cerpen
Kami Salah Memutuskan
Debur ombak tak mampu berkata apa pun, hening kami berdua masih bisu di pinggir pantai. Kami suka sekali pantai sehingga ketika kami ingin hening kami berlari ke pantai. Seakan pantai dapat menjawab semua kegalauan hati, bahkan penatnya jiwa yang tak ditemukan di dasar hati. Ku tatap ombak tak mau diam, terus beriak.
Kamu suka kan suasana ini Han
Ya, kamu juga kan?
Tentu
Aku dan Hani sudah berteman selama 7 tahun lebih, waktu itu kami sama-sama berminat basket di SMP kami, kecocokan hobi yang membuat kami bersama. Orang tua kami pun akrab dan semakin seperti saudara sendiri.
Sering aku juga menginap di tempat Hani, demikian sebaliknya. Semua asessoris yang kami pakai hampir sama, kami kompak, bahkan seperti kembar. Aku beda dengan Hani, Hani benar-benar cewek, gaya berjalannya, cara berdandan, memilih pakaian, sedangkan aku seperti laki-laki, aku malas memilih pakaian seperti kebanyakan cewek, pakai rok lah, ,memakai bando lah, aku malas mengenakannya. Padahal mamaku membelikan perlengkapan cewek di rumah, maklum hanya aku anak mama yang perempuan, tiga saudara ku laki-laki. Mereka lebih memilih Australia sebagai tempat tinggal mereka. Saudara-saudara ku ikut papa, aku ikut mama, sudah tahu kan arah pembicaraanku, benar.. mama sudah bercerai dua tahun lalu. Papa tinggal di Australia bersama saudara-saudaraku, papa menikah lagi dengan wanita dari Australia, mama tiriku sudah memeiliki 2 anak, waduh papa banyak anak, tapi pasti banyak rejeki. Jika liburan Natal saja aku ke Australia, karena papa merayakn Natal, mama tidak.
Han, sudah sore pulang yuk
Ayuk
Kami berdua mengendarai motor, aku paling berani menegndarai motor sehingga pasti Hani di bonceng saja, setelah di atas motor, seperti biasa Hani memuluk tubuhku dengan erat. Aku tidak tahu, apakah hani meraskahan kehangatan jika bersamaku. Aku tak berani bertanya, aku takut dia marah.
Hari ini ada latihan basket di kampus, seperti biasa aku dan Hani latihan, setelah latihan aku diajak Hani untuk menginap di rumahnya, aku tidak menolaknya. Setelah mandi seperti aku biasa memakai baju tidak di kamar mandi, pasti di kamar tidur, Hani sedang bermain game, tanpa kusadari Hani tidak lagi memperhatikan komputer, namun dia memperhatikan tubuhku, aku mulai merasa ada yang mengamati.
Ada apa Han?
Oh nggak ada apa-apa
Hani terkesan terkejut, dan kembali mengamati komputer, aku hanya menggunakan teng top, dan celana pendek, ya ku pikir di rumah Hani penghuninya cewek jadi nggak masalah bagiku.
Malam harinya sebelum kami tidur seperti biasa kami saling bercerita dan makan kacang, sesekali Hani memeluk tubuhku, ntah mengapa dia seperti itu, namun aku pun menikmatinya, tak masalah bagiku.
Akhirnya kami lelah dan tidur, namun aku merasa ada kejanggalan. Hani tidak tidur namun mengamati tubuh dari rambut hingga kaki, kemudian aku terejut ketika tangan Hani mulai bergerak ke arah wajahku , pipi, bibir, dadaku, dan ah.. mengapa hingga kemaluanku. Aku tersentak terkejut, aku ingin berteriak, namun nanti terdengar mama nya Hani. Kemudian Hani mencium bibirku, namun aku meraskan lain bahkan lebih indah dibanding first kiss ku, waktu aku dicium Edo, teman SMA ku, waktu itu, kami benar-benar rindu, dan suasana malam itu gelap dan tidak ada orang. Edo kemudian menarik wajahku, aku menikmatinya, bahkan hampir saja kami akan melakukan hubungan badan, namun aku segera sadar, aku tidak mau putus sekolah hanya karena hamil.
Aku mulai berpikir, rupanya sore tadi dia mengamati wajah dan tubuhku, mungkinkah dia kagum pada tubuhku, aku tepiskan pikiran itu. Tidak logis seorang Hani suka padaku.
