Selasa, 12 Mei 2009

asyiknya

HIDUP TERUS BERJALAN
Sampai kapan akan berjalan seperti ini , aku tidak tahu. Aku mendapat hadiah bogem mentah tamparan dari mama tiriku pagi ini, lagi-lagi aku tak masuk kuliah, aku malu karena setiap kali wajahku biru, semua teman bertanya mengapa aku bisa begitu hanya kasihan saja mereka, bahkan aku diduga dihajar Koko pacarku, padahal bukan Koko, dia orang yang sabar, bahkan aku menghindar jika ditanya macam-macam. Makin banyak mala petaka dalam hidupku, aku sepulang kuliah harus bekerja menjadi kasir di rumah makan di jalan Kesehatan. Pulang ke rumah jam 23.00, sesampai di rumah harus mendengar jeritan mama tiriku, mama yang melahirkan ku juga tidak ku ketahui, papa tiriku sesekali pulang ke rumah, karena harus ke rumah istri yang lain, sering kali malam aku tidak bisa tidur, terus terang sudah ku minum semua vitamin dan susu agar gemuk namun berat badanku selalu saja turun. Entah mengapa, sesekali ku pandang foto ku dengan seorang wanita tua, dia bukan mamaku, namu dia yang merawat ku. Dia sudah kuanggap ibu, wanita yang lain aku tidak tahu. Malam itu seperti biasa mama tiriku menjerit dan berteriak minta dibantu berjalan, karena kegiatan di malam hari mabuk, aku segera membantunya meletakkannya di tempat tidur, kemudian aku berjalan menuju kamarku. Namun seperti biasa dia masih menjerit, namun beberapa saat saja kemudian tidur.
Jika pap tiriku datang pasti kucuekin saja, malam itu dia datang. Aku tetap di dalam kamar
Belum tidur Sha?
Belum jawabku cuek
Papa tiriku mulai mebuka pintu kamarku, sebenarnya aku heran mengapa dia aneh sepeti ini, aku tetap bertekun saja di depan buku ku, namun seketika itu juga tubuh ku ditarik papa tiriku ke tempat tidur aku meronta ingin menjerit takut mama tiriku bangun namun tetap aku berusaha ke luar kamar, pria gila itu kuat sekali, memaksa ku untuk membuka bajuku.
Jika kamu teriak dan bilang mama mu, aku tidak membiayai rumah ini dan kuliahmu
Namun aku tidak peduli segera aku bergerak namun, aku dihajar dan pingsan, malam itu ada kesedihan dan kehancuran buatku, papa tiriku berbuat sekejam itu padaku. Setelah aku sadar, aku melihat semua berantakan, semua bajuku berhamburan. Malam itu kuputuskan untuk ke luar dari rumah dan pergi entah ke mana. Orang yang kukunjungi Koko, aku cerita apa adanya sekaligus untuk pamit entah ke mana, Koko berniat membantu ku mengantarkan pada saudaranya, namun aku menolak dan aku segera pergi. Ku lihat jam di tangan ku menunjukkan pukul 04.00. Ku lihat Koko meneteskan air mata, selama pacaran dengan dia baru kali ini dia menangis, entahlah aku tidak mau menatapnya, aku pasti menangis keras.
Aku menaiki bus memang tidak berAc, karena uangku terbatas. Selama di bus, tak henti-hentinya air mata mengalir, aku masih senang kuliah, aku masih senang bekerja di warung makan, aku masih cinta pada Koko, namun rupanya kisah hidup tak penuh cinta. Aku lelah dan terlelap dalam tidur, karena lelah menangis.
Mbak dah nyampe terminal
Ada suara yang membangunkanku, segera aku bangun, dan ke luar. Aku sangat ingat tempat yang kutuju, karena aku tidak bisa terlepas dengan satu orang ini.
Bu, lagi apa
Sapaan ku membuat seorang wanita tua menengok ke aku
Loh kamu dik, sini Ibu kangen
Kami berpelukan, aku tidak akan melepas pelukan hangat itu, dia wanita yang kuanggap ibuku dalam foto. Aku tidur dipangkuannya
Dah dik jangan sedih ya, yang penting kamu dah di sini, lalu mama mu ga menghubungi kamu
Nggak perlu kayaknya bu
Kamu harus kabari kamu ada dimana dik
Ga perlu
Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang sudah berkerut, aku tidak henti-hentinya menangis
Dah dik kamu jangan nangis, ntar ibu juga sedih
Bu aku sayang ibu
Lah ibu juga dik
Aku disebut dik karena itu panggilan sayang ibu punya anak laki-laki namanya Hendra, tinggal sama ibu juga dia di panggil mas, lalu karena aku dianggap adiknya, sehingga aku disebut adik.
Siapa bu yang datang
Sapa mas hendara menuju arahku
Ini adik mu
Eleh si tengil ya
Rambutku diacak-acak seperti biasa, namun aku segera menghapus air mataku ingin menjabat tangannya
Dah mas, adik lagi sedih
Lah kenapa kamu
Nggak kok
Mas hendra sangat memahami ku dia kakak yang baik.
Dah sana mandi, ikut mas
Ke mana mas
Udah pasti kamu suka
Mau ke mana mas, Tanya ibu
Ke alun-alun kok bu
Segera aku mandi dan dandan keren, aku paling suka kalau nongkrong di alun-alun apalagi motor-motoran dengan mas Hendra, serasa stress hilang.
Aku dan mas Hendra menikmati jagung bakar, sambil cerita dan tertawa bersama, kemudian tiba-tiba seorang cewek mendekati kami
Eh Ras, gabung sini
Ini Shabrina dari Jakarta
Oh ini Shabrina
Shabrina
Saras
Dari mana Ras?
Dari rumah sakit nengok nenek
Sakit ya, masuk tadi pagi, lalu lagi pesen jahe untuk mas Ipung, ntar malam dia mau jaga nenek
Oh gitu, duduk sini dulu
Aku buru-buru mas
Aku duluan ya Sha
Oh ya mbak
Kamu nyetir sendiri
Ya mas
Hati-hati ya
Dia nggak marah mas kita berdua, Tanya ku penasaran
Sha..Sha kayak SMA aja cemburuan, kita pacaran dah lama Cuma belum nikah-nikah aja
Kami tertawa bersama. Aku akhirnya memberanikan diri cerita ke mas Hendra tentang kisahku, setelah di rumah, lagi-lagi aku menangis,ibu memelukku, karena aku dah menangis sejadi-jadinya. Malam itu aku lega ada saudara-saudara yang mau mendengarkan meskipun aku tidak tahu siapa mereka. Namun yang pasti mereka mencintaiku.
Hari ini aku bekerja, pacarnya mas Hendra menawarkanku mengawasi usahanya di toko butik, aku suka sekali, mbak Saras baik sekali. Aku masuk kerja jam 08.00 pulang jam 16.00, wah indah sekali hidupku, aku menikmati hari-hariku. Setiap harinya aku bisa makan maskan ibu. Aku seperti di dunia baru dan aku hampir lupa dengan kejadian sedihku.
Sebuah sms masuk ke HP ku
Sha, mama mu masuk rumah sakit dua hari lalu, sekarang tubuhnya stroke pulang dulu
Aku bingung siapa pengirim sms itu, aku meneleponnya
Halo ini siapa?
Kamu lupa sama aku
Hei Koko
Ya, apa kabar
Baik
Mama ku stroke, kemarin aku dan Lala ke sana
Lalu?
Ya pulang lah
Kayaknya nggak Ko
Loh gimana sih?mama mu menyebut nama mu
Aku nggak peduli Ko
Kemudian kututup telepon.
Sapa yang stroke dik? Tanya ibu
Nggak ada bu
Dik, jangan bohong sama Ibu
Aku segera ke kamar dan menutup pintu
Dik Ibu mau ngomong
Aku membukakan pintu
Dik kalau memang mama mu sakit pulang dulu sana
Nggak bu
Aku masih menangis
Ntar mas Hendra antar
Nggak mau
Dik siapa pun orang yang pernah dekat mu itu orang-orang yang dipilih untuk kamu, jadi kamu harus hormat.
Aku menangis dan memeluk ibu
Meskipun kamu masih terus bertanya pada siapa kamu patuh, jawabnya semua orang dik, bukan pada orang yang melahirkan kamu saja toh?
Sapaan lembut itu meluluhkan hatiku, akhirnya keesokan pagi aku pulang ke rumah.
