MIMPI INDAH
Telepon berdering, lalu kuangkat
“sapa neh?”
“ aku, kamu lupa?”
“ sapa ya”
“ Bisto”
“ Eh kamu”
“ Lagi apa De?”
“ Lagi makan neh mau berangkat kerja”
“ Oh gtu”
“kamu ga kerja”
“ Ini juga mau berangkat”
“ Oke deh sukses ya, bye…”
“ Bye…”
Ku langkah kan kaki ku menuju ruangan kerja, sepucuk surat ada di mejaku.
Pagi yang cerah dengan senyum yang merekah
Menyambut senyum manismu
Biarlah asa ada hari ini
Memberi hidup semakin berarti
Siapa nih orang di pagi hari puitis sekali, aku hanya bisa tersenyum. Meski lelah hari ini aku terus melakukan aktivitas ku, sesekali kuteguk air di depan ku. Hidup jomblo terkadang menyenangkan, meski kadang ingin juga jalan bareng pacar. Tetapi bagiku kalau saat ini jomblo ya sabar aja. Serasa hampa juga tanpa kekasih 2 tahun sudah aku menjomblo, menurut ku kalau sudah bertambah usia seperti saat ini harus berpikir juga tentang pasangan hidup. Biarlah menunggu waktu yang tepat.
Hari ini banyak barang yang harus aku kirim ke Singapura, temanku bagian pendataan tidak masuk kerja. Sekarang mulai perlahan-lahan tugas-tugas ku hampir selesai, karena waktu mendekati jam makan siang.
Makan siang kali ini sangat menyenangkan betapa tidak ayam goreng kesukaanku disuguhkan bersama sayur asem kesukaan ku. Sewaktu aku menikmati makan siang di depan ku, tanpa sengaja aku melihat sesosok pria dari kejauhan, sepertinya aku kenal. Beberapa saat aku menatap dia sambil mengingat siapa pria itu. Pria itu menatapku namun segera beranjak dari rumah makan tempat aku nikmati makan siang. Tetap kuteruskan makan siangku meski bertanya siapakah pria tersebut, namun segera kutepiskan, karena tugas-tugas menunggu.
Sepulang kerja segera aku mandi dan terasa segar, setelah mandi aku menikmati segelas jus mangga di meja, sewaktu aku akn menyetel telivisi, mataku menangkap sebuah tumpukan album, segera ku tarik album tersebut dan mulai ku pilih chanel telivisi di depanku. Selagi aku melihat foto-foto kenangan SMA, kutemukan sesosok pria yang kutemui tadi siang. Baru lah aku ingat dia adalah Rei, temanku waktu SMA, dia pernah ikut Osis bersamaku waktu itu. Tetapi apakah dia hanya sekedar lewat saja atau memang makan siang selalu di tempat itu. Terus saja malam itu aku berpikir dengan Rei, ya jika jodoh aku akan ketemu lagi, sambil aku menyeriangai.
Mulai dari kenangan bakso hingga mencari dana lewat mencuci mobil waktu itu kami lakukan, setiap aku pulang larut malam, pasti Rei yang mengantar, karena mamku dah kenal dengan Rei. Bahkan Sasa teman sekelas nggak berani mengungkapkan cinta pada Rei , karena dilihat aku dan Rei sudah pacaran, padahal hingga lulus SMA kami tidak pacaran, ntah juga Rei tidak cerita apa adanya tentang kami.
Siang ini aku makan di tempat biasa berharap Rei muncul. Terus ku lihat jam di pergelangan tanganku, kemudian tiba-tiba muncul dari pintu masuk beberapa pria ingin memesan makanan, tampak diantara mereka Rei, betapa senang dan bergetar hatiku. Kuberanikan diri memanggil salah seorang dari mereka
“Rei”
Salah seorang dari mereka menoleh ke arah ku, beberapa saat pria itu terdiam ingin mengingat
“Lupa dengan ku Rei, aku Lusi”
“hei Lusi”
Sesaat kami berjabat tangan dan tertawa bersama, kemudian aku ikut gabung makan dengan teman-teman Rei, aku juga diperkenalkan dengan teman-teman kantornya.