Suatu sore Hani bermain tempatku, namun aku sedang ada di kamar mandi, namun Hani segera masuk kamar mandi kebetulan kamar mandi tidak ku kunci.
Aku juga mau gabung mandi, baru pulang kampus tadi
Kemudian Hani membuka bajunya, aku terbengong ada apa dengan Hani, Namun aku segera mandi, kemudian Hani memelukku, dan wajah kami beradu
Aku suka kamu Nia
Kemudian Hani menciumku, sangat dalam dan lama kami bercium, dan kami berdua menikmati ciuman itu. Anehnya aku tak menolaknya dan terus saja Hani mencium leher tubuhku, dan aku pun sebaliknya. Tanpa sadar kami telah lama di kamar mandi, kami segera menyudahi karena, mamaku memanggil-manggil kami untuk makan malam.
Tetapi ntah mengapa setelah kejadian itu aku serasa melayang-layang dan selalu rindu dengan Hani, jika malam Minggu tak kami lewati bedua, bahakan kami sudah sering menikmati layaknya hubungan badan orang yang sudah menikah. Sesekali Hani memuja tubuhku dan sebaliknya aku pun suka dengan tubuhnya.
Hampir saja kami pernah tertangkap basah kegiatan kami 3 bulan terakhir ini, waktu itu mama nya Hani tanpa mengetuk pintu kamar masuk, padahal kami masih mau berciuman. Untunglah Hani segera berkilah, membereskan bajuku. Kemudian kami harus lebih berhati-hati. Apalagi di kampus, jika Hani sudah rindu padaku, dia bingung melampiaskannya, terkadang kami pergi ke toilet kami bermesaraan, bercumbu, bahkan tidak jarang kami bolos kuliah hanya untuk menikmati hubungan kami berdua. Jika tidak di toilet ya kami meminjam kamar kos teman kuliah.
Ntah mengapa aku tidak senang lagi melihat sosok pria, itu ungkapan Hani pada ku suatu malam
Lelaki itu semua pendusata, hanya aku orang yang menyayangi nya itu katanya, bahakan kami berjanji tidak ingin berpisah selamnya.
Suatu kali Jeri teman kuliah ku datang ke rumah kemudian kami ngobrol akrab, tiba-tiba Hani datang dengan wajah marah, dia masuk ke kamarku dan membanting pintu. Jeri heran, kemudian Jeri kujelaskan saja, aku takut Jeri mengetahui hubunganku dengan Hani. Sebelum berpisah Jeri sempat-sempatnya mencium pipiku, Hani pun melihatnya, alhasil dia marah besar, Hani sangat cemburu dan tidak menerima. Aku mulai menjelaskan dan ujung-ujungya belaian dan tidur bersama kami lakukan.
Pernah suatu ketika kutunjuk gambar-gambar pria di majalah, aku hanya menilai kecocokannya berpakain, namun Hani marah luar biasa. Dia takut aku meninggalkannya. Kemudian kutegaskan dan kuyakinkan. Sebenarnya ada beberapa teman kampus sempat nyeletuk, kami Lesbi, namun kami cuek saja, kami tidak merasa itu.
Ketertarikan dan keterikatan kami sangat kuat, kami saling mencari, barang lima menit pun kami tidak mau berpisah. Suatu ketika kegiatan kampus ,membagi kelompok dan kami berdua terpisah, tak ayal dosen kami paksa untuk menemukan kami satu kelompok, kami tidak terpisah apa pun caranya.
Suatu sore aku meghubungi Hani, namun tidak dapat. Aku datang ke rumahnya namun tetap saja tak kujumpai Hani. Aku mulai resah aku mulai ridu padanya. Bahkan seminggu sudah kami tak berjumpa.
Apakah dia pindah ke Australia? Ku hubungi pihak kampus, Hani telah pindah ke Surabaya namaun tidak meninggalkan alamat.
Hingga suatu hari datang sepucuk surat
Dear Nia
Sori aku sudah di Surabaya, aku tidak dapat mengabari mu, semua yang kita lakukan ku tuliskan dalam sebuah Diary. Suatu hari mamaku membaca. Tanpa bicara banyak aku diajak dengan paksa ke Surabaya. Surat ini pun aku titip pembantu agar tidak ketahuan mama. Sungguh aku tersiksa tanpamu..
Love
Hani
Aku hanya dapat menangis dan meraung, Hani tidak memberi alamtnya dimana keberadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar