HIDUP TERUS BERJALAN
Sampai kapan akan berjalan seperti ini , aku tidak tahu. Aku mendapat hadiah bogem mentah tamparan dari mama tiriku pagi ini, lagi-lagi aku tak masuk kuliah, aku malu karena setiap kali wajahku biru, semua teman bertanya mengapa aku bisa begitu hanya kasihan saja mereka, bahkan aku diduga dihajar Koko pacarku, padahal bukan Koko, dia orang yang sabar, bahkan aku menghindar jika ditanya macam-macam. Makin banyak mala petaka dalam hidupku, aku sepulang kuliah harus bekerja menjadi kasir di rumah makan di jalan Kesehatan. Pulang ke rumah jam 23.00, sesampai di rumah harus mendengar jeritan mama tiriku, mama yang melahirkan ku juga tidak ku ketahui, papa tiriku sesekali pulang ke rumah, karena harus ke rumah istri yang lain, sering kali malam aku tidak bisa tidur, terus terang sudah ku minum semua vitamin dan susu agar gemuk namun berat badanku selalu saja turun. Entah mengapa, sesekali ku pandang foto ku dengan seorang wanita tua, dia bukan mamaku, namu dia yang merawat ku. Dia sudah kuanggap ibu, wanita yang lain aku tidak tahu. Malam itu seperti biasa mama tiriku menjerit dan berteriak minta dibantu berjalan, karena kegiatan di malam hari mabuk, aku segera membantunya meletakkannya di tempat tidur, kemudian aku berjalan menuju kamarku. Namun seperti biasa dia masih menjerit, namun beberapa saat saja kemudian tidur.
Jika pap tiriku datang pasti kucuekin saja, malam itu dia datang. Aku tetap di dalam kamar
Belum tidur Sha?
Belum jawabku cuek
Papa tiriku mulai mebuka pintu kamarku, sebenarnya aku heran mengapa dia aneh sepeti ini, aku tetap bertekun saja di depan buku ku, namun seketika itu juga tubuh ku ditarik papa tiriku ke tempat tidur aku meronta ingin menjerit takut mama tiriku bangun namun tetap aku berusaha ke luar kamar, pria gila itu kuat sekali, memaksa ku untuk membuka bajuku.
Jika kamu teriak dan bilang mama mu, aku tidak membiayai rumah ini dan kuliahmu
Namun aku tidak peduli segera aku bergerak namun, aku dihajar dan pingsan, malam itu ada kesedihan dan kehancuran buatku, papa tiriku berbuat sekejam itu padaku. Setelah aku sadar, aku melihat semua berantakan, semua bajuku berhamburan. Malam itu kuputuskan untuk ke luar dari rumah dan pergi entah ke mana. Orang yang kukunjungi Koko, aku cerita apa adanya sekaligus untuk pamit entah ke mana, Koko berniat membantu ku mengantarkan pada saudaranya, namun aku menolak dan aku segera pergi. Ku lihat jam di tangan ku menunjukkan pukul 04.00. Ku lihat Koko meneteskan air mata, selama pacaran dengan dia baru kali ini dia menangis, entahlah aku tidak mau menatapnya, aku pasti menangis keras.
Aku menaiki bus memang tidak berAc, karena uangku terbatas. Selama di bus, tak henti-hentinya air mata mengalir, aku masih senang kuliah, aku masih senang bekerja di warung makan, aku masih cinta pada Koko, namun rupanya kisah hidup tak penuh cinta. Aku lelah dan terlelap dalam tidur, karena lelah menangis.
Mbak dah nyampe terminal
Ada suara yang membangunkanku, segera aku bangun, dan ke luar. Aku sangat ingat tempat yang kutuju, karena aku tidak bisa terlepas dengan satu orang ini.
Bu, lagi apa
Sapaan ku membuat seorang wanita tua menengok ke aku
Loh kamu dik, sini Ibu kangen
Kami berpelukan, aku tidak akan melepas pelukan hangat itu, dia wanita yang kuanggap ibuku dalam foto. Aku tidur dipangkuannya
Dah dik jangan sedih ya, yang penting kamu dah di sini, lalu mama mu ga menghubungi kamu
Nggak perlu kayaknya bu
Kamu harus kabari kamu ada dimana dik
Ga perlu
Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang sudah berkerut, aku tidak henti-hentinya menangis
Dah dik kamu jangan nangis, ntar ibu juga sedih
Bu aku sayang ibu
Lah ibu juga dik
Aku disebut dik karena itu panggilan sayang ibu punya anak laki-laki namanya Hendra, tinggal sama ibu juga dia di panggil mas, lalu karena aku dianggap adiknya, sehingga aku disebut adik.
Siapa bu yang datang
Sapa mas hendara menuju arahku
Ini adik mu
Eleh si tengil ya
Rambutku diacak-acak seperti biasa, namun aku segera menghapus air mataku ingin menjabat tangannya
Dah mas, adik lagi sedih
Lah kenapa kamu
Nggak kok
Mas hendra sangat memahami ku dia kakak yang baik.
Dah sana mandi, ikut mas
Ke mana mas
Udah pasti kamu suka
Mau ke mana mas, Tanya ibu
Ke alun-alun kok bu
Segera aku mandi dan dandan keren, aku paling suka kalau nongkrong di alun-alun apalagi motor-motoran dengan mas Hendra, serasa stress hilang.
Aku dan mas Hendra menikmati jagung bakar, sambil cerita dan tertawa bersama, kemudian tiba-tiba seorang cewek mendekati kami
Eh Ras, gabung sini
Ini Shabrina dari Jakarta
Oh ini Shabrina
Shabrina
Saras
Dari mana Ras?
Dari rumah sakit nengok nenek
Sakit ya, masuk tadi pagi, lalu lagi pesen jahe untuk mas Ipung, ntar malam dia mau jaga nenek
Oh gitu, duduk sini dulu
Aku buru-buru mas
Aku duluan ya Sha
Oh ya mbak
Kamu nyetir sendiri
Ya mas
Hati-hati ya
Dia nggak marah mas kita berdua, Tanya ku penasaran
Sha..Sha kayak SMA aja cemburuan, kita pacaran dah lama Cuma belum nikah-nikah aja
Kami tertawa bersama. Aku akhirnya memberanikan diri cerita ke mas Hendra tentang kisahku, setelah di rumah, lagi-lagi aku menangis,ibu memelukku, karena aku dah menangis sejadi-jadinya. Malam itu aku lega ada saudara-saudara yang mau mendengarkan meskipun aku tidak tahu siapa mereka. Namun yang pasti mereka mencintaiku.
