreng, lagi-lagi bu Lila membantu. Dari kejadian itu ibu sadar, dan mulai menerima bu Lila.
Siang ini aku masih terus mencuci motor, senang rasanya pulang sekolah dapat mencuci motor.
Han sepulang mencuci motor, pulang ke rumah bu Lila kan?
Ya bu
Aku mulai tinggal di tempat bu Lila, namun hari Sabtu dan Minggu aku pulang ke rumah ku. Aku harus terus bergerak dan maju. Biar berlelah-lelah namun pasti ada hasilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar