Mari Bergandengan Tangan
Kini aku berjalan di tengah pekatnya masalah
Meski tawa tak ada lagi
Semua geram
Peluh yang ada tak ber bamakna lagi
Ada anak menikam orang tuanya
Itu kubaca dalam surat kabar
Pemerintah yang tak jujur itu kulihat di telivisi
Dimana kah kasih dan kebenaran itu
Di ujung-ujung jalan dan di pinggir kota kata kasih dicibirkan
Diabaikan
Bagaimana dengan kita
Akan kah kita demikian
Mari bergandengan tangan menghadapi hari esok yang cerah
Karya: Martha
Kado Natal Tahun Ini
Lihat ditumpukan itu ,kado Natal untukmu
Dan untuk ku
Serangkai pita hitam dan bungkus kado berwarna duka
Bertuliskan selamat berjuang di hari Natal
Betapa aku merenung di sini
Menatap duka bukan suka
Ku tahu Natal adalah bahagia
Ku tahu Natal ada tawa
Tapi tak kutemukan
Bukalah bingkisan itu
Kau akan lihat seonggok duka dengan sampul tangis
Ucapan selamat berjuang
Hari-hari ini kesedihan mendalam
Tetapi jangan takut
Itu pesan Nya
Kita akan menemukan kesukaan yang ceria
Walau ada air mata dan jeritan ketakutan
Yakinlah dan mintalah maka kita akan melihat keajaibannya
Karya: Martha
Bayi Menangis
Kini tak ada lagi bayi mungil Yesus menangis dalam palungan
Tak ada gembala menemani
Semua pergi
Hilang membawa duka masing-masing
Mereka merana tak ada makanan
Mereka menangis rumah mereka terbakar
Mereka menangis karena haraga-harga melonjak naik
Di mana bayi itu?
Apakah tak ada tangisnya lagi ku dengar
Semua sibuk dan sibuk
Apakah Dia tidak ada
Pergi meninggalkan kita
Ayo lihat di sana ada bintang timur
Hapus air matamu
Dia hadir membawa senyum kebahagiaan
Dia lahir untuk duka ku dan kamu
Karya: Martha
Kepak Malaikat Pengharapan
Kembangkan sayapmu
Melangkah maju menghadap duka
Berlari membawa mas, kemenyan, dan mur
Sekarang hati kita yang dipersembahkan
Untuk kebesaran namaNya
Meski sederhana hidupnya
Namun cinta kasih menjadi teladan
Untuk apa baju mahal, sepatu baru, dan kue enak
Yang utama adalah hati kita
Agar kita bersyukur dan terus melangkah maju
Menghadapi hidup
Bersukacitalah hai kamu
Ada kabar baik dari surga
Mari kita rayakan
Dan lihatlah ada pengharapan di tanganNya
Karya: Martha
Lahir Sang Mesias
Meski di palungan dan kandang domba dia terlahir di sana
Cuaca yang dingin tak menjadi penghalang
Dia lahir bagi semua umatNya
Dia lahir dalam kesederhanaan
KelahiranNya menyelamatkan dunia ini
Dunia yang penuh dosa
Mari semua sambutlah Dia
Hilangkan duka, hapus air matamu
Dia datang untuk mu dan untuk ku
Karya: Martha
Sambutlah Dia
Datang dan sembahlah Dia
Dia yang lahir dalam kesederhanaan
Dia lahir untuk manusia
Menyelamatkan hidup kita
Meski Dia Raja namun kesederhanaanNya membuat teladan bagi kita
Ya Yesus yang lahir kami menyambut kelahiranMu
Karya: Martha
Dia Lahir bagi Kita
Sambutlah Dia Sang Juruselamat manusia
Hati gembira dan sukacita
Keceriaan dan kebahagian tercermin pada kita
Marilah semua datang menyembah Dia
Dia lahir dalam kesederhanaan
Dia lahir bagi kita umat manusia
Lagu pujian mengalun menyambut hadirnya Sang Mesias
Bersukacitalah senantiasa
Karya: Martha
Natal
Kini lahir bagimu seorang bayi mungil namaNya Yesus
Dia lahir bagi kita semua
Sambutlah dia beri hadiah terindah bagi Dia
Mari semua bersukacita dan berbahagia
Tak ada penderitaan dan kesedihan
Natal membuat sukacita bagi umat manusia
Karya: Martha
Mari Bergandengan Tangan
Kini aku berjalan di tengah pekatnya masalah
Meski tawa tak ada lagi
Semua geram
Peluh yang ada tak ber bamakna lagi
Ada anak menikam orang tuanya
Itu kubaca dalam surat kabar
Pemerintah yang tak jujur itu kulihat di telivisi
Dimana kah kasih dan kebenaran itu
Di ujung-ujung jalan dan di pinggir kota kata kasih dicibirkan
Diabaikan
Bagaimana dengan kita
Akan kah kita demikian
Mari bergandengan tangan menghadapi hari esok yang cerah
Karya: Martha
Kado Natal Tahun Ini
Lihat ditumpukan itu ,kado Natal untukmu
Dan untuk ku
Serangkai pita hitam dan bungkus kado berwarna duka
Bertuliskan selamat berjuang di hari Natal
Betapa aku merenung di sini
Menatap duka bukan suka
Ku tahu Natal adalah bahagia
Ku tahu Natal ada tawa
Tapi tak kutemukan
Bukalah bingkisan itu
Kau akan lihat seonggok duka dengan sampul tangis
Ucapan selamat berjuang
Hari-hari ini kesedihan mendalam
Tetapi jangan takut
Itu pesan Nya
Kita akan menemukan kesukaan yang ceria
Walau ada air mata dan jeritan ketakutan
Yakinlah dan mintalah maka kita akan melihat keajaibannya
Karya: Martha
Bayi Menangis
Kini tak ada lagi bayi mungil Yesus menangis dalam palungan
Tak ada gembala menemani
Semua pergi
Hilang membawa duka masing-masing
Mereka merana tak ada makanan
Mereka menangis rumah mereka terbakar
Mereka menangis karena haraga-harga melonjak naik
Di mana bayi itu?
Apakah tak ada tangisnya lagi ku dengar
Semua sibuk dan sibuk
Apakah Dia tidak ada
Pergi meninggalkan kita
Ayo lihat di sana ada bintang timur
Hapus air matamu
Dia hadir membawa senyum kebahagiaan
Dia lahir untuk duka ku dan kamu
Karya: Martha
Kepak Malaikat Pengharapan
Kembangkan sayapmu
Melangkah maju menghadap duka
Berlari membawa mas, kemenyan, dan mur
Sekarang hati kita yang dipersembahkan
Untuk kebesaran namaNya
Meski sederhana hidupnya
Namun cinta kasih menjadi teladan
Untuk apa baju mahal, sepatu baru, dan kue enak
Yang utama adalah hati kita
Agar kita bersyukur dan terus melangkah maju
Menghadapi hidup
Bersukacitalah hai kamu
Ada kabar baik dari surga
Mari kita rayakan
Dan lihatlah ada pengharapan di tanganNya
Karya: Martha
Lahir Sang Mesias
Meski di palungan dan kandang domba dia terlahir di sana
Cuaca yang dingin tak menjadi penghalang
Dia lahir bagi semua umatNya
Dia lahir dalam kesederhanaan
KelahiranNya menyelamatkan dunia ini
Dunia yang penuh dosa
Mari semua sambutlah Dia
Hilangkan duka, hapus air matamu
Dia datang untuk mu dan untuk ku
Karya: Martha
Sambutlah Dia
Datang dan sembahlah Dia
Dia yang lahir dalam kesederhanaan
Dia lahir untuk manusia
Menyelamatkan hidup kita
Meski Dia Raja namun kesederhanaanNya membuat teladan bagi kita
Ya Yesus yang lahir kami menyambut kelahiranMu
Karya: Martha
Dia Lahir bagi Kita
Sambutlah Dia Sang Juruselamat manusia
Hati gembira dan sukacita
Keceriaan dan kebahagian tercermin pada kita
Marilah semua datang menyembah Dia
Dia lahir dalam kesederhanaan
Dia lahir bagi kita umat manusia
Lagu pujian mengalun menyambut hadirnya Sang Mesias
Bersukacitalah senantiasa
Karya: Martha
Natal
Kini lahir bagimu seorang bayi mungil namaNya Yesus
Dia lahir bagi kita semua
Sambutlah dia beri hadiah terindah bagi Dia
Mari semua bersukacita dan berbahagia
Tak ada penderitaan dan kesedihan
Natal membuat sukacita bagi umat manusia
Karya: Martha
Mari Bergandengan Tangan
Kini aku berjalan di tengah pekatnya masalah
Meski tawa tak ada lagi
Semua geram
Peluh yang ada tak ber bamakna lagi
Ada anak menikam orang tuanya
Itu kubaca dalam surat kabar
Pemerintah yang tak jujur itu kulihat di telivisi
Dimana kah kasih dan kebenaran itu
Di ujung-ujung jalan dan di pinggir kota kata kasih dicibirkan
Diabaikan
Bagaimana dengan kita
Akan kah kita demikian
Mari bergandengan tangan menghadapi hari esok yang cerah
Karya: Martha
Kado Natal Tahun Ini
Lihat ditumpukan itu ,kado Natal untukmu
Dan untuk ku
Serangkai pita hitam dan bungkus kado berwarna duka
Bertuliskan selamat berjuang di hari Natal
Betapa aku merenung di sini
Menatap duka bukan suka
Ku tahu Natal adalah bahagia
Ku tahu Natal ada tawa
Tapi tak kutemukan
Bukalah bingkisan itu
Kau akan lihat seonggok duka dengan sampul tangis
Ucapan selamat berjuang
Hari-hari ini kesedihan mendalam
Tetapi jangan takut
Itu pesan Nya
Kita akan menemukan kesukaan yang ceria
Walau ada air mata dan jeritan ketakutan
Yakinlah dan mintalah maka kita akan melihat keajaibannya
Karya: Bayi Menangis
Kini tak ada lagi bayi mungil Yesus menangis dalam palungan
Tak ada gembala menemani
Semua pergi
Hilang membawa duka masing-masing
Mereka merana tak ada makanan
Mereka menangis rumah mereka terbakar
Mereka menangis karena haraga-harga melonjak naik
Di mana bayi itu?
Apakah tak ada tangisnya lagi ku dengar
Semua sibuk dan sibuk
Apakah Dia tidak ada
Pergi meninggalkan kita
Ayo lihat di sana ada bintang timur
Hapus air matamu
Dia hadir membawa senyum kebahagiaan
Dia lahir untuk duka ku dan kamu
Karya: Martha
Kepak Malaikat Pengharapan
Kembangkan sayapmu
Melangkah maju menghadap duka
Berlari membawa mas, kemenyan, dan mur
Sekarang hati kita yang dipersembahkan
Untuk kebesaran namaNya
Meski sederhana hidupnya
Namun cinta kasih menjadi teladan
Untuk apa baju mahal, sepatu baru, dan kue enak
Yang utama adalah hati kita
Agar kita bersyukur dan terus melangkah maju
Menghadapi hidup
Bersukacitalah hai kamu
Ada kabar baik dari surga
Mari kita rayakan
Dan lihatlah ada pengharapan di tanganNya
Karya: Martha
Lahir Sang Mesias
Meski di palungan dan kandang domba dia terlahir di sana
Cuaca yang dingin tak menjadi penghalang
Dia lahir bagi semua umatNya
Dia lahir dalam kesederhanaan
KelahiranNya menyelamatkan dunia ini
Dunia yang penuh dosa
Mari semua sambutlah Dia
Hilangkan duka, hapus air matamu
Dia datang untuk mu dan untuk ku
Karya: Martha
Sambutlah Dia
Datang dan sembahlah Dia
Dia yang lahir dalam kesederhanaan
Dia lahir untuk manusia
Menyelamatkan hidup kita
Meski Dia Raja namun kesederhanaanNya membuat teladan bagi kita
Ya Yesus yang lahir kami menyambut kelahiranMu
Karya: Martha
Dia Lahir bagi Kita
Sambutlah Dia Sang Juruselamat manusia
Hati gembira dan sukacita
Keceriaan dan kebahagian tercermin pada kita
Marilah semua datang menyembah Dia
Dia lahir dalam kesederhanaan
Dia lahir bagi kita umat manusia
Lagu pujian mengalun menyambut hadirnya Sang Mesias
Bersukacitalah senantiasa
Karya: Martha
Natal
Kini lahir bagimu seorang bayi mungil namaNya Yesus
Dia lahir bagi kita semua
Sambutlah dia beri hadiah terindah bagi Dia
Mari semua bersukacita dan berbahagia
Tak ada penderitaan dan kesedihan
Natal membuat sukacita bagi umat manusia
Karya: MarthMartha
Senin, 15 Desember 2008
ini dia
Sari aku Mau jadi Temanmu
Siang itu kukayuh sepeda dengan kencang, ibu memintaku untuk mengambil Loyang kue. Mulai besok ibu akan kue. Ingin kuteteskan air mata, tetapi aku terus berjuang ini demi aku dan Ikbal adikku. Setelah ayah meninggal kami merasa kehilangan, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak bapak setiap hari menjual sayuran keliling kini tiada karena sakit asmanya. Ibu kini yang harus mengambil alih tugas bapak. Belum lagi Ikbal tahun depan dia sudah SMP. Aku ntah masih akan sekolah atau tidak. Jika ibu tidak ada uang, tak mungkin aku sekolah.
Terus mengalir peluh dikeningku, aku terus mengayuh sepedaku. Sesampai di rumah bu Menur teman ibu, aku segera meminjam loyang kue. Bu Menur teman ibu waktu sekolah SD dulu. Bu Menur rumahnya besar, mobilnya dua, motornya tiga, orangnya baik sekali, sering kali aku diajak ke sana hanya untuk makan siang atau malam. Anaknya mbak Luna cantik baik hatinya, setiap seminggu sekali diajaknya aku ke salon mbak Luna facial atau sekedar creambath, wah aku lihat dia sperti putri di dunia dongeng.
Aku tak henti-henti kagum pada keluarga bu Menur, seandainya aku terlahir dari keluarga bu menur. Kutepiskan bayangan itu, sesaat kemudian aku sudah berada di dapur rumahku. Tak ku llihat ibu di sana. Aku duduk istirahat, karena bersepeda tadi terburu-buru. Hampir 20 menit ibu tak muncul di dapur. Segera aku mencari ibu di ruang depan. Ku panggil ibu tapi tak ada suara yang menyahut, ketika kulihat ke kamar, kulihat hanya Setyo adikku yang sedang tidur pulas. Kemana ibu hatiku bertanya. Samar ku dengar ada suara yang agak keras di teras rumah, suara siapakah itu, kemudian dengan penasaran aku berjalan ke teras rumah. Ku lihat ibu menunduk ketika dimarahi seorang memarahinya, kemudian beberapa saat orang yang memarahi ibu pergi membawa motornya.
Aku melihat ibu dengan wajah kusut, segera ku hampiri ibu
“ Bu baik-baik saja”
“ Ya Ri, ibu baik kok”
Lalu kami segera ke dapur, karena kami sepakat memperisapkan membuat kue. Selama mempersiapkan bahan, tampak wajah sangat gundah, mengapa tidak, pasti orang tadi menagih hutang. Aku hampir juga meneteskan air mata, karena hari ini hari yang melelahkan dan menyedihkan.
Siang ini ada ulangan Matematika di sekolah, aku dengan mudah mengerjakannya meskipun sesekali kesedihan ibu tampak diingatanku.
Usai ulangan Matematika aku istirahat, sewaktu di luar kelas, tak ada satu pun teman yang mendekatiku, biasanya tidak demikian. Aku menghampiri Dinda, kemudian ntah mengapa Dinda pergi ke toilet. Aku panggil Yeni, dia pun menjauh, ada apa dengan mereka. Atau aku yang salah. Seharian aku diam termenung, ada apa dengan teman-temanku. Aku tetap melakukan pekerjaan di rumah, sesekali ibu bertanya keadaanku aku katakan aku baik-baik saja.
Hari berganti, teman-teman sekelas masih menjauh dariku, hanya satu yang tak menjauh Lio, dia tidak tahu juga penyebab menjauhiku. Aku dan Lio berusaha baik pada mereka walaupun setiap kejadian di kelas kami berdua jadi sasaran. Papan tulis kotor kami berdua yang disuruh, ada apa dengan mereka.
Aku dan Lio tetap mengikuti semua.
Hari ini ada lomba memasak di sekolah, aku dan Lio telah membawa bahan dan memasak, tetapi nama pembuatnya diubah oleh teman- teman, mereka semua jahat pada ku dan Lio. Tetapi aku dan Lio tidak marah. Guru-guru sangat suka masakan ku dan Lio yang diakui oleh mereka, kemudian ada seorang guru ingin dimasakkan seperti itu lagi, namun temanku itu tidak dapat membuat. Alhasil aku dan Lio makin dijauhi.
Hari ini satu bulan meninggalnya bapak, aku teringat akan kerja kerasnya. Betapa tidak, pagi-pagi buta ayah bangun kemudian bekerja. Seandai nya waktu bisa diputar kembali, aku ingin bapak berasama kami terus. Kalau saja aku sudah bekerja, pasti bapak tidak akan kubiarkan bekerja. Aku masih ingat kenangan dengan bapak dulu, waktu aku umur 5 tahun, bapak mengajak ku ke kebun binatang, di sana bapak membeli ku es krim, aku hampir digigit monyet, karena tanganku kujulurkan ke kandang. Bapak segera menarikku. “Pak kapan kita bisa bertemu” seru batinku.
Sar, tolong ibu membungkus kue
Aku terkejut dari lamunanku
Ya bu, sebentar
Segera kuhapus air mata yang menetes di pipiku agar tidak kelihatan oleh ibu.
Suatu hari di sekolah aku duduk diam sendiri ku pikir aku pasti akan ditemani Lio saja. Lio memberiku bakpau, kami makan berdua. Kami hanya diam saja ntah kami masing-masing memikirkan apa. Tiba-tiba Deni dan Laras mendekat,
Sar, maafkan kami, selama ini menjauhkan mu
Sar, kami dihasut oleh Pinki, dia bilang kalo bapakmu meninggal karena bapakmu pake ilmu sihir
Pinki bilang, jika berteman denganmu maka kita akan kena sihir
Aku mulai mengerti mengapa teman-teman menjauh dari ku
Oh begitu
Kamu mau maafkan kami kan?
Oh tentu
Sar, kamu memang berhati mulia ya
Kamu kan yang menyelamatkan dompetku di toilet kemarin ucap Laras
Oh ya
Terimakasih ya Sar kamu baik sekali
Aku juga mengucapkan terimakasih kata Deni
Atas apa
Buku kemarin hampir masuk ke kolam sekolah, kamu mengambilnya sehingga bajumu basah kan
Ya kita harus tolong-menolongkan Den
Sudah sekarang kita masuk ke kelas ajak ku pada teman-teman
Indahnya hari ini kurasakan ,semua teman dekat kembali seperti semula. Aku bersyukur mereka semua memahami arti sebuah pertemanan. Aku tersenyum melihat foto kami sekelas. Ada canda, tawa, bahkan tangis apalagi ketika Geri jatuh dari tangga sekolah dan kakinya patah, kami ikut sedih. Biarlah persahabatan ini terus selamanya hingga kami dewasa.
Pagi ini aku lebih terkejut, di depan rumah hadir teman-teman sekolah dengan satu buah gerobak menjual kue, rupanya teman-teman memperhatikan keluargaku juga. Kami tertawa gembira dan kami saling berpelukan dan aku mengucapkan terima kasih pada mereka. Luar biasa mereka, mau menolong aku dan keluargaku.
Sekian tahun yang lalu itulah kisahku dan keluarga. Hari kemarin adalah kenangan untuk ku dan keluarga kini adalah nyata, aku kini memiliki perusahaan kue, tak terbayangkan aku kini menjadi seperti ini. Aku selalu mendapatkan beasiswa hingga kuliahku selesai. Tuhan terimakasih.
Siang itu kukayuh sepeda dengan kencang, ibu memintaku untuk mengambil Loyang kue. Mulai besok ibu akan kue. Ingin kuteteskan air mata, tetapi aku terus berjuang ini demi aku dan Ikbal adikku. Setelah ayah meninggal kami merasa kehilangan, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak bapak setiap hari menjual sayuran keliling kini tiada karena sakit asmanya. Ibu kini yang harus mengambil alih tugas bapak. Belum lagi Ikbal tahun depan dia sudah SMP. Aku ntah masih akan sekolah atau tidak. Jika ibu tidak ada uang, tak mungkin aku sekolah.
Terus mengalir peluh dikeningku, aku terus mengayuh sepedaku. Sesampai di rumah bu Menur teman ibu, aku segera meminjam loyang kue. Bu Menur teman ibu waktu sekolah SD dulu. Bu Menur rumahnya besar, mobilnya dua, motornya tiga, orangnya baik sekali, sering kali aku diajak ke sana hanya untuk makan siang atau malam. Anaknya mbak Luna cantik baik hatinya, setiap seminggu sekali diajaknya aku ke salon mbak Luna facial atau sekedar creambath, wah aku lihat dia sperti putri di dunia dongeng.