Hari ini aku bekerja, pacarnya mas Hendra menawarkanku mengawasi usahanya di toko butik, aku suka sekali, mbak Saras baik sekali. Aku masuk kerja jam 08.00 pulang jam 16.00, wah indah sekali hidupku, aku menikmati hari-hariku. Setiap harinya aku bisa makan maskan ibu. Aku seperti di dunia baru dan aku hampir lupa dengan kejadian sedihku.
Sebuah sms masuk ke HP ku
Sha, mama mu masuk rumah sakit dua hari lalu, sekarang tubuhnya stroke pulang dulu
Aku bingung siapa pengirim sms itu, aku meneleponnya
Halo ini siapa?
Kamu lupa sama aku
Hei Koko
Ya, apa kabar
Baik
Mama ku stroke, kemarin aku dan Lala ke sana
Lalu?
Ya pulang lah
Kayaknya nggak Ko
Loh gimana sih?mama mu menyebut nama mu
Aku nggak peduli Ko
Kemudian kututup telepon.
Sapa yang stroke dik? Tanya ibu
Nggak ada bu
Dik, jangan bohong sama Ibu
Aku segera ke kamar dan menutup pintu
Dik Ibu mau ngomong
Aku membukakan pintu
Dik kalau memang mama mu sakit pulang dulu sana
Nggak bu
Aku masih menangis
Ntar mas Hendra antar
Nggak mau
Dik siapa pun orang yang pernah dekat mu itu orang-orang yang dipilih untuk kamu, jadi kamu harus hormat.
Aku menangis dan memeluk ibu
Meskipun kamu masih terus bertanya pada siapa kamu patuh, jawabnya semua orang dik, bukan pada orang yang melahirkan kamu saja toh?
Sapaan lembut itu meluluhkan hatiku, akhirnya keesokan pagi aku pulang ke rumah.
Sebelum masuk rumah aku menatap sekeliling aku nggak mau ketemu papa tiriku yang gila itu, setelah ku rasa aman, aku masuk ke rumah aku hampir pingsan melihat mama di kursi roda, sedang menghadap ke dinding, yang dilihatnya adalah fotoku. Air matanya terus mengalir, bahkan tangan kanannya sudah tidak dapat digerakkan, air liurnya mengalir dengan deras, aku tidak tahan, segera aku berlari memeluk mama. Mama pun sangat tekejut namun senyum nya melebar , senang meski air matanya mengalir terus
Mama sendiri
He ma diri ya gila rang la (ya mama sendiri, dasar orang gila dia maksudnya papa tiriku)
Kemudian mama menangis keras, dia menceritakan papa tiriku, meninggalkan mama pergi ke luar negeri, dan hal yang membuat mama makin menangis dan hampir pingsan, kalau aku dipaksa oleh papa tiriku untuk nafsu bejadnya, lalu aku segera menyudahi dia bercerita. Mama aku ajak istrihat, namun mama tetap memegang tanganku erat.
Ngan gi ya (jangan pergi ya)
Mama pesan agar aku jangan pergi, air mataku memgalir, selama mama tidur aku di sebelahnya, namun pegangan tangannya terus memegangku, aku takut dia capek, ingin ku gerakkan tangannya yang memeluk erat tangan ku, namun dia pun terasa. Akhirnya sampai pagi aku tidur dengan mama.
Matahari sudah masuk ke kamar mama, sinarnya menyinari ruangan itu, aku pun terbangun. Ketika aku bangun aku lihat mama masih tetap tidur nyenyak, segera ku lepaskan tanganku namun aku melihat kejanggalan, mama seperti tidak bergerak, aku segera membangunkan
Ma, udah pagi, bangun yuk
Namun tak kulihat reaksinya,
Ma, ma bangun
Aku terus menggerakkan, akhirnya aku histeris sendiri, memanggil tetangga rumah, beberapa tetangga masuk dan semua tetangga menyatakan mama sudah meninggal, aku tidak rela lalu kami bawa ke rumah sakit, mama tidak bisa tertolong, perkiraan dokter mama meninggal pukul 24.00. Aku hanya bisa menangis dan pasrah. Aku menghubungi Ibu dan mas Hendra.
Aku belum sempat berbuat apa-apa untuk mama, aku masih termenung di depan jenasah mama, kemudian mas Hendra memberikan dua lembar kertas.
Tadi mas lihat di dapur
Aku membacanya perlahan, aku mulai menangis dan ibu memelukku, mama curhat pada lemabr kertas itu,
Mama belum bisa buat apa-apa untuk Shabrina, Sha pasti kamu sedih dengan ulah papa tiri mu
Maafin mama, Sha kamu terlalu lelah dengan hidup mama yang berantakan, mama tahu kalau
Mama mabuk kamu yang bawa ke kamar. Mama nggak perlu kasih tahu siapa mama yang melahirkanmu, dah yang pasti kamu anak mama.
Mama juga terlalu tidak suka dengan ibu, karena ibu mu bisa meluluhkan kamu sedangkan mama, orang tua nggak tahu diri. Tapi mama harus akui ibu mu luar biasa.
Sayang..maafin mama
Aku tidak tahan membacanya aku menangis histeris dan aku tidak tahu kalau aku tidak sadarkan diri, setelah sadar ibu menenangkan aku
Bu aku nggak hormat sama mama
Dah dik jangan nangis ya
Hari ini adalah dua bulan mama pergi, akhirnya ku putuskan tinggal bersama ibu
Dik kamu seperti beda ya
Apanya bu
Belum saja aku selesai bicara, aku mual dan ke kamar mandi
Knapa dik? Masuk angin
Ga bu
Kamu kenapa?
Dah satu bulan terlambat haid
Dah sekarang kita periksa
Hari itu adalah awal dari hidup ku yang makin tidak karuan, aku hamil. Aku berjalan terus mengahadapi hari-hari, aku harus hamil anak dari papa tiriku. Ibu selalu menyemangatiku, aku tetap menjaga kehamilanku, pernah suatu kali aku mau mau menggugurkan kandungan itu, lagi-lagi Ibu mengingatkanku. Anak itu lahir tanpa bapak, aku harus terima dengan lapang dada. Ibu dan mas Hendra menerimaku dan anak ku dengan senang.
setiap orang pasti punya suara yang bisu pun diberi Tuhan suara meski tak terdengar telinga manusia namun terdengar di telinga Tuhan
Senin, 30 Maret 2009
Kamis, 12 Maret 2009
sobat muda perlu tahu
Pulang Sekolah
Udara panas membuatku makin lelah, keringat bercucuran, sesekali tisyu di tanganku ku gerakkan di wajahku, luar biasa panasnya. Mungkin ini disebut gejala Global Warming yang di sebut pak Sulaiman guru Geografi ku. Aku masih melangkah perlahan-lahan, sesekali aku berteduh di bawah pohon. Sepanjang jalan selalu kujumpai penjual es, segar sekali pasti menikmati es disaat panas seperti ini.