Beberapa kali kami sudah jalan, tetapi aku belum tahu apakah Rei sudah berkeluarga atau belum, terus kami nikmati setiap pertemuan.
Suatu kali kami bertemu di café dekat kantor,tanpa sengaja ada seorang anak mendekati Rei dan memanggilnya dengan sebutan papa, kemudian disusul seorang wanita separuh baya. Rei menyambut anak itu dengan sayang sekali. Aku sedikit resah apakah ini jawannya Rei sudah menikah. Sesaaat wanita itu akrab dengan Rei, hampir saja aku tidak dikenalkan dengan wanita itu.
“ Mbak Mulan ini temanku”
“ Lusi”
“Mulan”
“Mbak Mulan masih saudara sepupu, anaknya saking dekat menyapa ku papa”
Sesaat kalimat itu yang kutunggu, terjawablah sudah kegundahanku. Siapa anak kecil dan wanita itu.
Keakraban ku dengan Rei mulai sangat erat, bahkan Rei sudah ku ajak dalam beberapa acara keluarga, sebenarnya aku ingin bertanya siapa pacarnya sekarang, mengapa setiap ajakan ku dia menuruti nya.
Suatu kali aku bertanya dan jawaban Rei hanya senyum dan mengalihkan pada pembicaraan lain. Selalu tak ku temukan jawaban dari Rei. Suatu kali kuuji dengan, memperkenalkan dengan seorang temanku cantik dan terpelajar, tetapi lagi-lagi dia biasa aja, bahkan beberapa hari kami tidak berkomunikasi, tetapi Rei mencari kabar tentang aku. Kalo aku pkir dia suka nanti aku yang ke GR an, tatapi biarlah kubiarkan saja.
Suatu kali kami mengikuti reuni teman-teman SMA, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Rei dengan Boby, kalau Rei sedang pedekate dengan ku, jantung ku serasa mau copot. Ada rasa senang dan penasaran, mengapa Rei tidak menceritakan padaku. Biarlah aku menunggu Rei berkata itu.
Hari ini ada salah satu teman yang menikah, pesta nya dilakukan di tempat terbuka di sebuah taman yang luas. Pastinya aku dan Rei ikut dalam acara tersebut, kami berdua berangkat bersama. Sesampai di sana kami bertemu dengan teman SMA yang jadi primadona di sekolah, Rei kemudian lebih asik berdua dengan Frederika sang primadona, aku kemudian bergeser ke arah teman yang lain, sambil ku lirik Rei, betapa dia asik sekali berbicara dengan Rika. Kunikmati jamuan makan malam sendiri, karena yang lain sudah memiliki pasangan. Rasanya aku merasa sendiri di dunia ini, aku ingin segera pamitan dengan Rosa sang pengantin. Aku ingin segera melangkahkan kaki pulang , kemudian Rei menarik tanganku.
“ Tunggu dulu mau ke mana?”
Sesaat aku mengikuti di sampingnya.
“sori tadi asik ngbobrol dengan Rika”
Aku tetap diam dan berbicara sepatah kata pun
“Tapi aku bukan berarti nyuekin kamu”
Aku tetap diam saja.
“Kamu marah ya, ya sori”
“Ya udah ga pa pa, kamu makan dulu sana”
“OK deh kamu nemenin aku ya”
Beberapa saat suasana normal kembali tanpa mengingat kejadian sebelumnya.
Hari ini merupakan hari ke 100 pertemananku dengan Rei ntah sampai kapan kami akan di posisi seperti ini. Aku melihat kesungguhan Rei, dari mengenal mama, Deri adikku. Aku pun juga mengenal keluarganya. Keluarganya sangat ramah, sudah seringkalai aku diajak bergabung dengan keluarganya, misalnya makan malam dan piknik bersama.
“ Si, ntar malam aku jemput ya”
“Ada acara apa?”
“ Mbak Mulan mau ke Amrik terus kamu dan mamamu juga diundang”
“Oh gitu”
“Siap-siap ya jam 19.00”
Aku mengiyakan percakapan di telepon siang ini dengan Rei.
Malam ini aku diajak Rei untuk makan malam dengan keluarganya.
Sesampai di sana mama dan aku disambut dengan ramah, sewaktu aku menuju toilet, Rei memanggilku.
“kamu penasaran kan dengan status hubungan kita?”
Aku makin bingung apa yang mau dibicarakan Rei
“ya maksudku kamu masih bingungkan dengan hubungan kita?”
“Ah kamu ngaco neh”
“malam ini akan terjawab kok”
Kemudian aku masuk toilet, apa maksud Rei tadi, ke luar dari toilet aku semakin resah.
“jadi maskud kami mengundang Ibu dan Lusi “
“Yaitu menguatkan hubungan Lusi dengan anak kami Rei”
Beberapa saat aku terdiam seperti tersedak makanan.
“memang seperti mengejutkan, tetapi sepertinya waktunya sudah tepat”
“ Bagaimana ibu dan Lusi”
“ Kalau saya mengikuti apa kata Lusi saja bu”
Aku masih diam menunduk, Rei menatapku dengan berharap
“Kalau Lusi sendiri?”
Aku masih diam membisu.
“Jika Lusi ya, malam ini Rei akan memberikan cincin tunangan” Ibunya Rei mengeluarkan dua buah cincin.
Sesaat air mataku menetes, Rei memberikan sehelai tisyu, aku hanya bisa mengangguk. Kemudian Rei menyematkan cincin di jari manis ku, kemudian disusul tepuk tangan keluarga. Ntah malam ini menjadi malam terindah dan malam jawaban dari semua ini.
Selasa, 20 Januari 2009
MIMPI INDAH
Telepon berdering, lalu kuangkat
“sapa neh?”
“ aku, kamu lupa?”
“ sapa ya”
“ Bisto”
“ Eh kamu”
“ Lagi apa De?”
“ Lagi makan neh mau berangkat kerja”
“ Oh gtu”
“kamu ga kerja”
“ Ini juga mau berangkat”
“ Oke deh sukses ya, bye…”
“ Bye…”
Ku langkah kan kaki ku menuju ruangan kerja, sepucuk surat ada di mejaku.
Pagi yang cerah dengan senyum yang merekah
Menyambut senyum manismu
Biarlah asa ada hari ini
Memberi hidup semakin berarti
Siapa nih orang di pagi hari puitis sekali, aku hanya bisa tersenyum. Meski lelah hari ini aku terus melakukan aktivitas ku, sesekali kuteguk air di depan ku. Hidup jomblo terkadang menyenangkan, meski kadang ingin juga jalan bareng pacar. Tetapi bagiku kalau saat ini jomblo ya sabar aja. Serasa hampa juga tanpa kekasih 2 tahun sudah aku menjomblo, menurut ku kalau sudah bertambah usia seperti saat ini harus berpikir juga tentang pasangan hidup. Biarlah menunggu waktu yang tepat.
Hari ini banyak barang yang harus aku kirim ke Singapura, temanku bagian pendataan tidak masuk kerja. Sekarang mulai perlahan-lahan tugas-tugas ku hampir selesai, karena waktu mendekati jam makan siang.
Makan siang kali ini sangat menyenangkan betapa tidak ayam goreng kesukaanku disuguhkan bersama sayur asem kesukaan ku. Sewaktu aku menikmati makan siang di depan ku, tanpa sengaja aku melihat sesosok pria dari kejauhan, sepertinya aku kenal. Beberapa saat aku menatap dia sambil mengingat siapa pria itu. Pria itu menatapku namun segera beranjak dari rumah makan tempat aku nikmati makan siang. Tetap kuteruskan makan siangku meski bertanya siapakah pria tersebut, namun segera kutepiskan, karena tugas-tugas menunggu.
Sepulang kerja segera aku mandi dan terasa segar, setelah mandi aku menikmati segelas jus mangga di meja, sewaktu aku akn menyetel telivisi, mataku menangkap sebuah tumpukan album, segera ku tarik album tersebut dan mulai ku pilih chanel telivisi di depanku. Selagi aku melihat foto-foto kenangan SMA, kutemukan sesosok pria yang kutemui tadi siang. Baru lah aku ingat dia adalah Rei, temanku waktu SMA, dia pernah ikut Osis bersamaku waktu itu. Tetapi apakah dia hanya sekedar lewat saja atau memang makan siang selalu di tempat itu. Terus saja malam itu aku berpikir dengan Rei, ya jika jodoh aku akan ketemu lagi, sambil aku menyeriangai.
Mulai dari kenangan bakso hingga mencari dana lewat mencuci mobil waktu itu kami lakukan, setiap aku pulang larut malam, pasti Rei yang mengantar, karena mamku dah kenal dengan Rei. Bahkan Sasa teman sekelas nggak berani mengungkapkan cinta pada Rei , karena dilihat aku dan Rei sudah pacaran, padahal hingga lulus SMA kami tidak pacaran, ntah juga Rei tidak cerita apa adanya tentang kami.
Siang ini aku makan di tempat biasa berharap Rei muncul. Terus ku lihat jam di pergelangan tanganku, kemudian tiba-tiba muncul dari pintu masuk beberapa pria ingin memesan makanan, tampak diantara mereka Rei, betapa senang dan bergetar hatiku. Kuberanikan diri memanggil salah seorang dari mereka
“Rei”
Salah seorang dari mereka menoleh ke arah ku, beberapa saat pria itu terdiam ingin mengingat
“Lupa dengan ku Rei, aku Lusi”
“hei Lusi”
Sesaat kami berjabat tangan dan tertawa bersama, kemudian aku ikut gabung makan dengan teman-teman Rei, aku juga diperkenalkan dengan teman-teman kantornya.
Beberapa kali kami sudah jalan, tetapi aku belum tahu apakah Rei sudah berkeluarga atau belum, terus kami nikmati setiap pertemuan.
Suatu kali kami bertemu di café dekat kantor,tanpa sengaja ada seorang anak mendekati Rei dan memanggilnya dengan sebutan papa, kemudian disusul seorang wanita separuh baya. Rei menyambut anak itu dengan sayang sekali. Aku sedikit resah apakah ini jawannya Rei sudah menikah. Sesaaat wanita itu akrab dengan Rei, hampir saja aku tidak dikenalkan dengan wanita itu.
“ Mbak Mulan ini temanku”
“ Lusi”
“Mulan”
“Mbak Mulan masih saudara sepupu, anaknya saking dekat menyapa ku papa”
Sesaat kalimat itu yang kutunggu, terjawablah sudah kegundahanku. Siapa anak kecil dan wanita itu.
Keakraban ku dengan Rei mulai sangat erat, bahkan Rei sudah ku ajak dalam beberapa acara keluarga, sebenarnya aku ingin bertanya siapa pacarnya sekarang, mengapa setiap ajakan ku dia menuruti nya.
Suatu kali aku bertanya dan jawaban Rei hanya senyum dan mengalihkan pada pembicaraan lain. Selalu tak ku temukan jawaban dari Rei. Suatu kali kuuji dengan, memperkenalkan dengan seorang temanku cantik dan terpelajar, tetapi lagi-lagi dia biasa aja, bahkan beberapa hari kami tidak berkomunikasi, tetapi Rei mencari kabar tentang aku. Kalo aku pkir dia suka nanti aku yang ke GR an, tatapi biarlah kubiarkan saja.
Suatu kali kami mengikuti reuni teman-teman SMA, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Rei dengan Boby, kalau Rei sedang pedekate dengan ku, jantung ku serasa mau copot. Ada rasa senang dan penasaran, mengapa Rei tidak menceritakan padaku. Biarlah aku menunggu Rei berkata itu.
Hari ini ada salah satu teman yang menikah, pesta nya dilakukan di tempat terbuka di sebuah taman yang luas. Pastinya aku dan Rei ikut dalam acara tersebut, kami berdua berangkat bersama. Sesampai di sana kami bertemu dengan teman SMA yang jadi primadona di sekolah, Rei kemudian lebih asik berdua dengan Frederika sang primadona, aku kemudian bergeser ke arah teman yang lain, sambil ku lirik Rei, betapa dia asik sekali berbicara dengan Rika. Kunikmati jamuan makan malam sendiri, karena yang lain sudah memiliki pasangan. Rasanya aku merasa sendiri di dunia ini, aku ingin segera pamitan dengan Rosa sang pengantin. Aku ingin segera melangkahkan kaki pulang , kemudian Rei menarik tanganku.
“ Tunggu dulu mau ke mana?”
Sesaat aku mengikuti di sampingnya.
“sori tadi asik ngbobrol dengan Rika”
Aku tetap diam dan berbicara sepatah kata pun
“Tapi aku bukan berarti nyuekin kamu”
Aku tetap diam saja.
“Kamu marah ya, ya sori”
“Ya udah ga pa pa, kamu makan dulu sana”
“OK deh kamu nemenin aku ya”
Beberapa saat suasana normal kembali tanpa mengingat kejadian sebelumnya.
Hari ini merupakan hari ke 100 pertemananku dengan Rei ntah sampai kapan kami akan di posisi seperti ini. Aku melihat kesungguhan Rei, dari mengenal mama, Deri adikku. Aku pun juga mengenal keluarganya. Keluarganya sangat ramah, sudah seringkalai aku diajak bergabung dengan keluarganya, misalnya makan malam dan piknik bersama.
“ Si, ntar malam aku jemput ya”
“Ada acara apa?”
“ Mbak Mulan mau ke Amrik terus kamu dan mamamu juga diundang”
“Oh gitu”
“Siap-siap ya jam 19.00”
Aku mengiyakan percakapan di telepon siang ini dengan Rei.
Malam ini aku diajak Rei untuk makan malam dengan keluarganya.
Sesampai di sana mama dan aku disambut dengan ramah, sewaktu aku menuju toilet, Rei memanggilku.
“kamu penasaran kan dengan status hubungan kita?”
Aku makin bingung apa yang mau dibicarakan Rei
“ya maksudku kamu masih bingungkan dengan hubungan kita?”
“Ah kamu ngaco neh”
“malam ini akan terjawab kok”
Kemudian aku masuk toilet, apa maksud Rei tadi, ke luar dari toilet aku semakin resah.
“jadi maskud kami mengundang Ibu dan Lusi “
“Yaitu menguatkan hubungan Lusi dengan anak kami Rei”
Beberapa saat aku terdiam seperti tersedak makanan.
“memang seperti mengejutkan, tetapi sepertinya waktunya sudah tepat”
“ Bagaimana ibu dan Lusi”
“ Kalau saya mengikuti apa kata Lusi saja bu”
Aku masih diam menunduk, Rei menatapku dengan berharap
“Kalau Lusi sendiri?”
Aku masih diam membisu.
“Jika Lusi ya, malam ini Rei akan memberikan cincin tunangan” Ibunya Rei mengeluarkan dua buah cincin.
Sesaat air mataku menetes, Rei memberikan sehelai tisyu, aku hanya bisa mengangguk. Kemudian Rei menyematkan cincin di jari manis ku, kemudian disusul tepuk tangan keluarga. Ntah malam ini menjadi malam terindah dan malam jawaban dari semua ini.
Telepon berdering, lalu kuangkat
“sapa neh?”
“ aku, kamu lupa?”
“ sapa ya”
“ Bisto”
“ Eh kamu”
“ Lagi apa De?”
“ Lagi makan neh mau berangkat kerja”
“ Oh gtu”
“kamu ga kerja”
“ Ini juga mau berangkat”
“ Oke deh sukses ya, bye…”
“ Bye…”
Ku langkah kan kaki ku menuju ruangan kerja, sepucuk surat ada di mejaku.
Pagi yang cerah dengan senyum yang merekah
Menyambut senyum manismu
Biarlah asa ada hari ini
Memberi hidup semakin berarti
Siapa nih orang di pagi hari puitis sekali, aku hanya bisa tersenyum. Meski lelah hari ini aku terus melakukan aktivitas ku, sesekali kuteguk air di depan ku. Hidup jomblo terkadang menyenangkan, meski kadang ingin juga jalan bareng pacar. Tetapi bagiku kalau saat ini jomblo ya sabar aja. Serasa hampa juga tanpa kekasih 2 tahun sudah aku menjomblo, menurut ku kalau sudah bertambah usia seperti saat ini harus berpikir juga tentang pasangan hidup. Biarlah menunggu waktu yang tepat.
Hari ini banyak barang yang harus aku kirim ke Singapura, temanku bagian pendataan tidak masuk kerja. Sekarang mulai perlahan-lahan tugas-tugas ku hampir selesai, karena waktu mendekati jam makan siang.
Makan siang kali ini sangat menyenangkan betapa tidak ayam goreng kesukaanku disuguhkan bersama sayur asem kesukaan ku. Sewaktu aku menikmati makan siang di depan ku, tanpa sengaja aku melihat sesosok pria dari kejauhan, sepertinya aku kenal. Beberapa saat aku menatap dia sambil mengingat siapa pria itu. Pria itu menatapku namun segera beranjak dari rumah makan tempat aku nikmati makan siang. Tetap kuteruskan makan siangku meski bertanya siapakah pria tersebut, namun segera kutepiskan, karena tugas-tugas menunggu.
Sepulang kerja segera aku mandi dan terasa segar, setelah mandi aku menikmati segelas jus mangga di meja, sewaktu aku akn menyetel telivisi, mataku menangkap sebuah tumpukan album, segera ku tarik album tersebut dan mulai ku pilih chanel telivisi di depanku. Selagi aku melihat foto-foto kenangan SMA, kutemukan sesosok pria yang kutemui tadi siang. Baru lah aku ingat dia adalah Rei, temanku waktu SMA, dia pernah ikut Osis bersamaku waktu itu. Tetapi apakah dia hanya sekedar lewat saja atau memang makan siang selalu di tempat itu. Terus saja malam itu aku berpikir dengan Rei, ya jika jodoh aku akan ketemu lagi, sambil aku menyeriangai.
Mulai dari kenangan bakso hingga mencari dana lewat mencuci mobil waktu itu kami lakukan, setiap aku pulang larut malam, pasti Rei yang mengantar, karena mamku dah kenal dengan Rei. Bahkan Sasa teman sekelas nggak berani mengungkapkan cinta pada Rei , karena dilihat aku dan Rei sudah pacaran, padahal hingga lulus SMA kami tidak pacaran, ntah juga Rei tidak cerita apa adanya tentang kami.
Siang ini aku makan di tempat biasa berharap Rei muncul. Terus ku lihat jam di pergelangan tanganku, kemudian tiba-tiba muncul dari pintu masuk beberapa pria ingin memesan makanan, tampak diantara mereka Rei, betapa senang dan bergetar hatiku. Kuberanikan diri memanggil salah seorang dari mereka
“Rei”
Salah seorang dari mereka menoleh ke arah ku, beberapa saat pria itu terdiam ingin mengingat
“Lupa dengan ku Rei, aku Lusi”
“hei Lusi”
Sesaat kami berjabat tangan dan tertawa bersama, kemudian aku ikut gabung makan dengan teman-teman Rei, aku juga diperkenalkan dengan teman-teman kantornya.
Beberapa kali kami sudah jalan, tetapi aku belum tahu apakah Rei sudah berkeluarga atau belum, terus kami nikmati setiap pertemuan.
Suatu kali kami bertemu di café dekat kantor,tanpa sengaja ada seorang anak mendekati Rei dan memanggilnya dengan sebutan papa, kemudian disusul seorang wanita separuh baya. Rei menyambut anak itu dengan sayang sekali. Aku sedikit resah apakah ini jawannya Rei sudah menikah. Sesaaat wanita itu akrab dengan Rei, hampir saja aku tidak dikenalkan dengan wanita itu.
“ Mbak Mulan ini temanku”
“ Lusi”
“Mulan”
“Mbak Mulan masih saudara sepupu, anaknya saking dekat menyapa ku papa”
Sesaat kalimat itu yang kutunggu, terjawablah sudah kegundahanku. Siapa anak kecil dan wanita itu.
Keakraban ku dengan Rei mulai sangat erat, bahkan Rei sudah ku ajak dalam beberapa acara keluarga, sebenarnya aku ingin bertanya siapa pacarnya sekarang, mengapa setiap ajakan ku dia menuruti nya.
Suatu kali aku bertanya dan jawaban Rei hanya senyum dan mengalihkan pada pembicaraan lain. Selalu tak ku temukan jawaban dari Rei. Suatu kali kuuji dengan, memperkenalkan dengan seorang temanku cantik dan terpelajar, tetapi lagi-lagi dia biasa aja, bahkan beberapa hari kami tidak berkomunikasi, tetapi Rei mencari kabar tentang aku. Kalo aku pkir dia suka nanti aku yang ke GR an, tatapi biarlah kubiarkan saja.
