Minggu, 01 Maret 2009

hebat bukan

SETIAP HARI ADALAH ALBUM KENANGAN
Kala malam menjelang rasa sunyi kerap mendampingiku, ada bebereapa teman sudah menikah, memiliki anak. Bahkan ada juga yang menikah namun di ambang bimbang, ada yang sudah tunangan namun kandas di tengah jalan, kabar itu kudengar dari Sasa, adiknya batal menikah dengan calon adik iparnya, tak tahu mengapa. Setipa hari adalah album kenangan untuk kita belajar. Toh kita hanya ikut proses, bahan dan alat sudah ada namun kadang proses itu kita belum tekuni, sisi manusia ada saat penasaran alias tidak sabar, kapan Tuhan buat semua itu indah.
Sore ini sepulang kerja aku mampir di sebuah warung sate, sepetinya enak, kulihat berderet mobil dan motor parkir di sekitarnya, tempatnya tidak besar namun aku akui tempatnya bersih, setiap pelayan tidak membiarkan meja dan lantai untuk disentuh bahan yang membuat kotor, lalat pun enggan bermain di sana, aku masuk ke dalam dan duduk, seoran cewek remaja menghampiirku
Pesan apa mbak?
Menyodorkan selembar kertas berisi menu yang disajikan di warung tersebut, aku mulai senyum, hal yang membuat aku tersenyum, karena di sana ada menu sate menanti kekasih, sesaat aku mengamati di sana terdapat paket senyum ceria dan yang lain, aku sempat bingung akan pesan apa, karena ku kira semua enak. Aku dapat info dari Rista temen kantor pernah makan di sana. Kemudian setelah aku beri tanda pesananku, tidak lama kemudian datanglah menu makan yang ku pesan.
Aku menikamti pesanan itu, namun aku baru memperhatikan di bawah piring pesananku, ada tulisan
Katakan ya pada setiap orang, betapa hari ini sungguh bersejarah
Aku hanya tersenyum, ada juga warung yang memperhatikan seperti itu, Rista tidak cerita aka nada hal-hal lucu seperti itu, bahkan di sebelah meja ku ada sepasang kekasih memesan paket mesra, dengan kalimat yang romantis pula, itu kuketahui karena yang cewek sempat membacakan sedikit keras pada si cowok
Wah lucu dan sungguh memukau tempat itu
Selesai menikmati aku ke kasir, dengan iseng aku bertanya
mbak, mengapa setiap piring ada tulisan, kok sempat ya?
Mbak kasir tersenyum, kemudian mengatakan
Si pemilik warung makan adalah seorang sastrawan yang cinta memasak
Aku terperangah, betapa hebat memiliki ide seperti itu
Sepulang dari warung itu aku mulai cerita kepada sepupuku dan tanteku di rumah, oh ya aku tinggal dengan tante dan sepupuku, orang tua tinggal di Pati.
Sin di warung sate di jalan Cokro asik loh
Yang sebelah toko buku Lancar kan?
Kok kamu tahu?
Lah yang punya kan papa nya tmenku
Oh ya Sin?
Siapa toh Dis?
Tanya tante
Warung sate di jalan cokro
Oh, itu ya, kan warung itu dapat penghargaan dari Gubernur loh
Awalnya warung itu di deket hutan hiburan deket Senopati, namun tidak begitu laris, maka pindah lah ke jalan cokro
Kamu makan di sana Dis?
Ya
Sama siapa mbak, sama pacar ya?
Nggak sendiri
Ya mbak jangan sendiri, tuh warung suka dengan orang berpasangan apalagi yang rame
Kok gitu, jadi kalau sendiri kenapa?
Wah nggak tok cer. Karena dipercaya warung itu membuat langgeng hubungan
Sindi pergi ke kamarnya dengan tersenyum
Apakah aku akan mengajak pasangan orang lain, Cuma untuk makan di sana, Sindi paling nggak tahu kalau aku jomblo
Siang ini pekerjaan ku lumayan menumpuk, bahakan waktu istirahat pun tak sempat untuk ke luar makan, aku segera makan saja makanan dekatku, tak ku perhatikan siapa yang membeli.
Fan aku bayar berapa nih makanan yang ku makan tadi
Aku menanyajan harga makanan yang sudah ku makan di meja ku tadi pada Office Boy ku
Bayar makan mbak,yang mana?
Dia bingung
Lah tadi di meja ku ada makanan kan
Ya mbak, tapi itu gratis
Gratis? Kamu ulang tahun?