Hampir saja air liurku hampir turun, namun aku sadar aku tidak memeiliki uang, terakhir tadi aku membeli buku tulis itu pun masih hutang dengan Bu Eka, penjaga koperasi sekolah. Aku kadang berpikir mengapa aku dilahirkan di keluarga yang kategori kurang, ada saja kebutuhan sekolahku harus tertunda dan bahkan diabaikan.
Aku nggak bisa protes pada hidup, toh kenyataannya bapak ku hanya seorang kuli barang di pasar Gede, ibu ku hanya penjual gorengan di depan rumah, itu pun ibu berjualan sore hari dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Sesekali ku pandang juga sepatu yang ku pakai, karena sepatu ini sudah kujahit dengan benang biasa sudah lima kali lebih, ah.. hidup sangat sulit, kalau aku tiba di rumah sudah kupikirkan tugas-tugas menumpuk. Aku harus memperhatikan kakak ku apakah sudah mandi dan makan. Kakak ku Narto namanya dia sejak lahir sudah cacat, kata ibu, waktu ibu hamil tidak memberi imunisasi, sehingga seperti itu. Aku sesekali menitikkan air mata, aku menatap kakak dan melihat badannya yang lunglai, belum lagi adikku Fatimah, dia harus diperhatikan makannya, dia masih berumur 4 tahun, nah adikku satu lagi Dian namanya pasti sudah di dapur membantu ibu menyiapkan jualan.
Pernah suatu ketika, Dian dan Fatimah sakit, aku kebingungan membantu ibu. Kakak ku melakukan aktivitasnya sendiri, alhasil dia terjatuh, aku yang terkena marah ibu, tidak memperhatikan kakak ku. Padahal waktu itu aku memberi makan Fatimah dan Dian sekaligus.
Kalau malam hari setelah aku belajar, aku memandang langit sesekali mengangis betapa tidak mengenakkan hidup sepertiku. Setiap malam aku berdoa ada keajaiban di esok hari namun tidak kutemukan, selalu itu dan itu yang terjadi, dan meskipun aku laki-laki aku juga sering menangis, mungkin aku cengeng, tapi biarlah aku toh harus berjalan menghadapi hidup ini.
Dua tahun lalu bu Lila akan mengangkatku menjadi anak angkatnya, karena bu Lila tidak mempunyai anak, lagi-lagi ibu menolak alasannya ibu masih bisa menghidupi keluarga. Bu Lila meski ditolak oleh ibuku masih terus memberikan uang padaku, lewat guruku di sekolah, uang SPP ku dilunasi, untuk menutupi kecurigaan ibu, uang SPP kualihkan membeli jajan Dian dan Fatimah, terkadang mereka berdua minta dibelikan mainan dan jajan.
Han, besok kita ada field trip ke Museum, kamu ikut juga kan?
Tanya farlan padaku di sekolah
Waduh Lan darimana aku punya uang
Gimana jualan ibu mu?
Beberapa hari ini sepi
Kami berdua teridiam, Farlan tidak dapat menjawab kesulitan ku. Tiba-tiba Farlan berkata
Aku ada ide Han
Apa Lan?
Dua hari ini pak Dasuki, yang mencuci motor di ujung jalan rumahmu tidak bekerja. Bagaimana sepulang sekolah kita bekerja, hasilnya untuk mu, agar kamu dapat ikut field trip.
Betul juga Lan, tapi aku jadi nggak enak merepotkanmu
Dan Han nggak masalah, nanti pulang sekolah kita temui pak Dasuki. Setuju kan Han?
Aku setuju Lan, terima kasih Lan
Sama-sama
Sebenarnya ide itu merupakan ide gila juga, karena sepulang sekolah aku harus membereskan kakak ku, menjaga Fatimah, dan membantu membuat PR Dian, bagaimana harus aku lakukan, namun agar tujuanku field trip tercapai aku harus melakukan dengan baik.
Sepulang sekolah aku dan Ferlan mulai mencuci motor, lumayan siang itu ada 10 motor dicuci, pelanggan sangat senang sekali. Terus saja ku lihat jam tangan Ferlan, karena aku terlambat mengurus kakak dan adikku, aku segera pulang ke rumah.
Di rumah ibu marah-marah, karena ku lihat kakak ku melkukan aktivitasnya sendiri, Dian dan Fatimah pun demikian.
Han, kamu kok pulang lama
Ada PR bu, aku harus mengerjakannya tadi di rumah Ferlan
Masa kamu nggak bisa mengerjakannya sendiri, lihat tuh kakak mu, adik-adaikmu melakukan tugasnya sendiri.
Dah Bu aku bisa melakukannya
Seru kakak ku,
Kalau perlu Dian dan Fatimah aku yang bereskan
Apa katamu? Semua akan berantakan jika kamu kerjakan
Aku tidak tahan ocehan ibu, air mataku berlinang
Malam itu aku tidak bisa tidur, aku masih terus membolak-balikkan badan, tanpa ku ketahui, kakak ku di sebelahku,
Kamu ga bisa tidur Han
Ga, kak
Pulang sekolah kamu ke mana?
Aku terdiam
Main tempat Ferlan?
Aku masih terdiam, ntah bagaimana aku harus mengatakannya
Ya, sudah sekarang istirahat ya
Belum kakak ku bergerak, aku menarik tangannya
Kak, mulai tadi sepulang sekolah aku mencuci motor di tempat pak Dasuki, aku mau field trip ke Museum tapi nggak ada uang.
Kemudian kakak ku menggenggam tanganku
Kakak harus belajar mengurus sendiri kalau perlu Dian dan Fatimah kakak yang membereskan
Makasih kak
Air mataku menetes dan malam itu aku tertidur pulas, hari itu terasa hari terindahku. Aku memiliki kakak meski selama ini ku lihat dia tidak dapat melakukan apa-apa namun malam itu dia membuat keajaiban di mataku, selama ini kami tidak saling bicara, karena jika kakak ku bercerita tentang isi hatinya kami berdua hanya menangis. Aku tahu kakak ku juga laki-laki namun entah mengapa kami saling merasakan pedihnya hidup.
Pernah tercetus dari kami berdua untuk kabur dari rumah dan bekerja di kota, namun lagi-lagi kami iba melihat Dian dan Fatimah, mereka berdua masih kecil, keadaan ekonomi bapak dan ibu juga tidak baik.
Siang ini pulang sekolah aku segera berganti kaos dan mengenakan sandal, aku segera mencuci motor, meski panas namun aku terus melakukan, pelanggan setiap hari makin meningkat. Menurut pelanggan di tempat lain tidak seperti di tempat pak Dasuki, lebih bersih dan terawat. Aku mengerjakannya sendiri, Farlan tidak masuk sekolah hari ini demam kata Susan teman sebangkunya.
Entah mengapa setipa pelanggan datang selalu saja mereka membawa makanan, pelangganku semua baik hati, pernah aku juga diberikan buku pelajaran, bahkan memberi baju, adikku pernah juga diberikan. Waktu itu Fatimah ku bawa tempat mencuci motor, banyak orang yang sayang pada Fatimah. Pelangganku ada juga ibu-ibu atau mbak-mbak.
Sudah satu minggu aku bekerja namun aku tidak yakin dapat membayarnya, karena dua hari lagi field trip, ketika aku akan membayar cicilan field trip, Pak Utoyo mengatkan sudah dilunasi pembayarannya. Seperti biasa bu Lila yang membayar. Uang itu kutabung, aku nggak mengerti membalas kebaikan bu Lila dia seperti malaikat buatku.
Hari ini aku mampir ke tempat bu Lila sebelum mencuci motor
Han, ibu tahu kamu nyuci motor toh sepulang sekolah
Ya, bu. Dari mana ibu tahu?
Han..Han pak Dasuki adik ibu
Aku terkejut
Jadi
Ya dah jadi, pak Dasuki sekarang beralih profesi, sekarang dia kerja di Jakarta, jadi kamu yang pegang cucian motor itu
Yang bener bu
Bener Han, masa ibu bohong.
Kalau pun ibu mu seperti itu namun ibu tetap anggap kamu anak
Terima kasih ya bu
Ya sama-sama, sana pergi cuci motor
Ya, bu aku berangkat
Apakah benar kata lagunya Dewi Lestari sebenarnya sekitar kita itu banyak malaikat untuk membantu kita. Aku tetap tersenyum dan melakukan pekerjaan mencuci motor dengan semangat.
Suatu malam yang aku tidak dapat bayangkan, ibu marah dan tidak memperbolehkan aku mencuci motor lagi, aku disuruh memilih sekolah atau mencuci motor, dengan merajuk dan menangis aku minta ijin ibu agar mencuci motor sepulang sekolah, namun keputusan ibu tidak dapat berubah. Aku tidak boleh mencuci motor lagi.
Aku tidak semangat untuk belajar hari ini, sepulang sekolah ku pandang tempat cucian motor tak ada orang sepi, aku termenung di dekat cucian motor, kemudian air mataku menetes. Aku berharap sekali dari tempat itu, aku masih terus akan bersekolah dan buku pelajaran ku milki. Namun aku harus mengalah dengan suara ibu.
Malam ini keluarga di kejutkan dengan pingsannya bapak, tiba-tiba bapak jatuh di kamar mandi, kemudian ibu membawa ke rumah sakit.
Di rumah sakit bapak mulai di tolong dokter, namun ibu masih bingung dengan biaya rumah sakit, ibu kembali ke rumah mencari barang-barang yang bisa dijual. Beberapa pengahasilanku mencuci motor pun kuberikan pada ibu. Harapanku Bapak dapat tertolong.
Bapak harus diopname, namun biayanya besar, tidak ada orang lain yang kuminta bantuan selain Bu Lila, bu Lila menghiburku, lalu memberi sejumlah uang. Sempat ibu bertanya, ku bilang saja dengan berbohong uang mencuci motor tersebut. Akhirnya uang untuk pengobatan bapak dapat dibayar.
Seharusnya ibu sadar bahwa yang membantu bu Lila, namun ibu masih kurang suka dengan ibu Lila. Namun dari kejadian itu aku mulai menyadarkan ibu, bahwa bu Lila sangat membantu. Ibu sangat tersadar ketika masalah keluarga semakin bertubi-tubi, setelah bapak sembuh dari sakitnya, adikku Dian seluruh tubuhnya terbakar sewaktu menggoreng, lagi-lagi bu Lila membantu. Dari kejadian itu ibu sadar, dan mulai menerima bu Lila.
Siang ini aku masih terus mencuci motor, senang rasanya pulang sekolah dapat mencuci motor.
Han sepulang mencuci motor, pulang ke rumah bu Lila kan?
Ya bu
Aku mulai tinggal di tempat bu Lila, namun hari Sabtu dan Minggu aku pulang ke rumah ku. Aku harus terus bergerak dan maju. Biar berlelah-lelah namun pasti ada hasilnya.
Udara panas membuatku makin lelah, keringat bercucuran, sesekali tisyu di tanganku ku gerakkan di wajahku, luar biasa panasnya. Mungkin ini disebut gejala Global Warming yang di sebut pak Sulaiman guru Geografi ku. Aku masih melangkah perlahan-lahan, sesekali aku berteduh di bawah pohon. Sepanjang jalan selalu kujumpai penjual es, segar sekali pasti menikmati es disaat panas seperti ini.
Hampir saja air liurku hampir turun, namun aku sadar aku tidak memeiliki uang, terakhir tadi aku membeli buku tulis itu pun masih hutang dengan Bu Eka, penjaga koperasi sekolah. Aku kadang berpikir mengapa aku dilahirkan di keluarga yang kategori kurang, ada saja kebutuhan sekolahku harus tertunda dan bahkan diabaikan.
Aku nggak bisa protes pada hidup, toh kenyataannya bapak ku hanya seorang kuli barang di pasar Gede, ibu ku hanya penjual gorengan di depan rumah, itu pun ibu berjualan sore hari dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Sesekali ku pandang juga sepatu yang ku pakai, karena sepatu ini sudah kujahit dengan benang biasa sudah lima kali lebih, ah.. hidup sangat sulit, kalau aku tiba di rumah sudah kupikirkan tugas-tugas menumpuk. Aku harus memperhatikan kakak ku apakah sudah mandi dan makan. Kakak ku Narto namanya dia sejak lahir sudah cacat, kata ibu, waktu ibu hamil tidak memberi imunisasi, sehingga seperti itu. Aku sesekali menitikkan air mata, aku menatap kakak dan melihat badannya yang lunglai, belum lagi adikku Fatimah, dia harus diperhatikan makannya, dia masih berumur 4 tahun, nah adikku satu lagi Dian namanya pasti sudah di dapur membantu ibu menyiapkan jualan.
Pernah suatu ketika, Dian dan Fatimah sakit, aku kebingungan membantu ibu. Kakak ku melakukan aktivitasnya sendiri, alhasil dia terjatuh, aku yang terkena marah ibu, tidak memperhatikan kakak ku. Padahal waktu itu aku memberi makan Fatimah dan Dian sekaligus.