Suatu kali kami mengikuti reuni teman-teman SMA, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Rei dengan Boby, kalau Rei sedang pedekate dengan ku, jantung ku serasa mau copot. Ada rasa senang dan penasaran, mengapa Rei tidak menceritakan padaku. Biarlah aku menunggu Rei berkata itu.
Hari ini ada salah satu teman yang menikah, pesta nya dilakukan di tempat terbuka di sebuah taman yang luas. Pastinya aku dan Rei ikut dalam acara tersebut, kami berdua berangkat bersama. Sesampai di sana kami bertemu dengan teman SMA yang jadi primadona di sekolah, Rei kemudian lebih asik berdua dengan Frederika sang primadona, aku kemudian bergeser ke arah teman yang lain, sambil ku lirik Rei, betapa dia asik sekali berbicara dengan Rika. Kunikmati jamuan makan malam sendiri, karena yang lain sudah memiliki pasangan. Rasanya aku merasa sendiri di dunia ini, aku ingin segera pamitan dengan Rosa sang pengantin. Aku ingin segera melangkahkan kaki pulang , kemudian Rei menarik tanganku.
“ Tunggu dulu mau ke mana?”
Sesaat aku mengikuti di sampingnya.
“sori tadi asik ngbobrol dengan Rika”
Aku tetap diam dan berbicara sepatah kata pun
“Tapi aku bukan berarti nyuekin kamu”
Aku tetap diam saja.
“Kamu marah ya, ya sori”
“Ya udah ga pa pa, kamu makan dulu sana”
“OK deh kamu nemenin aku ya”
Beberapa saat suasana normal kembali tanpa mengingat kejadian sebelumnya.
Hari ini merupakan hari ke 100 pertemananku dengan Rei ntah sampai kapan kami akan di posisi seperti ini. Aku melihat kesungguhan Rei, dari mengenal mama, Deri adikku. Aku pun juga mengenal keluarganya. Keluarganya sangat ramah, sudah seringkalai aku diajak bergabung dengan keluarganya, misalnya makan malam dan piknik bersama.
“ Si, ntar malam aku jemput ya”
“Ada acara apa?”
“ Mbak Mulan mau ke Amrik terus kamu dan mamamu juga diundang”
“Oh gitu”
“Siap-siap ya jam 19.00”
Aku mengiyakan percakapan di telepon siang ini dengan Rei.
Malam ini aku diajak Rei untuk makan malam dengan keluarganya.
Sesampai di sana mama dan aku disambut dengan ramah, sewaktu aku menuju toilet, Rei memanggilku.
“kamu penasaran kan dengan status hubungan kita?”
Aku makin bingung apa yang mau dibicarakan Rei
“ya maksudku kamu masih bingungkan dengan hubungan kita?”
“Ah kamu ngaco neh”
“malam ini akan terjawab kok”
Kemudian aku masuk toilet, apa maksud Rei tadi, ke luar dari toilet aku semakin resah.
“jadi maskud kami mengundang Ibu dan Lusi “
“Yaitu menguatkan hubungan Lusi dengan anak kami Rei”
Beberapa saat aku terdiam seperti tersedak makanan.
“memang seperti mengejutkan, tetapi sepertinya waktunya sudah tepat”
“ Bagaimana ibu dan Lusi”
“ Kalau saya mengikuti apa kata Lusi saja bu”
Aku masih diam menunduk, Rei menatapku dengan berharap
“Kalau Lusi sendiri?”
Aku masih diam membisu.
“Jika Lusi ya, malam ini Rei akan memberikan cincin tunangan” Ibunya Rei mengeluarkan dua buah cincin.
Sesaat air mataku menetes, Rei memberikan sehelai tisyu, aku hanya bisa mengangguk. Kemudian Rei menyematkan cincin di jari manis ku, kemudian disusul tepuk tangan keluarga. Ntah malam ini menjadi malam terindah dan malam jawaban dari semua ini.
Langganan:
Komentar (Atom)