Sebelum masuk rumah aku menatap sekeliling aku nggak mau ketemu papa tiriku yang gila itu, setelah ku rasa aman, aku masuk ke rumah aku hampir pingsan melihat mama di kursi roda, sedang menghadap ke dinding, yang dilihatnya adalah fotoku. Air matanya terus mengalir, bahkan tangan kanannya sudah tidak dapat digerakkan, air liurnya mengalir dengan deras, aku tidak tahan, segera aku berlari memeluk mama. Mama pun sangat tekejut namun senyum nya melebar , senang meski air matanya mengalir terus
Mama sendiri
He ma diri ya gila rang la (ya mama sendiri, dasar orang gila dia maksudnya papa tiriku)
Kemudian mama menangis keras, dia menceritakan papa tiriku, meninggalkan mama pergi ke luar negeri, dan hal yang membuat mama makin menangis dan hampir pingsan, kalau aku dipaksa oleh papa tiriku untuk nafsu bejadnya, lalu aku segera menyudahi dia bercerita. Mama aku ajak istrihat, namun mama tetap memegang tanganku erat.
Ngan gi ya (jangan pergi ya)
Mama pesan agar aku jangan pergi, air mataku memgalir, selama mama tidur aku di sebelahnya, namun pegangan tangannya terus memegangku, aku takut dia capek, ingin ku gerakkan tangannya yang memeluk erat tangan ku, namun dia pun terasa. Akhirnya sampai pagi aku tidur dengan mama.
Matahari sudah masuk ke kamar mama, sinarnya menyinari ruangan itu, aku pun terbangun. Ketika aku bangun aku lihat mama masih tetap tidur nyenyak, segera ku lepaskan tanganku namun aku melihat kejanggalan, mama seperti tidak bergerak, aku segera membangunkan
Ma, udah pagi, bangun yuk
Namun tak kulihat reaksinya,
Ma, ma bangun
Aku terus menggerakkan, akhirnya aku histeris sendiri, memanggil tetangga rumah, beberapa tetangga masuk dan semua tetangga menyatakan mama sudah meninggal, aku tidak rela lalu kami bawa ke rumah sakit, mama tidak bisa tertolong, perkiraan dokter mama meninggal pukul 24.00. Aku hanya bisa menangis dan pasrah. Aku menghubungi Ibu dan mas Hendra.
Aku belum sempat berbuat apa-apa untuk mama, aku masih termenung di depan jenasah mama, kemudian mas Hendra memberikan dua lembar kertas.
Tadi mas lihat di dapur
Aku membacanya perlahan, aku mulai menangis dan ibu memelukku, mama curhat pada lemabr kertas itu,
Mama belum bisa buat apa-apa untuk Shabrina, Sha pasti kamu sedih dengan ulah papa tiri mu
Maafin mama, Sha kamu terlalu lelah dengan hidup mama yang berantakan, mama tahu kalau
Mama mabuk kamu yang bawa ke kamar. Mama nggak perlu kasih tahu siapa mama yang melahirkanmu, dah yang pasti kamu anak mama.
Mama juga terlalu tidak suka dengan ibu, karena ibu mu bisa meluluhkan kamu sedangkan mama, orang tua nggak tahu diri. Tapi mama harus akui ibu mu luar biasa.
Sayang..maafin mama
Aku tidak tahan membacanya aku menangis histeris dan aku tidak tahu kalau aku tidak sadarkan diri, setelah sadar ibu menenangkan aku
Bu aku nggak hormat sama mama
Dah dik jangan nangis ya
Hari ini adalah dua bulan mama pergi, akhirnya ku putuskan tinggal bersama ibu
Dik kamu seperti beda ya
Apanya bu
Belum saja aku selesai bicara, aku mual dan ke kamar mandi
Knapa dik? Masuk angin
Ga bu
Kamu kenapa?
Dah satu bulan terlambat haid
Dah sekarang kita periksa
Hari itu adalah awal dari hidup ku yang makin tidak karuan, aku hamil. Aku berjalan terus mengahadapi hari-hari, aku harus hamil anak dari papa tiriku. Ibu selalu menyemangatiku, aku tetap menjaga kehamilanku, pernah suatu kali aku mau mau menggugurkan kandungan itu, lagi-lagi Ibu mengingatkanku. Anak itu lahir tanpa bapak, aku harus terima dengan lapang dada. Ibu dan mas Hendra menerimaku dan anak ku dengan senang.

belaian

KEMBALIKAN ASA KU
Belaian angin malam itu membuatku terbuai, baru dua minggu aku tidak bersama Kikan. Kikan mendapat kesempatan belajar dari kantornya. Serasa sepi hatiku, Andre mengajak untuk nongkrong di kafenya malam ini. Aku tolak, jujur aku sungguh rindu pada Kikan. Sempat tuk berpikir ke rumah Linda, teman kuliah ku dulu, kudengar dia masih jomblo. Apakah malam ini akan segera ke sana ya, belum saja rambut ku rapikan, dering suara Hpku berbunyi,
Astaga Kikan
Halo Bim, lagi apa?
Lagi di kamar saja, tidur-tiduran
Loh nggak jadi nongkrong di kafe Andre?
Nggak
Aku lagi buat tugas neh, tapi tiba-tiba kangen kamu
Suara merajuk Kikan tak dapat kubendung, sungguh aku rindu dia
Aku juga Kan
Oh gitu, sama dong
Malam itu kami berbagi cerita, kisah menghampiri Linda tidak ku hiraukan, ntah mengapa selama aku berjalan dengan Kikan selalu saja ada hal yang membuat aku untuk tidak selingkuh, sewaktu aku bertengkar dengan Kikan tentang kiriman bunga mawar untuknya, aku cemburu. Setelah kejadian itu aku mencoba mendekati Kristin, dia teman kantor ku yang baik dan cantik. Beberapa kali kami jalan, sekedar menonton di bioskop, namun suatu ketika SMS ku seharusnya untuk Kristin nyasar ke Kikan, luar biasa dia marah, dan aku mencoba menjelaskan. Di saat seperti itu aku tidak bisa mengelak lagi kalau aku salah.
Kejadian itu pun sama dengan hal ini, atau ini pertanda agar aku tidak selingkuh. Kikan sudah sangat baik, buatku dan keluarga, betapa tidak Mama sebelum meninggal sempat dirawat di rumah sakit, karena kangker payudara. Mama dirawat dengan kasih oleh Kikan, maklum aku tak punya saudara perempuan, yang ku punya dua adik laki-laki. Kikan sampai sering membolos kuliah, karena dia peduli pada almarhumah mama. Meski kini mama telah pergi untuk selamanya.
Malam itu aku belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama, aku harus belajar menunggu Kikan. Rencana ku dan Kikan, setelah dia kembali dari tugas belajar kami akan menikah.
Aku sungguh menunggu moment itu Kan
Bisik ku dalam hati, seraya berdoa agar cinta kami akan abadi.
Siang ini terasa lelah sekali, pekerjaan menumpuk dan data-data harus di kirimkan segera, sambil sesekali ku amati layar komputer, mungkin saja Kikan akan kirim kabar
Hai say, sibuk ya
Lalu ku balas
Ya, lumayan
Ya udah ntar aja Kikan ngomongnya
Ga apa-apa, Kikan mau bilang apa?
Kikan besok terbang ke Jakarta
Ha? Yang bener kan
Ya, pak Samuel minta aku kembali sementara ke Jakarta, ada tugas yang harus aku kerjakan
Oh ya…surprise dong untuk ku
Hehehe aku rindu kamu Bim
Aku juga honey…
Percakapan di chating harus disudahi , karena tugasku menumpuk. Segera ku kerjakan tugas-tugas dengan penuh semangat, aku senang kalau Kikan akan kembali ke Jakarta, entah dua hari atau sampai kapan pun akan aku gunkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Hai Kikan aku rindu kamu
Kami berpelukan di bandara, aku begitu kangen dengan dia, demikian pula dengan Kikan.
Kami segera menuju rumah Kikan, sesampai di rumah Kikan, Kikan disambut dengan hangat dengan keluarganya. Malam itu aku menikamti makan bersama dengan keluarga Kikan.
Hari ini sepulang kerja aku akan mempersiapkan acara untuk aku dan Kikan, Kikan akan ku ajak makan nasi goreng kesukaannya, di Jalan Merdeka, wah pasti dia senang sekali.
Ternyata benar, Kikan senang sekali kalau aku ajak dia. Kami menikamti makan malam yang luar biasa dan indah sekali. Rasanya aku tidak rela kalau Kikan akan kembali ke Singapura untuk belajar.