Kalau malam hari setelah aku belajar, aku memandang langit sesekali mengangis betapa tidak mengenakkan hidup sepertiku. Setiap malam aku berdoa ada keajaiban di esok hari namun tidak kutemukan, selalu itu dan itu yang terjadi, dan meskipun aku laki-laki aku juga sering menangis, mungkin aku cengeng, tapi biarlah aku toh harus berjalan menghadapi hidup ini.
Dua tahun lalu bu Lila akan mengangkatku menjadi anak angkatnya, karena bu Lila tidak mempunyai anak, lagi-lagi ibu menolak alasannya ibu masih bisa menghidupi keluarga. Bu Lila meski ditolak oleh ibuku masih terus memberikan uang padaku, lewat guruku di sekolah, uang SPP ku dilunasi, untuk menutupi kecurigaan ibu, uang SPP kualihkan membeli jajan Dian dan Fatimah, terkadang mereka berdua minta dibelikan mainan dan jajan.
Han, besok kita ada field trip ke Museum, kamu ikut juga kan?
Tanya farlan padaku di sekolah
Waduh Lan darimana aku punya uang
Gimana jualan ibu mu?
Beberapa hari ini sepi
Kami berdua teridiam, Farlan tidak dapat menjawab kesulitan ku. Tiba-tiba Farlan berkata
Aku ada ide Han
Apa Lan?
Dua hari ini pak Dasuki, yang mencuci motor di ujung jalan rumahmu tidak bekerja. Bagaimana sepulang sekolah kita bekerja, hasilnya untuk mu, agar kamu dapat ikut field trip.
Betul juga Lan, tapi aku jadi nggak enak merepotkanmu
Dan Han nggak masalah, nanti pulang sekolah kita temui pak Dasuki. Setuju kan Han?
Aku setuju Lan, terima kasih Lan
Sama-sama
Sebenarnya ide itu merupakan ide gila juga, karena sepulang sekolah aku harus membereskan kakak ku, menjaga Fatimah, dan membantu membuat PR Dian, bagaimana harus aku lakukan, namun agar tujuanku field trip tercapai aku harus melakukan dengan baik.
Sepulang sekolah aku dan Ferlan mulai mencuci motor, lumayan siang itu ada 10 motor dicuci, pelanggan sangat senang sekali. Terus saja ku lihat jam tangan Ferlan, karena aku terlambat mengurus kakak dan adikku, aku segera pulang ke rumah.
Di rumah ibu marah-marah, karena ku lihat kakak ku melkukan aktivitasnya sendiri, Dian dan Fatimah pun demikian.
Han, kamu kok pulang lama
Ada PR bu, aku harus mengerjakannya tadi di rumah Ferlan
Masa kamu nggak bisa mengerjakannya sendiri, lihat tuh kakak mu, adik-adaikmu melakukan tugasnya sendiri.
Dah Bu aku bisa melakukannya
Seru kakak ku,
Kalau perlu Dian dan Fatimah aku yang bereskan
Apa katamu? Semua akan berantakan jika kamu kerjakan
Aku tidak tahan ocehan ibu, air mataku berlinang
Malam itu aku tidak bisa tidur, aku masih terus membolak-balikkan badan, tanpa ku ketahui, kakak ku di sebelahku,
Kamu ga bisa tidur Han
Ga, kak
Pulang sekolah kamu ke mana?
Aku terdiam
Main tempat Ferlan?
Aku masih terdiam, ntah bagaimana aku harus mengatakannya
Ya, sudah sekarang istirahat ya
Belum kakak ku bergerak, aku menarik tangannya
Kak, mulai tadi sepulang sekolah aku mencuci motor di tempat pak Dasuki, aku mau field trip ke Museum tapi nggak ada uang.
Kemudian kakak ku menggenggam tanganku
Kakak harus belajar mengurus sendiri kalau perlu Dian dan Fatimah kakak yang membereskan
Makasih kak
Air mataku menetes dan malam itu aku tertidur pulas, hari itu terasa hari terindahku. Aku memiliki kakak meski selama ini ku lihat dia tidak dapat melakukan apa-apa namun malam itu dia membuat keajaiban di mataku, selama ini kami tidak saling bicara, karena jika kakak ku bercerita tentang isi hatinya kami berdua hanya menangis. Aku tahu kakak ku juga laki-laki namun entah mengapa kami saling merasakan pedihnya hidup.
Pernah tercetus dari kami berdua untuk kabur dari rumah dan bekerja di kota, namun lagi-lagi kami iba melihat Dian dan Fatimah, mereka berdua masih kecil, keadaan ekonomi bapak dan ibu juga tidak baik.
Siang ini pulang sekolah aku segera berganti kaos dan mengenakan sandal, aku segera mencuci motor, meski panas namun aku terus melakukan, pelanggan setiap hari makin meningkat. Menurut pelanggan di tempat lain tidak seperti di tempat pak Dasuki, lebih bersih dan terawat. Aku mengerjakannya sendiri, Farlan tidak masuk sekolah hari ini demam kata Susan teman sebangkunya.
Entah mengapa setipa pelanggan datang selalu saja mereka membawa makanan, pelangganku semua baik hati, pernah aku juga diberikan buku pelajaran, bahkan memberi baju, adikku pernah juga diberikan. Waktu itu Fatimah ku bawa tempat mencuci motor, banyak orang yang sayang pada Fatimah. Pelangganku ada juga ibu-ibu atau mbak-mbak.
Sudah satu minggu aku bekerja namun aku tidak yakin dapat membayarnya, karena dua hari lagi field trip, ketika aku akan membayar cicilan field trip, Pak Utoyo mengatkan sudah dilunasi pembayarannya. Seperti biasa bu Lila yang membayar. Uang itu kutabung, aku nggak mengerti membalas kebaikan bu Lila dia seperti malaikat buatku.
Hari ini aku mampir ke tempat bu Lila sebelum mencuci motor
Han, ibu tahu kamu nyuci motor toh sepulang sekolah
Ya, bu. Dari mana ibu tahu?
Han..Han pak Dasuki adik ibu
Aku terkejut
Jadi
Ya dah jadi, pak Dasuki sekarang beralih profesi, sekarang dia kerja di Jakarta, jadi kamu yang pegang cucian motor itu
Yang bener bu
Bener Han, masa ibu bohong.
Kalau pun ibu mu seperti itu namun ibu tetap anggap kamu anak
Terima kasih ya bu
Ya sama-sama, sana pergi cuci motor
Ya, bu aku berangkat
Apakah benar kata lagunya Dewi Lestari sebenarnya sekitar kita itu banyak malaikat untuk membantu kita. Aku tetap tersenyum dan melakukan pekerjaan mencuci motor dengan semangat.