Ya mbak bukan saya mbak, tapi pak Lukito
Pak Lukito?
Ya mbak, aku ke belakang dulu mbak
Segera ku angkat gagang telepon
Halo pak Lukito, selamat ulang tahun ya, aku nggak ngerti
Nggak apa-apa Bu Yudis
Tapi panggil Yudis aja lah ya, kamu panggil aku Lukito aja, toh kita belum nikah kan
Tawa pak Lukito membuat perubahan saja, biasanya dia paling rese soal nama, namun entah siang ini dia cair, akan kah dia berubah, ku tepis pikiran macam-macamku.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, mulai kubereskan semua berkas-berkasku, karena sebentar lagi jam pulang kantor. Belum aku selesai memberekan, pak Lukito masuk ruanganku
Dis ntar pulang kantor nggak ada acara kan?
Emang kenapa pak?
Pak lagi, panggil Lukito, ntar aku ajak makan ya, nggak bisa ditolak
Lalu pak Lukito pergi, ada apa dengan dia jadi berubah gitu, biasanya sih cuma Tanya sudah makan belum, sudah selesai belum kerjaan, sekarang meningkat dia. Segera ku bereskan semua berkas, kemudian aku ke luar kantor, sambil jalan perlahan sebuah mobil berhenti di samping ku
Bener nih Dis
Kamudian pintu mobil di buka kan oleh security kantor, aku segera masuk mobil
Dikira aku bohong, nggak lah Dis
Mau makan di mana?
Terserah bapak aja
Ya bapak lagi
Ya terserah dirimu saja
Tanpa aku sadari, karena kami asik ngobrol Lukito memarkir mobilnya di depan warung yang tak asing bagiku
Loh kita makan di sini?
Ya, emang kamu nggak suka?
Oh nggak apa-apa
Kemudian kami masuk dan memesan makanan
Kamu pesan apa Dis
Aku ikut aja
Baiklah aku yang pilih ya
Ku perhatikan saja Lukito memesan, astaga, dia pesan paket seperti kebanyakan anak muda, paket romantis merayu si dia, setelah ku perhatikan daftar menu itu, segera aku ke toilet, menghapus keringatku, apa maksudnya memesan itu, apakah hanya untuk penasaran rasa makanan itu, segera aku kembali ke meja sebelumnya.
Aku pernah lihat kamu sendiri di sini
Kok kamu tahu
Ya, karena pada saat itu aku pun sendiri
Loh?
Ya aku nggak mau menghampiri takut kamu ada janji denga seseorang, sampai kamu selesai makan dan membayar aku tahu kamu tidak menunggu seseorang
Jadi kamu?
Ya aku sendiri juga lah
Kami tertawa bersama, kami saling cerita banyak pasangan ke sini namun waktu itu hanya kami jomblo, kami saling cerita tentang keberadaan kami. Lukito sosok tegas di kantor dan terkadang keras tak kutemukan malam itu, dia punya sedikit keras sejak ditinggal pacarnya, sebenarnya tidak professional, namun seiring waktu dia belajar professional.
Makin hari kami makin akrab, namun kami bisa menempatkan diri tidak berbincang-bincang di waktu kapan saja.
Dis seandainya kamu pindah kantor di jalan Kusuma mau kan?
Suatu sore lukito bertanya seperti itu
Loh memang kerjaan ku nggak bener?
Bukan, tapi dalam satu kantor nggak boleh suami istri
Maksudmu?
Lah kita kan mau nikah, masa satu kantor, kan aturan nggak boleh?
Aku tersentak
Kita?
Jadi kamu nggak mau nikah ama aku?
Jawabannya tak perlu di ceritakan lagi. Kini aku dan Lukiito tinggal bersama, tidak ada yang teramat istimewa dengannya namun, dia paham kalau seiring proses dia mengajakku untuk bertahan dengan kondisi apa pun, Lukito memantau ku sejak aku masuk pertama di kantor. Kami belajar bahwa proses berat namun terus belajar hari lepas hari. Aku ingat sekali sewaktu kami harus berjalan kaki dan berangkot, ku kira dia tidak mau seperti orang kebanyakan, padahal tidak dia mau saja. Itu yang membuat aku milih dia. Kini kami bahagia ditambah kehadiran anak kami. Luar biasa hasil dari proses ketekunan dan kesetiaan,

2 komentar:

  1. memang apa yang tidak pernah kita pikirkan , kadang itu yang Tuhan sediakan bagi kita. slm knl. GBU

    BalasHapus
  2. hebat kok bu...wkwkkw

    BalasHapus