Di sana pasti cowok-cowoknya ganteng ya Kan
Ye, kamu cemburu ya, kamu tetep yang ganteng
Kami tertawa dan bercanda ria, tidak lupa kami menikamti es krim, kesukaan Kikan. Kikan suka dengan es krim rasa cokelat. Betapa bahagia mengingat perkenalanku dengan Kikan. Kami sama-sama tidak tahu kalau kami satu kampus, waktu itu ada acara bazaar di sebuah tempat, kami panitia, lama aku ketahui kalau Kikan satu kampus denganku, meski lain jurusan. Kami kemudian dikenalkan oleh teman Kikan, awalnya kami masih biasa, karena tidak ada perasaan apa-apa. Kemudian, suatu kali aku bermain ke rumahnya dan ingin aja menyatakan cinta pada Kikan, ditolak pun sudah nasib, pikirku waktu itu. Tidak tahunya Kikan pun suka padaku. Akhirnya kami jadi hingga saat ini.
Saat yang aku tidak inginkan saat Kikan harus kembali ke Singapura, aku mulai lemas dan tak bertenaga. Serasa separuh nafasku kabur, entah ke mana.
Mulai hari-hari aku lalui sendiri dan terus mendekam sepi, sesekali Reno ajak aku ke diskotek, namun tetap saja aku tidak merasa terhibur. Karena pasti pulang-pulang akan mabuk.
Aku mulai bingung karena Kikan sudah tiga hari tidak memberi kabar, mungkin dia sibuk. Sudah ku coba meneleponnya namun nada sibuk selalu saja terdengar. Jika aku chating pun tetap tak ada balasannya.
Hingga suatu ketika Kikan memberi kabar, katanya dia sehat-sehat saja dan sedang sibuk dengan tugas kuliah.
Bulan ini aku semakin terasa hampa, Kikan sudah sibuk dengan dunianya. Aku bingung akan lari ke mana, aku berencana mengunjungi Kikan ke Singapura, namun Kikan menolak, karena sedang sangat sibuk dan padat. Aku mulai hilang semangat, bahkan kali ini kali ke dua akhirnya aku ke diskotek, aku bingung harus bagaimana.
Bim, aku akan kembali ke Jakarta
Ucap Kikan suatu hari di telepon
Aku rindu kamu juga kan, ada acara apa ke Jakarta, kangen aku Kan
Ada yang aku harus bereskan
Aku mulai bingung akan kata- kata Kikan namun aku pikir dia rindu padaku.
Hari ini dengan gembira ku menjemput Kikan di bandara, hati ku deg-deg an maklum sudah dua bulan tidak bertemu dengan Kikan.
Alangkah terkejutnya aku melihat Kikan digandeng dengan seorang pria, aku mulai bertanya apakah pria itu saudara Kikan atau… aku terdiam kaku, lalu Kikan menghampiriku
Hai, Bim
Hai
Sapaku lemah
Jer, ini Bimo
Jeremi
Bimo
Aku datang ke Jakarta untuk menggelar acara pernikahan kami Bim.
Kalimat itu serasa memecahkan gendang telingaku, ntah aku menginjak tanah atau tidak saat itu. Aku belajar tegar mendengar kalimat dari Kikan.
Aku harus belajar untuk pasrah pada semua kejadian ini, betapa tidak tekad ku sudah bulat akan mengajak Kikan menikah namun Kikan lebih memilih orang lain. Belakangan ku ketahui, Kikan dapat kesempatan belajar di Singapura, karena mertuanya. Agar Kikan dapat berkenalan dengan anak bosnya, maka Kikan diajak untuk sekolah ke Singapura. Betapa aku harus menerima kenyataan yang menurutku tak dapat ku terima. Bahkan Kikan tak memberikan sedikit pun alasan mengapa memilih pria itu.
Mendung itu bergelayut di hati, terus kucari makna cinta sesungguhnya, entah kapan waktu akan berdamai dengan ku. Kini aku memilih bekerja di suatu tempat yang jauh dari semuanya. Aku meilih bekerja di Medan, aku tutup semua kenangan dengan Kikan, bahkan suara riak air di kolam malam ini tak membuat hatiku akan menangis. Karena hidup bukan hari ini saja. Tapi ada hari esok.

terperangkap

TERPERANGKAP KAH AKU?