Aku tak henti-henti kagum pada keluarga bu Menur, seandainya aku terlahir dari keluarga bu menur. Kutepiskan bayangan itu, sesaat kemudian aku sudah berada di dapur rumahku. Tak ku llihat ibu di sana. Aku duduk istirahat, karena bersepeda tadi terburu-buru. Hampir 20 menit ibu tak muncul di dapur. Segera aku mencari ibu di ruang depan. Ku panggil ibu tapi tak ada suara yang menyahut, ketika kulihat ke kamar, kulihat hanya Setyo adikku yang sedang tidur pulas. Kemana ibu hatiku bertanya. Samar ku dengar ada suara yang agak keras di teras rumah, suara siapakah itu, kemudian dengan penasaran aku berjalan ke teras rumah. Ku lihat ibu menunduk ketika dimarahi seorang memarahinya, kemudian beberapa saat orang yang memarahi ibu pergi membawa motornya.
Aku melihat ibu dengan wajah kusut, segera ku hampiri ibu
“ Bu baik-baik saja”
“ Ya Ri, ibu baik kok”
Lalu kami segera ke dapur, karena kami sepakat memperisapkan membuat kue. Selama mempersiapkan bahan, tampak wajah sangat gundah, mengapa tidak, pasti orang tadi menagih hutang. Aku hampir juga meneteskan air mata, karena hari ini hari yang melelahkan dan menyedihkan.
Siang ini ada ulangan Matematika di sekolah, aku dengan mudah mengerjakannya meskipun sesekali kesedihan ibu tampak diingatanku.
Usai ulangan Matematika aku istirahat, sewaktu di luar kelas, tak ada satu pun teman yang mendekatiku, biasanya tidak demikian. Aku menghampiri Dinda, kemudian ntah mengapa Dinda pergi ke toilet. Aku panggil Yeni, dia pun menjauh, ada apa dengan mereka. Atau aku yang salah. Seharian aku diam termenung, ada apa dengan teman-temanku. Aku tetap melakukan pekerjaan di rumah, sesekali ibu bertanya keadaanku aku katakan aku baik-baik saja.
Hari berganti, teman-teman sekelas masih menjauh dariku, hanya satu yang tak menjauh Lio, dia tidak tahu juga penyebab menjauhiku. Aku dan Lio berusaha baik pada mereka walaupun setiap kejadian di kelas kami berdua jadi sasaran. Papan tulis kotor kami berdua yang disuruh, ada apa dengan mereka.
Aku dan Lio tetap mengikuti semua.
Hari ini ada lomba memasak di sekolah, aku dan Lio telah membawa bahan dan memasak, tetapi nama pembuatnya diubah oleh teman- teman, mereka semua jahat pada ku dan Lio. Tetapi aku dan Lio tidak marah. Guru-guru sangat suka masakan ku dan Lio yang diakui oleh mereka, kemudian ada seorang guru ingin dimasakkan seperti itu lagi, namun temanku itu tidak dapat membuat. Alhasil aku dan Lio makin dijauhi.
Hari ini satu bulan meninggalnya bapak, aku teringat akan kerja kerasnya. Betapa tidak, pagi-pagi buta ayah bangun kemudian bekerja. Seandai nya waktu bisa diputar kembali, aku ingin bapak berasama kami terus. Kalau saja aku sudah bekerja, pasti bapak tidak akan kubiarkan bekerja. Aku masih ingat kenangan dengan bapak dulu, waktu aku umur 5 tahun, bapak mengajak ku ke kebun binatang, di sana bapak membeli ku es krim, aku hampir digigit monyet, karena tanganku kujulurkan ke kandang. Bapak segera menarikku. “Pak kapan kita bisa bertemu” seru batinku.
Sar, tolong ibu membungkus kue
Aku terkejut dari lamunanku
Ya bu, sebentar
Segera kuhapus air mata yang menetes di pipiku agar tidak kelihatan oleh ibu.
Suatu hari di sekolah aku duduk diam sendiri ku pikir aku pasti akan ditemani Lio saja. Lio memberiku bakpau, kami makan berdua. Kami hanya diam saja ntah kami masing-masing memikirkan apa. Tiba-tiba Deni dan Laras mendekat,
Sar, maafkan kami, selama ini menjauhkan mu
Sar, kami dihasut oleh Pinki, dia bilang kalo bapakmu meninggal karena bapakmu pake ilmu sihir
Pinki bilang, jika berteman denganmu maka kita akan kena sihir
Aku mulai mengerti mengapa teman-teman menjauh dari ku
Oh begitu
Kamu mau maafkan kami kan?
Oh tentu
Sar, kamu memang berhati mulia ya
Kamu kan yang menyelamatkan dompetku di toilet kemarin ucap Laras
Oh ya
Terimakasih ya Sar kamu baik sekali
Aku juga mengucapkan terimakasih kata Deni
Atas apa
Buku kemarin hampir masuk ke kolam sekolah, kamu mengambilnya sehingga bajumu basah kan
Ya kita harus tolong-menolongkan Den
Sudah sekarang kita masuk ke kelas ajak ku pada teman-teman
Indahnya hari ini kurasakan ,semua teman dekat kembali seperti semula. Aku bersyukur mereka semua memahami arti sebuah pertemanan. Aku tersenyum melihat foto kami sekelas. Ada canda, tawa, bahkan tangis apalagi ketika Geri jatuh dari tangga sekolah dan kakinya patah, kami ikut sedih. Biarlah persahabatan ini terus selamanya hingga kami dewasa.
Pagi ini aku lebih terkejut, di depan rumah hadir teman-teman sekolah dengan satu buah gerobak menjual kue, rupanya teman-teman memperhatikan keluargaku juga. Kami tertawa gembira dan kami saling berpelukan dan aku mengucapkan terima kasih pada mereka. Luar biasa mereka, mau menolong aku dan keluargaku.
Sekian tahun yang lalu itulah kisahku dan keluarga. Hari kemarin adalah kenangan untuk ku dan keluarga kini adalah nyata, aku kini memiliki perusahaan kue, tak terbayangkan aku kini menjadi seperti ini. Aku selalu mendapatkan beasiswa hingga kuliahku selesai. Tuhan terimakasih.
cerpenku
Di Penghujung Waktu
Nada lemah Weni kudengar dengan jelas, kemarin tenggorokannya sakit untuk menelan makanan. Aku berikan air hangat, dan lehernya kuberikan penghangat agar hangat. Ku lihat dia terbaring lemah dan terkadang air matanya menetes, karena tidak tahan dengan sakitnya. Seringkali aku berusaha pergi ke dokter, tapi apa mau dikata, uangku tidak cukup. Sudah enam bulan ayahnya Weni belum pulang dari Jakarta, sebelumnya ayah Weni bekerja di Sumtera namun usahanya bangkrut, sekarang ayahnya bekerja di Jakarta. Sudah enam bulan ini ayahnya belum juga kembali. Entah mengapa jika aku hubungi sepupu ayah Weni di Jakarta, selalu dikatakan tidak tahu. Selama ini aku dan ayahnya Weni berkomunikasi lewat telepon sepupunya.
Bagaimana dengan Weni?