Suatu malam yang aku tidak dapat bayangkan, ibu marah dan tidak memperbolehkan aku mencuci motor lagi, aku disuruh memilih sekolah atau mencuci motor, dengan merajuk dan menangis aku minta ijin ibu agar mencuci motor sepulang sekolah, namun keputusan ibu tidak dapat berubah. Aku tidak boleh mencuci motor lagi.
Aku tidak semangat untuk belajar hari ini, sepulang sekolah ku pandang tempat cucian motor tak ada orang sepi, aku termenung di dekat cucian motor, kemudian air mataku menetes. Aku berharap sekali dari tempat itu, aku masih terus akan bersekolah dan buku pelajaran ku milki. Namun aku harus mengalah dengan suara ibu.
Malam ini keluarga di kejutkan dengan pingsannya bapak, tiba-tiba bapak jatuh di kamar mandi, kemudian ibu membawa ke rumah sakit.
Di rumah sakit bapak mulai di tolong dokter, namun ibu masih bingung dengan biaya rumah sakit, ibu kembali ke rumah mencari barang-barang yang bisa dijual. Beberapa pengahasilanku mencuci motor pun kuberikan pada ibu. Harapanku Bapak dapat tertolong.
Bapak harus diopname, namun biayanya besar, tidak ada orang lain yang kuminta bantuan selain Bu Lila, bu Lila menghiburku, lalu memberi sejumlah uang. Sempat ibu bertanya, ku bilang saja dengan berbohong uang mencuci motor tersebut. Akhirnya uang untuk pengobatan bapak dapat dibayar.
Seharusnya ibu sadar bahwa yang membantu bu Lila, namun ibu masih kurang suka dengan ibu Lila. Namun dari kejadian itu aku mulai menyadarkan ibu, bahwa bu Lila sangat membantu. Ibu sangat tersadar ketika masalah keluarga semakin bertubi-tubi, setelah bapak sembuh dari sakitnya, adikku Dian seluruh tubuhnya terbakar sewaktu menggoreng, lagi-lagi bu Lila membantu. Dari kejadian itu ibu sadar, dan mulai menerima bu Lila.
Siang ini aku masih terus mencuci motor, senang rasanya pulang sekolah dapat mencuci motor.
Han sepulang mencuci motor, pulang ke rumah bu Lila kan?
Ya bu
Aku mulai tinggal di tempat bu Lila, namun hari Sabtu dan Minggu aku pulang ke rumah ku. Aku harus terus bergerak dan maju. Biar berlelah-lelah namun pasti ada hasilnya.
Minggu, 01 Maret 2009
hebat bukan
SETIAP HARI ADALAH ALBUM KENANGAN
Kala malam menjelang rasa sunyi kerap mendampingiku, ada bebereapa teman sudah menikah, memiliki anak. Bahkan ada juga yang menikah namun di ambang bimbang, ada yang sudah tunangan namun kandas di tengah jalan, kabar itu kudengar dari Sasa, adiknya batal menikah dengan calon adik iparnya, tak tahu mengapa. Setipa hari adalah album kenangan untuk kita belajar. Toh kita hanya ikut proses, bahan dan alat sudah ada namun kadang proses itu kita belum tekuni, sisi manusia ada saat penasaran alias tidak sabar, kapan Tuhan buat semua itu indah.
Sore ini sepulang kerja aku mampir di sebuah warung sate, sepetinya enak, kulihat berderet mobil dan motor parkir di sekitarnya, tempatnya tidak besar namun aku akui tempatnya bersih, setiap pelayan tidak membiarkan meja dan lantai untuk disentuh bahan yang membuat kotor, lalat pun enggan bermain di sana, aku masuk ke dalam dan duduk, seoran cewek remaja menghampiirku
Pesan apa mbak?
Menyodorkan selembar kertas berisi menu yang disajikan di warung tersebut, aku mulai senyum, hal yang membuat aku tersenyum, karena di sana ada menu sate menanti kekasih, sesaat aku mengamati di sana terdapat paket senyum ceria dan yang lain, aku sempat bingung akan pesan apa, karena ku kira semua enak. Aku dapat info dari Rista temen kantor pernah makan di sana. Kemudian setelah aku beri tanda pesananku, tidak lama kemudian datanglah menu makan yang ku pesan.
Aku menikamti pesanan itu, namun aku baru memperhatikan di bawah piring pesananku, ada tulisan
Katakan ya pada setiap orang, betapa hari ini sungguh bersejarah
Aku hanya tersenyum, ada juga warung yang memperhatikan seperti itu, Rista tidak cerita aka nada hal-hal lucu seperti itu, bahkan di sebelah meja ku ada sepasang kekasih memesan paket mesra, dengan kalimat yang romantis pula, itu kuketahui karena yang cewek sempat membacakan sedikit keras pada si cowok
Wah lucu dan sungguh memukau tempat itu
Selesai menikmati aku ke kasir, dengan iseng aku bertanya
mbak, mengapa setiap piring ada tulisan, kok sempat ya?
Mbak kasir tersenyum, kemudian mengatakan
Si pemilik warung makan adalah seorang sastrawan yang cinta memasak
Aku terperangah, betapa hebat memiliki ide seperti itu
Sepulang dari warung itu aku mulai cerita kepada sepupuku dan tanteku di rumah, oh ya aku tinggal dengan tante dan sepupuku, orang tua tinggal di Pati.
Sin di warung sate di jalan Cokro asik loh
Yang sebelah toko buku Lancar kan?
Kok kamu tahu?
Lah yang punya kan papa nya tmenku
Oh ya Sin?
Siapa toh Dis?
Tanya tante
Warung sate di jalan cokro
Oh, itu ya, kan warung itu dapat penghargaan dari Gubernur loh
Awalnya warung itu di deket hutan hiburan deket Senopati, namun tidak begitu laris, maka pindah lah ke jalan cokro
Kamu makan di sana Dis?
Ya
Sama siapa mbak, sama pacar ya?
Nggak sendiri
Ya mbak jangan sendiri, tuh warung suka dengan orang berpasangan apalagi yang rame
Kok gitu, jadi kalau sendiri kenapa?
Wah nggak tok cer. Karena dipercaya warung itu membuat langgeng hubungan
Sindi pergi ke kamarnya dengan tersenyum
Apakah aku akan mengajak pasangan orang lain, Cuma untuk makan di sana, Sindi paling nggak tahu kalau aku jomblo
Siang ini pekerjaan ku lumayan menumpuk, bahakan waktu istirahat pun tak sempat untuk ke luar makan, aku segera makan saja makanan dekatku, tak ku perhatikan siapa yang membeli.