Siang itu aku hadir di ruang kecil, panas, dan tak ada lubang angin besar.Hanya sesekali aku lihat sinar stitik. Penat dan aku benar-benar ingin ke luar. Kali ini bukan seperti dua hari yang lalu aku bisa pergi ke mall atau nonton di bioskop. Sesekali ku pandang ke luar langit mulai mendung, apakah akan turun hujan?
Ketukan pintu di depan membuatku semakin pusing,hari ini aku berjanji pada Ela, kalau aku mau bantu dia mencarikan data-data di perpustakaan pusat, tetang penelitiannya. Judulnya itu yang aku nggak nguatin “Pentingnya Mengosongkan Jiwa”, jiwa ku aja begini apa lagi dikosongkan. Belum saja selesai omelan hatiku, kemudian ku buka pintu, sesaat aku terdiam bisu menatap tamu yang datang, buka Ela, itu yang kubingungkan
Ada Intan nya? Tanya sang tamu
Aku tersadar seperti terbius lokal
Oh ada silakan masuk
Si tamu segera duduk dan aku bergerak ke belakang memanggil Intan
Aku masih terdiam di kamar, apakah Ela membatalkan ajakkannya, belum saja pertanyaan ku usai, HP ku berbunyi
Sef, aku nggak jadi ke pepustakaan ya
Kenapa non? tanyaku heran
Biasa, tiba-tiba Mas Gusti minta ditemenin ke bioskop
Dasr lu, ga bisa nolak sama pacar lu, padahal tugas itu kan penting, tapi terserah lu penting ga nya kan di kamu, jelasku panajang lebar
Ya mau gimana lagi, oce c u Sef
Dasar wanita apa itu saja masalahnya kalau sudah diajak ke tempat tertentu akan mau, kemudian menomor seratuskan yang lain, sudah ah toh itu urusan Ela. Maklum Ela baru jadian ama pacarnya. Aku segera beranjak ke rak buku di bagian depan ruang tamu, belum saja aku tuntas mencari, aku memandang seorang pria duduk terdiam, pikirku bukan kah ini tamu adik nya Intan, mengapa belum pulang, masih di sini?
Intannya belum nemuin kamu?
Sudah kok mbak, tapi Intan lagi cari bukunya di dalam
Oh, silakan diminum airnya, aku sedikit canggung
Pria itu masih terdiam di depan sebuah buku, aku masih mencari buku yang kuperlukan, dari sisi kiri, kanan, atas, dan bawah tidak ku temukan
Cari buku ini mbak?
Aku melirik ke pria itu
Ya bener
Oh ini mbak, buku itu dijulurkan padaku
Mbak suka baca buku ini?
Ya, kalau kamu?
Aku Rinto, pria itu mengenalkan diri
Ya saya, Sefina
Ya begitu lah saya sambil ngajar meneliti juga
Oh gitu mbak
Kamu teman kerja Intan?
Nggak mbak, sepupu saya teman dekat Intan
Oh, gitu
Aku masuk ke dalam ya, pamitku
Ya mbak
Lama sudah perkenalanku dengan Rinto, suatu ketika aku berjalan di koridor kampus aku berpapasan dengan Rinto, kami mulai berbincang dan akrab tidak seperti sebelumnya. Rupanya sepupu Rinto pacar Intan adikku. Rinto rupanya seorang dokter yang lagi meneliti juga. Sehingga beberapa kali dia ke kampus untuk sekedar melihat perkembangan dunia kampus, serta mengumpulkan data.
Sering kali aku abaikan tugas ku yang lain, sambil aku mengajar di kampus, aku membantu temanku untuk mengajar di SD. Aku banyak belajar dari dunia anak,meski aku hanya dua hari di SD, namun aku temukan dunia kepolosan, yang jujur, dan menyapaku apa adanya. Pernah suatu ketika Geo anak kelas 4 A tidak mengaerjakan PR, kuberi tugas tambahan, kemudian dia tidak mengerjakan, sampai berkali-kali tugas kuberi namun diabaikannya, lalu aku berkata, dari ke hati. Aku lebih takjub Geo mau mencoba mengerjakannya satu per satu, betapa seorang Geo, ku kira dia benar-benar mengabaikannya. Aku belajar bersabar dan bersabar, bayangkan biasanya aku mengahadapi mahasiswa yang sudah besar dan harus tanggung jawab dengan nilainya,s ekarang harus aku yang benar-benar turun tangan.