Aku hanya bisa diam membisu, uang ku untuk bulan ini hampir habis, hasil dari mencuci baju di tempat bu Rekso belum menutupi obat untuk Weni. Aku segera menghapuskan air mata yang mengalir di pipiku, jika Weni tahu dia akan ikut bersedih. Weni sudah sekolah, meskipun masih kelas 2 SD, tetapi aku ingin juga suatu saat dia mengenyam pendidikan yang tinggi, aku hanya lulusan SMA, dan sekarang hanya mengandalkan pekerjaan mencuci pakaian di tetangga. Dulu pernah mau diajak Ika jadi TKW ke Arab tetapi ayahnya Weni melarang. Jika aku ke Arab, maka ayahnya Weni akan menceraikan aku. Padahal waktu itu ibu ku sakit keras, aku harus membeli obat dan membayar opname di rumah sakit. Betapa aku merasa aku orang yang terhimpit dan bahkan sudah terjepit.
Ku kenang kembali perkenalanku dengan ayahnya Weni, sebelum ayahnya Weni yang melamarku, sebenarnya ada pria lain juga mengajak menikah, namun orang tua pria itu menolakku mentah-mentah, alasannya aku orang kere (bahasa Jawa:miskin)tidak mungkin menikah dengan orang kaya. Sedangkan ayahnya Weni hadir ketika aku hampir stress dengan perlakuan pria itu. Aku sudah pernah tidur dengannya satu kali. Mengapa aku mau tidur dengannya, waktu itu aku bekerja di pabrik, sepulang dari pabrik aku di ajak ke kos pria itu, setelah ngobrol-ngobrol melepas rindu, karena lelah aku sempat rebahan di tempat tidur, hari itu lelah sekali setelah seharian bekerja. Saat itulah, pria itu mendekatiku dan mendesak membuka bajuku, aku menolak namun pria itu berkata,
Aku tanggung jawab, akan menikahimu
Terjadilah hal itu, kami tidur bersama. Hingga pukul 23.00 aku kembali ke rumah. Aku mulai tidak tenang, dan perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Bahkan dengan ayahnya Weni aku tidak jujur kalau aku pernah tidur dengan pria itu.
Akhirnya pernikahanku pun berlangsung dengan acara yang sederhana, aku senang sekali. Saudara semua berkumpul bahagia. Sebenarnya aku tidak begitu cinta pada ayahnya Weni, karena ayahnya Weni dulu teman SMA yang kutolak cintanya, dia pria suka ganti pacar, aku tidak suka dengan tingkahnya. Tetapi orangtuaku dan orangtuanya sangat ingin kami menikah. Orangtua kami sudah saling mengenal sejak mereka muda dulu.
Malam pertama pun berlangsung dengan keheningan, karena aku masih belum mau tidur dengan ayahnya Weni. Hal itu berlangsung hampir satu bulan. Tanpa diketahui orang tua kami. Meskipun kami sudah sah menjadi suami istri tetapi kami tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Aku masih belum cinta ayahnya Weni.
Hingga akhirnya suatu saat ayahnya Weni mau jujur bahwa dia cinta padaku, dan akan bertanggung jawab, dan kulihat kesehariannya ayah Weni orang pekerja keras, lembut, bahkan menjagaku dengan sayang. Akhirnya aku menyerah pada ayahnya Weni. Bahkan saat-saat kehamilanku pun aku hampir saja bercerai dengan ayahnya Weni, mengapa tidak, ada seorang wanita datang padaku mengaku kalau ayahnya Weni berjanji akan menikahi wanita itu. Aku terkejut bahkan menangis meraung-raung, kesal dan jengkel. Namun hal itu hanya rekayasa wanita itu, agar mendapat uang dari ayahnya Weni. Namun sebenarnya kekawatiran selalu ada, karena sejak SMA ayah Weni terkenal playboy.
Pagi ini aku harus segera mencuci pakaian di tempat bu Lastri, pembantunya lagi mudik ke Cilacap.Jadi aku mengurus pakaiannya. Aku bangun, kemudian menyiapkann makan untuk Weni dan segera ke rumah bu Lastri. Sebenarnya aku enggan beranjak dari tempat tidur Weni, karena aku melihat keadaan Weni makin lemah. Harpanku hari ini bu Lastri memberi aku uang.
Aku mencuci pakaian dengan segera, kemudian menjemur. Dilanjutkan setrika pakaian. Belum usai pakaian ku setrika, Mak Juni menghampiriku
Len, anakmu sudah dibawa ke rumah sakit
Apa mak?
Tadi anakmu pingsan, lalu tetangga membawa ke rumah sakit
Tanpa pikir panjang ku bereskan pakaian, dan aku berlari ke rumah sakit
Di sana ku lihat Weni sudah dirawat oleh dokter, aku manangis tersedu-sedu. Ku ingat ayahnya Weni tidak ada kabar. Belum lagi aku tak ada uang untuk berobat.
Ayahnya Weni kapan pulang Len?
Ga tau mak, nggak ada kabar
Lah kok bisa?
Ntahlah dah aku hubungi saudarnya, tapi ga tau jawabnya
Tetangga memang baik hati, semua pembayaran dibantu tetangga. Meski demikian aku tetap harus mengembalikannya. Tapi setidaknya sudah tertolong.
Malam ini aku mencoba menghubungi ayahnya Weni kembali, Lintang anak bu Lastri mau memberi pinjaman HP nya, dia ga tega melihat ku bersedih. Jawabannya masih sama, tidak tahu kata sepupunya di Jakarta. Hatiku makin hancur dan porak poranda, aku segera menghubungi mertuaku. Alhasil jawabannya sudah lama tidak tahu kabar ayahnya Weni, malah memarahiku, mengapa aku tidak tahu keberadaan ayahnya Weni.
Kalau malam tiba setelah Weni tidur aku sangat kangen belaian dari tangan ayahnya Weni, apalagi pelukan hangatnya, menentramkan jiwa. Tangannya yang menggenggam tanganku semakin aku aman dalam tubuhnya. Air mataku mengalir terus, sesekali kuusap dengan tanganku. Aku tidak ingin Weni melihatnya.
Hari ini Weni bisa kembali ke rumah, senang sekali rasanya. Setidaknya Weni tidak dikelilingi dinding putih dan uang yang tak kumengerti kucari dari mana. Aku menemani Weni makan, kemudian minum obat. Setelah itu aku membereskan pakaian, serta piring-piring yang masih berantakan selama aku tinggal, menunggu Weni di rumah sakit
Len, Len
Ada suara memanggil dari depan rumah, aku segera ke depan
Eh ,mas Hadi
Bagaimana kabar anakmu?
Agak membaik mas
Mari masuk mas
Mulai aku mengenang tentang mas Hadi, mas Hadi adalah mantanku, hingga kini dia belum menikah. Katanya sakit hati akibat dari pernikahanku dengan ayahnya Weni, meski demikian dia tidak menjauh dariku, bahkan kami seperti saudara. Malam itu mas Hadi memberiku uang, sebenarnya aku tidak enak, apa kata orang jika mas Hadi rajin mengunjungiku. Statusnya aku masih istri dari ayahnya Weni.