Fan aku bayar berapa nih makanan yang ku makan tadi
Aku menanyajan harga makanan yang sudah ku makan di meja ku tadi pada Office Boy ku
Bayar makan mbak,yang mana?
Dia bingung
Lah tadi di meja ku ada makanan kan
Ya mbak, tapi itu gratis
Gratis? Kamu ulang tahun?
Ya mbak bukan saya mbak, tapi pak Lukito
Pak Lukito?
Ya mbak, aku ke belakang dulu mbak
Segera ku angkat gagang telepon
Halo pak Lukito, selamat ulang tahun ya, aku nggak ngerti
Nggak apa-apa Bu Yudis
Tapi panggil Yudis aja lah ya, kamu panggil aku Lukito aja, toh kita belum nikah kan
Tawa pak Lukito membuat perubahan saja, biasanya dia paling rese soal nama, namun entah siang ini dia cair, akan kah dia berubah, ku tepis pikiran macam-macamku.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, mulai kubereskan semua berkas-berkasku, karena sebentar lagi jam pulang kantor. Belum aku selesai memberekan, pak Lukito masuk ruanganku
Dis ntar pulang kantor nggak ada acara kan?
Emang kenapa pak?
Pak lagi, panggil Lukito, ntar aku ajak makan ya, nggak bisa ditolak
Lalu pak Lukito pergi, ada apa dengan dia jadi berubah gitu, biasanya sih cuma Tanya sudah makan belum, sudah selesai belum kerjaan, sekarang meningkat dia. Segera ku bereskan semua berkas, kemudian aku ke luar kantor, sambil jalan perlahan sebuah mobil berhenti di samping ku
Bener nih Dis
Kamudian pintu mobil di buka kan oleh security kantor, aku segera masuk mobil
Dikira aku bohong, nggak lah Dis
Mau makan di mana?
Terserah bapak aja
Ya bapak lagi
Ya terserah dirimu saja
Tanpa aku sadari, karena kami asik ngobrol Lukito memarkir mobilnya di depan warung yang tak asing bagiku
Loh kita makan di sini?
Ya, emang kamu nggak suka?
Oh nggak apa-apa
Kemudian kami masuk dan memesan makanan
Kamu pesan apa Dis
Aku ikut aja
Baiklah aku yang pilih ya
Ku perhatikan saja Lukito memesan, astaga, dia pesan paket seperti kebanyakan anak muda, paket romantis merayu si dia, setelah ku perhatikan daftar menu itu, segera aku ke toilet, menghapus keringatku, apa maksudnya memesan itu, apakah hanya untuk penasaran rasa makanan itu, segera aku kembali ke meja sebelumnya.
Aku pernah lihat kamu sendiri di sini
Kok kamu tahu
Ya, karena pada saat itu aku pun sendiri
Loh?
Ya aku nggak mau menghampiri takut kamu ada janji denga seseorang, sampai kamu selesai makan dan membayar aku tahu kamu tidak menunggu seseorang
Jadi kamu?
Ya aku sendiri juga lah
Kami tertawa bersama, kami saling cerita banyak pasangan ke sini namun waktu itu hanya kami jomblo, kami saling cerita tentang keberadaan kami. Lukito sosok tegas di kantor dan terkadang keras tak kutemukan malam itu, dia punya sedikit keras sejak ditinggal pacarnya, sebenarnya tidak professional, namun seiring waktu dia belajar professional.
Makin hari kami makin akrab, namun kami bisa menempatkan diri tidak berbincang-bincang di waktu kapan saja.
Dis seandainya kamu pindah kantor di jalan Kusuma mau kan?
Suatu sore lukito bertanya seperti itu
Loh memang kerjaan ku nggak bener?
Bukan, tapi dalam satu kantor nggak boleh suami istri
Maksudmu?
Lah kita kan mau nikah, masa satu kantor, kan aturan nggak boleh?
Aku tersentak
Kita?
Jadi kamu nggak mau nikah ama aku?
Jawabannya tak perlu di ceritakan lagi. Kini aku dan Lukiito tinggal bersama, tidak ada yang teramat istimewa dengannya namun, dia paham kalau seiring proses dia mengajakku untuk bertahan dengan kondisi apa pun, Lukito memantau ku sejak aku masuk pertama di kantor. Kami belajar bahwa proses berat namun terus belajar hari lepas hari. Aku ingat sekali sewaktu kami harus berjalan kaki dan berangkot, ku kira dia tidak mau seperti orang kebanyakan, padahal tidak dia mau saja. Itu yang membuat aku milih dia. Kini kami bahagia ditambah kehadiran anak kami. Luar biasa hasil dari proses ketekunan dan kesetiaan,
Kala malam menjelang rasa sunyi kerap mendampingiku, ada bebereapa teman sudah menikah, memiliki anak. Bahkan ada juga yang menikah namun di ambang bimbang, ada yang sudah tunangan namun kandas di tengah jalan, kabar itu kudengar dari Sasa, adiknya batal menikah dengan calon adik iparnya, tak tahu mengapa. Setipa hari adalah album kenangan untuk kita belajar. Toh kita hanya ikut proses, bahan dan alat sudah ada namun kadang proses itu kita belum tekuni, sisi manusia ada saat penasaran alias tidak sabar, kapan Tuhan buat semua itu indah.
Sore ini sepulang kerja aku mampir di sebuah warung sate, sepetinya enak, kulihat berderet mobil dan motor parkir di sekitarnya, tempatnya tidak besar namun aku akui tempatnya bersih, setiap pelayan tidak membiarkan meja dan lantai untuk disentuh bahan yang membuat kotor, lalat pun enggan bermain di sana, aku masuk ke dalam dan duduk, seoran cewek remaja menghampiirku
Pesan apa mbak?
Menyodorkan selembar kertas berisi menu yang disajikan di warung tersebut, aku mulai senyum, hal yang membuat aku tersenyum, karena di sana ada menu sate menanti kekasih, sesaat aku mengamati di sana terdapat paket senyum ceria dan yang lain, aku sempat bingung akan pesan apa, karena ku kira semua enak. Aku dapat info dari Rista temen kantor pernah makan di sana. Kemudian setelah aku beri tanda pesananku, tidak lama kemudian datanglah menu makan yang ku pesan.