Bahkan suatu ketika ada seorang anak marah padaku dikira aku membela temannya, dia benar-benar kesal padaku, aku juga sedikit cuek, karena buatku birakan saja dia demikian. Keesokan harinya dia normal dan kembali tertawa. Anak-anak tetap anak-anak dia mau melupakan apa yang telah berlalu. Bahkan ketika mereka bertengkar dan saling menangis satu hari saja namun hari kemudian aku menatap tawa mereka bahkan gandengan tangan dengan teman- teman mereka.
Aku menyukai duniaku saat ini, namun sering kali juga aku hampir bosan berkutat pada itu-itu saja, sesekali menonton bioskop meski sendiri aku jalanai walau kata Ria temanku terkesan garing dan tidak enak.
Pernah dua tahun yang lalu aku masuk pada dunia kerja berbeda dengan dunia pendidikan, sehari saja aku masuk kemudian aku ke luar. Aku pikir bisa seperti Intan adikku, jurusan komunikasi bisa masuk kerja ekspor-impor, padahal jauh sekali, namun tidak bisa disamakan seperti aku.
Suatu ketika aku masih di gerbang sekolah tempat ku mengajar, baru saja aku mau ke luar aku berjumpa dengan Rinto
Loh mbak ngajar di sini juga?
Ya dan kamu?
Ponakan ku sekolah di sini
Oh begitu
Namun belum ke luar nih, gimana kalau kita minum di kantin?
Oh boleh
Lama kami berbincang-bincang, semua tugas Rinto dan apa tugasku. Bahkan sebutan mbak buatku mulai dihapusnya, nama ku sudah berani disebut. Ya kami mulai akrab. Sama seperti teman-teman yang lain.
Suatu hari ada rangkaian bunga di depan rumahku, ku baca untuk ku
Dari Rinto
Selamat ulang tahun ya, suskes
Aku terkejut, karena hanya Rinto yang mengucapkan kata itu, oraang-orang rumah saja belum ngucapin. Aku masih bergerak ke kampus, di kampus pun tak ada suasana meriah dan gembira mengucapkan selamat ultah, berbeda dengan Beti teman ku ultah semua ruangan dihiasi dengan ucapan selamat. Namun aku senyap, namun aku cuek dan melakukan aktivitas ku Ucapan dari Rinto pun hanya lewat bunga. Ya sudah ku pikir.
Aku pulang sedikit malam, aku tidak menemukan siapa pun, menurut pesan mama, Intan, dan papa lewat sms tadi siang ,mereka ada tugas di luar, sehingga pulang larut malam. Sesudah aku mandi segera kusetel televisi, namun aku mendengar suara agak aneh dari luar, atau kah ada pencuri?tahu aku sendiri jadi diserang ku pikir, suara televisi ku kecilkan, namun hatiku makin dag dig dug. Aku memberanikan membuka pintu dan memegang sebuah kayu. Baru saja aku buka pintu, kemudian
Selamat ulang tahun kami ucapkan….
Lagu itu meriah dinyanyikan oleh murid-muridku, papa, mama, Intan, dan Rinto, sambil membawa kue tart, aku bahagia sekali rupanya mereka membuat kejutan. Mereka semua memelukku dan mengucapkan selamat, tak ketinggalan Rinto, dia paling malu, karena agak sulit memluk orang yang belum ku kenal. Tetapi kecupan di pipi diberikan Rinto padaku, dan bisikan selamat ucapan selamat ulang tahun yang kedua di ucapkannya. Malam itu membuatku sangat berbeda, tidak seperti di dalam ruang pengap. Seperti di alam bebas yang aku bisa tumpahkan, rupanya dunia ku nggak sempit, seperti aku pikirkan. Duniaku semakin ramai dan riuh apalagi sejak Rinto memutuskan untuk bertunangan denganku, ya, bulan depan kami akan bertunangan. Aku putuskan untuk tidak kembali ke kampus, aku lebih memilih mengajar anak-anak SD. Dunia ku tambah semarak dan pasti indah.

Senin, 04 Mei 2009

ini martha punya

nama : lengkap Martha Yuliana Simamora
alamat: modernland ,Tangerang
lampung?jalan mawar 1 no.39,,,kabupaten Pringsewu
anak ke 2 dari 5 bersaudara
cita2?hahahaha
makanan kesukaan pecel, cokelat, es krim hehehe
oce apa lagi
nah ayo bacaaaaa