Hingga suatu malam, di hujan yang deras, mas Hadi ke rumah dan agak lama kami ngobrol, karena hujan tak reda. Aku mengambilkan segelas kopi panas ke dapur, tanpa kusadari mas Hadi menghampiri dari belakangku, kemudian mas Hadi memelukku dengan erat, kemudian aku segera melepeskan, tetapi Hadi berbisik
Bukankah kamu kesepian Len
Aku mulai menjauh darinya, lalu ke depan masuk ke kamar
Aku lupa menguncinya, mas Hadi dengan gerak cepat masuk ke kamar menyusulku. Dengan rasa terkejut badanku sudah terhempas di tempat tidur. Akhirnya wajah kami beradu, jujur waktu itu aku rindu ayahnya Weni, sudah enam bulan aku tidak merasakan pelukan hangatnya. Kemudian mas Hadi mulai mengecup kening ku, kemudian pipi, dan akhirnya bibirku. Mas Hadi rindu sekali padaku, itu katanya. Akhirnya di balik hujan deras itu dan heningnya malam, aku jatuh dalam pelukan mas Hadi. Tengah malam aku terbangun, dan menyesal mengapa aku mau melakukannya, ku lihat mas Hadi tidur di sebelahku. Segera ku rapikan bajuku, rambutku, lalu menuju kamar Weni.
Ntah jam berapa mas Hadi pulang. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Aku malu sekali pada diriku, pada Weni dan ayahnya. Selama ini aku tidak menjaga kepercayaan dari ayahnya Weni.
Setelah itu mas Hadi selalu ingin bertemu denganku, namun pintu selalu tak ku buka. Lewat tetangga dia memberiku uang, namun tetap kutolak. Aku sangat menyesal, ntah bagaimana membersihkan aib ku itu. Seorang pun tidak tahu kejadian itu. Aku tidak berani ngomong ke ibu ku, pasti aku dihajar.
Siang ini aku masih mencuci baju di rumah bu Lastri, selagi aku mencuci, kemudian Lintang menghampiriku.
Mbak, nanti ada telepon untuk mbak tapi aku ga tahu siapa, tunggu aja
Lintang memberi HP nya. Aku memegang dengan hati yang bergetar, ntah mengapa, dari siapakah gerangan?
Halo
Halo
Kamu ya Len?
Ya
Ini siapa ya?
Aku Ratno
Eh mas apa kabar,mas baik-baik saja kan, mas Weni kangen sama kamu
Pertanyaanku berbaris menunggu jawaban dari ayahnya Weni
Ya aku baik
Aku hanya mau bilang, minggu depan aku akan mengurus surat cerai kita, jadi siapkan saja
Berkas-berkasnya
Ha?
Apa maksudnya mas
Dah kita cerai
Mas, maksudnya apa? Mengapa tiba-tiba mas telepon minta cerai
Nada suaraku meninggi dan jantungku berdebar, ingin rasanya kubanting HP itu, tetapi kuigat itu HP nya Lintang. Tetapi tak ada jawaban dari ayahnya Weni. Telepon segera ditutup ayahnya Weni.
Akhirnya tibahlah saat dimana aku tidak pernah bermimpi akan begini jadinya, Weni aku tetap yang asuh. Aku pindah ke Jombang, aku tidak kuat menahan derita ini. Apa salahku, kalau perlu aku akan jujur pada ayahnya Weni, kalau aku wanita bejad yang dia nikahi. Namun alasan ayahnya Weni menceraikan aku, karena tidak cocok. Namun itu hanya caranya agar dengan mudah menikah dengan seorang wanita di Jakarta, itu diketahui oleh salah satu saudara bu Lastri di Jakarta.
Biarlah derita ini ku bawa terus, toh ini mungkin upah dari semua perbuatan bejadku. Aku merawat Weni hingga kini dia sehat kembali. Kini Weni telah lulus dari SMA, tak terasa dia sudah tumbuh dewasa. Meski kadang dia butuh juga sosok seorang ayah, yang melindunginya. Weni sudah tumbuh dewasa, cantik juga dia. Aku kagum padanya.
Len, apa kabar?
Suara itu seperti tak asing di telingaku, aku segera menoleh ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya aku, dan seperti aku ingin berlari kencang menghindar dari orang tersebut. Mas hadi menghampiriku
Aku minta maaf Len
Sudah mas, sudah kumaafkan, maaf aku harus pergi
Tolonglah Len, aku mau menikah denganmu
Sungguh, bukan karena kejadian itu namun dari dulu aku cinta kamu
Aku hanya diam membisu dan air mataku menetes.
Sudah mas Hadi aku ga mau mengingatnya lagi, pergilah dan jangan kembali lagi
Mas Hadi diam di tempat,dan aku pergi menghindar darinya, dan sejauh-jauhnya pergi dari hadapannya. Aku sudah berjanji tidak akan membongkar cerita busuk itu,ku bungkus dalam pelastik hitam, kuikat kencang dan ku lemparkan ke sungai terdalam. Biar dibawa air sungai dan ditiup angin. Agar baunya tidak menyeruak ke mana-mana. Meski ketika aku mengikatnya, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Beginilah deritaku yang harus dihapus dengan kepalsuan. Biarlah detik ini jadi saksi, aku mau hidup dengan apa adanya dan tak akan kututupi luka yang sudah mengoreng dan membusuk ini. Aku tak ingin nanah dalam luka ku ini mengalir di tubuh Weni. Aku ingin Weni menjadi wanita yang baik adanya.
Nada lemah Weni kudengar dengan jelas, kemarin tenggorokannya sakit untuk menelan makanan. Aku berikan air hangat, dan lehernya kuberikan penghangat agar hangat. Ku lihat dia terbaring lemah dan terkadang air matanya menetes, karena tidak tahan dengan sakitnya. Seringkali aku berusaha pergi ke dokter, tapi apa mau dikata, uangku tidak cukup. Sudah enam bulan ayahnya Weni belum pulang dari Jakarta, sebelumnya ayah Weni bekerja di Sumtera namun usahanya bangkrut, sekarang ayahnya bekerja di Jakarta. Sudah enam bulan ini ayahnya belum juga kembali. Entah mengapa jika aku hubungi sepupu ayah Weni di Jakarta, selalu dikatakan tidak tahu. Selama ini aku dan ayahnya Weni berkomunikasi lewat telepon sepupunya.
Bagaimana dengan Weni?
Aku hanya bisa diam membisu, uang ku untuk bulan ini hampir habis, hasil dari mencuci baju di tempat bu Rekso belum menutupi obat untuk Weni. Aku segera menghapuskan air mata yang mengalir di pipiku, jika Weni tahu dia akan ikut bersedih. Weni sudah sekolah, meskipun masih kelas 2 SD, tetapi aku ingin juga suatu saat dia mengenyam pendidikan yang tinggi, aku hanya lulusan SMA, dan sekarang hanya mengandalkan pekerjaan mencuci pakaian di tetangga. Dulu pernah mau diajak Ika jadi TKW ke Arab tetapi ayahnya Weni melarang. Jika aku ke Arab, maka ayahnya Weni akan menceraikan aku. Padahal waktu itu ibu ku sakit keras, aku harus membeli obat dan membayar opname di rumah sakit. Betapa aku merasa aku orang yang terhimpit dan bahkan sudah terjepit.