Aku menikamti pesanan itu, namun aku baru memperhatikan di bawah piring pesananku, ada tulisan
Katakan ya pada setiap orang, betapa hari ini sungguh bersejarah
Aku hanya tersenyum, ada juga warung yang memperhatikan seperti itu, Rista tidak cerita aka nada hal-hal lucu seperti itu, bahkan di sebelah meja ku ada sepasang kekasih memesan paket mesra, dengan kalimat yang romantis pula, itu kuketahui karena yang cewek sempat membacakan sedikit keras pada si cowok
Wah lucu dan sungguh memukau tempat itu
Selesai menikmati aku ke kasir, dengan iseng aku bertanya
mbak, mengapa setiap piring ada tulisan, kok sempat ya?
Mbak kasir tersenyum, kemudian mengatakan
Si pemilik warung makan adalah seorang sastrawan yang cinta memasak
Aku terperangah, betapa hebat memiliki ide seperti itu
Sepulang dari warung itu aku mulai cerita kepada sepupuku dan tanteku di rumah, oh ya aku tinggal dengan tante dan sepupuku, orang tua tinggal di Pati.
Sin di warung sate di jalan Cokro asik loh
Yang sebelah toko buku Lancar kan?
Kok kamu tahu?
Lah yang punya kan papa nya tmenku
Oh ya Sin?
Siapa toh Dis?
Tanya tante
Warung sate di jalan cokro
Oh, itu ya, kan warung itu dapat penghargaan dari Gubernur loh
Awalnya warung itu di deket hutan hiburan deket Senopati, namun tidak begitu laris, maka pindah lah ke jalan cokro
Kamu makan di sana Dis?
Ya
Sama siapa mbak, sama pacar ya?
Nggak sendiri
Ya mbak jangan sendiri, tuh warung suka dengan orang berpasangan apalagi yang rame
Kok gitu, jadi kalau sendiri kenapa?
Wah nggak tok cer. Karena dipercaya warung itu membuat langgeng hubungan
Sindi pergi ke kamarnya dengan tersenyum
Apakah aku akan mengajak pasangan orang lain, Cuma untuk makan di sana, Sindi paling nggak tahu kalau aku jomblo
Siang ini pekerjaan ku lumayan menumpuk, bahakan waktu istirahat pun tak sempat untuk ke luar makan, aku segera makan saja makanan dekatku, tak ku perhatikan siapa yang membeli.
Fan aku bayar berapa nih makanan yang ku makan tadi
Aku menanyajan harga makanan yang sudah ku makan di meja ku tadi pada Office Boy ku
Bayar makan mbak,yang mana?
Dia bingung
Lah tadi di meja ku ada makanan kan
Ya mbak, tapi itu gratis
Gratis? Kamu ulang tahun?
Ya mbak bukan saya mbak, tapi pak Lukito
Pak Lukito?
Ya mbak, aku ke belakang dulu mbak
Segera ku angkat gagang telepon
Halo pak Lukito, selamat ulang tahun ya, aku nggak ngerti
Nggak apa-apa Bu Yudis
Tapi panggil Yudis aja lah ya, kamu panggil aku Lukito aja, toh kita belum nikah kan
Tawa pak Lukito membuat perubahan saja, biasanya dia paling rese soal nama, namun entah siang ini dia cair, akan kah dia berubah, ku tepis pikiran macam-macamku.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, mulai kubereskan semua berkas-berkasku, karena sebentar lagi jam pulang kantor. Belum aku selesai memberekan, pak Lukito masuk ruanganku
Dis ntar pulang kantor nggak ada acara kan?
Emang kenapa pak?
Pak lagi, panggil Lukito, ntar aku ajak makan ya, nggak bisa ditolak
Lalu pak Lukito pergi, ada apa dengan dia jadi berubah gitu, biasanya sih cuma Tanya sudah makan belum, sudah selesai belum kerjaan, sekarang meningkat dia. Segera ku bereskan semua berkas, kemudian aku ke luar kantor, sambil jalan perlahan sebuah mobil berhenti di samping ku
Bener nih Dis
Kamudian pintu mobil di buka kan oleh security kantor, aku segera masuk mobil
Dikira aku bohong, nggak lah Dis
Mau makan di mana?
Terserah bapak aja
Ya bapak lagi
Ya terserah dirimu saja
Tanpa aku sadari, karena kami asik ngobrol Lukito memarkir mobilnya di depan warung yang tak asing bagiku
Loh kita makan di sini?
Ya, emang kamu nggak suka?
Oh nggak apa-apa
Kemudian kami masuk dan memesan makanan
Kamu pesan apa Dis
Aku ikut aja
Baiklah aku yang pilih ya
Ku perhatikan saja Lukito memesan, astaga, dia pesan paket seperti kebanyakan anak muda, paket romantis merayu si dia, setelah ku perhatikan daftar menu itu, segera aku ke toilet, menghapus keringatku, apa maksudnya memesan itu, apakah hanya untuk penasaran rasa makanan itu, segera aku kembali ke meja sebelumnya.
Aku pernah lihat kamu sendiri di sini
Kok kamu tahu
Ya, karena pada saat itu aku pun sendiri
Loh?
Ya aku nggak mau menghampiri takut kamu ada janji denga seseorang, sampai kamu selesai makan dan membayar aku tahu kamu tidak menunggu seseorang
Jadi kamu?
Ya aku sendiri juga lah
Kami tertawa bersama, kami saling cerita banyak pasangan ke sini namun waktu itu hanya kami jomblo, kami saling cerita tentang keberadaan kami. Lukito sosok tegas di kantor dan terkadang keras tak kutemukan malam itu, dia punya sedikit keras sejak ditinggal pacarnya, sebenarnya tidak professional, namun seiring waktu dia belajar professional.
Makin hari kami makin akrab, namun kami bisa menempatkan diri tidak berbincang-bincang di waktu kapan saja.
Dis seandainya kamu pindah kantor di jalan Kusuma mau kan?
Suatu sore lukito bertanya seperti itu
Loh memang kerjaan ku nggak bener?
Bukan, tapi dalam satu kantor nggak boleh suami istri
Maksudmu?
Lah kita kan mau nikah, masa satu kantor, kan aturan nggak boleh?
Aku tersentak
Kita?
Jadi kamu nggak mau nikah ama aku?
Jawabannya tak perlu di ceritakan lagi. Kini aku dan Lukiito tinggal bersama, tidak ada yang teramat istimewa dengannya namun, dia paham kalau seiring proses dia mengajakku untuk bertahan dengan kondisi apa pun, Lukito memantau ku sejak aku masuk pertama di kantor. Kami belajar bahwa proses berat namun terus belajar hari lepas hari. Aku ingat sekali sewaktu kami harus berjalan kaki dan berangkot, ku kira dia tidak mau seperti orang kebanyakan, padahal tidak dia mau saja. Itu yang membuat aku milih dia. Kini kami bahagia ditambah kehadiran anak kami. Luar biasa hasil dari proses ketekunan dan kesetiaan,