Ku kenang kembali perkenalanku dengan ayahnya Weni, sebelum ayahnya Weni yang melamarku, sebenarnya ada pria lain juga mengajak menikah, namun orang tua pria itu menolakku mentah-mentah, alasannya aku orang kere (bahasa Jawa:miskin)tidak mungkin menikah dengan orang kaya. Sedangkan ayahnya Weni hadir ketika aku hampir stress dengan perlakuan pria itu. Aku sudah pernah tidur dengannya satu kali. Mengapa aku mau tidur dengannya, waktu itu aku bekerja di pabrik, sepulang dari pabrik aku di ajak ke kos pria itu, setelah ngobrol-ngobrol melepas rindu, karena lelah aku sempat rebahan di tempat tidur, hari itu lelah sekali setelah seharian bekerja. Saat itulah, pria itu mendekatiku dan mendesak membuka bajuku, aku menolak namun pria itu berkata,
Aku tanggung jawab, akan menikahimu
Terjadilah hal itu, kami tidur bersama. Hingga pukul 23.00 aku kembali ke rumah. Aku mulai tidak tenang, dan perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Bahkan dengan ayahnya Weni aku tidak jujur kalau aku pernah tidur dengan pria itu.
Akhirnya pernikahanku pun berlangsung dengan acara yang sederhana, aku senang sekali. Saudara semua berkumpul bahagia. Sebenarnya aku tidak begitu cinta pada ayahnya Weni, karena ayahnya Weni dulu teman SMA yang kutolak cintanya, dia pria suka ganti pacar, aku tidak suka dengan tingkahnya. Tetapi orangtuaku dan orangtuanya sangat ingin kami menikah. Orangtua kami sudah saling mengenal sejak mereka muda dulu.
Malam pertama pun berlangsung dengan keheningan, karena aku masih belum mau tidur dengan ayahnya Weni. Hal itu berlangsung hampir satu bulan. Tanpa diketahui orang tua kami. Meskipun kami sudah sah menjadi suami istri tetapi kami tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Aku masih belum cinta ayahnya Weni.
Hingga akhirnya suatu saat ayahnya Weni mau jujur bahwa dia cinta padaku, dan akan bertanggung jawab, dan kulihat kesehariannya ayah Weni orang pekerja keras, lembut, bahkan menjagaku dengan sayang. Akhirnya aku menyerah pada ayahnya Weni. Bahkan saat-saat kehamilanku pun aku hampir saja bercerai dengan ayahnya Weni, mengapa tidak, ada seorang wanita datang padaku mengaku kalau ayahnya Weni berjanji akan menikahi wanita itu. Aku terkejut bahkan menangis meraung-raung, kesal dan jengkel. Namun hal itu hanya rekayasa wanita itu, agar mendapat uang dari ayahnya Weni. Namun sebenarnya kekawatiran selalu ada, karena sejak SMA ayah Weni terkenal playboy.
Pagi ini aku harus segera mencuci pakaian di tempat bu Lastri, pembantunya lagi mudik ke Cilacap.Jadi aku mengurus pakaiannya. Aku bangun, kemudian menyiapkann makan untuk Weni dan segera ke rumah bu Lastri. Sebenarnya aku enggan beranjak dari tempat tidur Weni, karena aku melihat keadaan Weni makin lemah. Harpanku hari ini bu Lastri memberi aku uang.
Aku mencuci pakaian dengan segera, kemudian menjemur. Dilanjutkan setrika pakaian. Belum usai pakaian ku setrika, Mak Juni menghampiriku
Len, anakmu sudah dibawa ke rumah sakit
Apa mak?
Tadi anakmu pingsan, lalu tetangga membawa ke rumah sakit
Tanpa pikir panjang ku bereskan pakaian, dan aku berlari ke rumah sakit
Di sana ku lihat Weni sudah dirawat oleh dokter, aku manangis tersedu-sedu. Ku ingat ayahnya Weni tidak ada kabar. Belum lagi aku tak ada uang untuk berobat.
Ayahnya Weni kapan pulang Len?
Ga tau mak, nggak ada kabar
Lah kok bisa?
Ntahlah dah aku hubungi saudarnya, tapi ga tau jawabnya
Tetangga memang baik hati, semua pembayaran dibantu tetangga. Meski demikian aku tetap harus mengembalikannya. Tapi setidaknya sudah tertolong.
Malam ini aku mencoba menghubungi ayahnya Weni kembali, Lintang anak bu Lastri mau memberi pinjaman HP nya, dia ga tega melihat ku bersedih. Jawabannya masih sama, tidak tahu kata sepupunya di Jakarta. Hatiku makin hancur dan porak poranda, aku segera menghubungi mertuaku. Alhasil jawabannya sudah lama tidak tahu kabar ayahnya Weni, malah memarahiku, mengapa aku tidak tahu keberadaan ayahnya Weni.
Kalau malam tiba setelah Weni tidur aku sangat kangen belaian dari tangan ayahnya Weni, apalagi pelukan hangatnya, menentramkan jiwa. Tangannya yang menggenggam tanganku semakin aku aman dalam tubuhnya. Air mataku mengalir terus, sesekali kuusap dengan tanganku. Aku tidak ingin Weni melihatnya.
Hari ini Weni bisa kembali ke rumah, senang sekali rasanya. Setidaknya Weni tidak dikelilingi dinding putih dan uang yang tak kumengerti kucari dari mana. Aku menemani Weni makan, kemudian minum obat. Setelah itu aku membereskan pakaian, serta piring-piring yang masih berantakan selama aku tinggal, menunggu Weni di rumah sakit
Len, Len
Ada suara memanggil dari depan rumah, aku segera ke depan
Eh ,mas Hadi
Bagaimana kabar anakmu?
Agak membaik mas
Mari masuk mas
Mulai aku mengenang tentang mas Hadi, mas Hadi adalah mantanku, hingga kini dia belum menikah. Katanya sakit hati akibat dari pernikahanku dengan ayahnya Weni, meski demikian dia tidak menjauh dariku, bahkan kami seperti saudara. Malam itu mas Hadi memberiku uang, sebenarnya aku tidak enak, apa kata orang jika mas Hadi rajin mengunjungiku. Statusnya aku masih istri dari ayahnya Weni.
Hingga suatu malam, di hujan yang deras, mas Hadi ke rumah dan agak lama kami ngobrol, karena hujan tak reda. Aku mengambilkan segelas kopi panas ke dapur, tanpa kusadari mas Hadi menghampiri dari belakangku, kemudian mas Hadi memelukku dengan erat, kemudian aku segera melepeskan, tetapi Hadi berbisik
Bukankah kamu kesepian Len
Aku mulai menjauh darinya, lalu ke depan masuk ke kamar
Aku lupa menguncinya, mas Hadi dengan gerak cepat masuk ke kamar menyusulku. Dengan rasa terkejut badanku sudah terhempas di tempat tidur. Akhirnya wajah kami beradu, jujur waktu itu aku rindu ayahnya Weni, sudah enam bulan aku tidak merasakan pelukan hangatnya. Kemudian mas Hadi mulai mengecup kening ku, kemudian pipi, dan akhirnya bibirku. Mas Hadi rindu sekali padaku, itu katanya. Akhirnya di balik hujan deras itu dan heningnya malam, aku jatuh dalam pelukan mas Hadi. Tengah malam aku terbangun, dan menyesal mengapa aku mau melakukannya, ku lihat mas Hadi tidur di sebelahku. Segera ku rapikan bajuku, rambutku, lalu menuju kamar Weni.
Ntah jam berapa mas Hadi pulang. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Aku malu sekali pada diriku, pada Weni dan ayahnya. Selama ini aku tidak menjaga kepercayaan dari ayahnya Weni.
Setelah itu mas Hadi selalu ingin bertemu denganku, namun pintu selalu tak ku buka. Lewat tetangga dia memberiku uang, namun tetap kutolak. Aku sangat menyesal, ntah bagaimana membersihkan aib ku itu. Seorang pun tidak tahu kejadian itu. Aku tidak berani ngomong ke ibu ku, pasti aku dihajar.
Siang ini aku masih mencuci baju di rumah bu Lastri, selagi aku mencuci, kemudian Lintang menghampiriku.
Mbak, nanti ada telepon untuk mbak tapi aku ga tahu siapa, tunggu aja
Lintang memberi HP nya. Aku memegang dengan hati yang bergetar, ntah mengapa, dari siapakah gerangan?
Halo
Halo
Kamu ya Len?
Ya
Ini siapa ya?
Aku Ratno
Eh mas apa kabar,mas baik-baik saja kan, mas Weni kangen sama kamu
Pertanyaanku berbaris menunggu jawaban dari ayahnya Weni
Ya aku baik
Aku hanya mau bilang, minggu depan aku akan mengurus surat cerai kita, jadi siapkan saja
Berkas-berkasnya
Ha?
Apa maksudnya mas
Dah kita cerai
Mas, maksudnya apa? Mengapa tiba-tiba mas telepon minta cerai
Nada suaraku meninggi dan jantungku berdebar, ingin rasanya kubanting HP itu, tetapi kuigat itu HP nya Lintang. Tetapi tak ada jawaban dari ayahnya Weni. Telepon segera ditutup ayahnya Weni.
Akhirnya tibahlah saat dimana aku tidak pernah bermimpi akan begini jadinya, Weni aku tetap yang asuh. Aku pindah ke Jombang, aku tidak kuat menahan derita ini. Apa salahku, kalau perlu aku akan jujur pada ayahnya Weni, kalau aku wanita bejad yang dia nikahi. Namun alasan ayahnya Weni menceraikan aku, karena tidak cocok. Namun itu hanya caranya agar dengan mudah menikah dengan seorang wanita di Jakarta, itu diketahui oleh salah satu saudara bu Lastri di Jakarta.
Biarlah derita ini ku bawa terus, toh ini mungkin upah dari semua perbuatan bejadku. Aku merawat Weni hingga kini dia sehat kembali. Kini Weni telah lulus dari SMA, tak terasa dia sudah tumbuh dewasa. Meski kadang dia butuh juga sosok seorang ayah, yang melindunginya. Weni sudah tumbuh dewasa, cantik juga dia. Aku kagum padanya.
Len, apa kabar?
Suara itu seperti tak asing di telingaku, aku segera menoleh ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya aku, dan seperti aku ingin berlari kencang menghindar dari orang tersebut. Mas hadi menghampiriku
Aku minta maaf Len
Sudah mas, sudah kumaafkan, maaf aku harus pergi
Tolonglah Len, aku mau menikah denganmu
Sungguh, bukan karena kejadian itu namun dari dulu aku cinta kamu
Aku hanya diam membisu dan air mataku menetes.
Sudah mas Hadi aku ga mau mengingatnya lagi, pergilah dan jangan kembali lagi
Mas Hadi diam di tempat,dan aku pergi menghindar darinya, dan sejauh-jauhnya pergi dari hadapannya. Aku sudah berjanji tidak akan membongkar cerita busuk itu,ku bungkus dalam pelastik hitam, kuikat kencang dan ku lemparkan ke sungai terdalam. Biar dibawa air sungai dan ditiup angin. Agar baunya tidak menyeruak ke mana-mana. Meski ketika aku mengikatnya, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Beginilah deritaku yang harus dihapus dengan kepalsuan. Biarlah detik ini jadi saksi, aku mau hidup dengan apa adanya dan tak akan kututupi luka yang sudah mengoreng dan membusuk ini. Aku tak ingin nanah dalam luka ku ini mengalir di tubuh Weni. Aku ingin Weni menjadi wanita yang baik adanya.
sore yang menangis
pernah adik bertanya
"kapan akan punah pohon ini?'
aku menjawab
"jika kaki pohon itu tak kuat berdiri"
adik diam dan tak tahu harus bilang apa karena sore itu hujan akan turun, mungkin akan banjir sebentar lagi, ini bukan Jakarta tapi aku tahu ini Indonesia. Adik terdiam, sedih, kini gundah menyerang. Apakah ada yang akan ditanyanya, tapi tak kulihat keinginan bibirnya terbuka. Kini dia duduk kaku di depan rumah. Menanti hujan yang telah turun. Angin sedikit meniup rambutnya yang terurai. Pedih matanya memandang, terkadang matanya diusap
"kamu mau tanya?"
"nggak"
"lalu"'
"aku akan diam saja"
"mengapa?"
toh habis suaraku"
aku diam apa maksudnya. Dia masih berumur 10 tahun, kemarin baru keluar dari sekolahnya, karena orang tuanya tak sanggup membayar Rp 50.000,- uang sekolahnya. lebih baik dia keluar saja dan berlari dari dunia sekolah
"kapan akan punah pohon ini?'
aku menjawab
"jika kaki pohon itu tak kuat berdiri"
adik diam dan tak tahu harus bilang apa karena sore itu hujan akan turun, mungkin akan banjir sebentar lagi, ini bukan Jakarta tapi aku tahu ini Indonesia. Adik terdiam, sedih, kini gundah menyerang. Apakah ada yang akan ditanyanya, tapi tak kulihat keinginan bibirnya terbuka. Kini dia duduk kaku di depan rumah. Menanti hujan yang telah turun. Angin sedikit meniup rambutnya yang terurai. Pedih matanya memandang, terkadang matanya diusap
"kamu mau tanya?"
"nggak"
"lalu"'
"aku akan diam saja"
"mengapa?"
toh habis suaraku"
aku diam apa maksudnya. Dia masih berumur 10 tahun, kemarin baru keluar dari sekolahnya, karena orang tuanya tak sanggup membayar Rp 50.000,- uang sekolahnya. lebih baik dia keluar saja dan berlari dari dunia sekolah
jadi ini katamu
jadi ini katamu
saat tak ada cemburu kau minta
saat aku cemburu aku salah
persetan dengan anak emas
biar saja dukaku mengoreng
saat aku tak bisa bernafas lagi
kubur saja aku di jurang maut
puas kau
jadi ini katamu
lepas
merdeka
persetan kebohongan
kau pun demikian padaku
kukawin kata dan maaf
aku sudah tak sanggup
saat tak ada cemburu kau minta
saat aku cemburu aku salah
persetan dengan anak emas
biar saja dukaku mengoreng
saat aku tak bisa bernafas lagi
kubur saja aku di jurang maut
puas kau
jadi ini katamu
lepas
merdeka
persetan kebohongan
kau pun demikian padaku
kukawin kata dan maaf
aku sudah tak sanggup
Langganan:
Komentar (Atom)